Category: Music

  • Playlist 17 Maret: The Dehumanizers / Here’s To You. Band yang bikin gue ngeband

    Playlist 17 Maret: The Dehumanizers / Here’s To You. Band yang bikin gue ngeband

    Gue memasuki remaja ketika zaman Heavy Metal di gandrungi anak kuliah. Dan Thrash Metal menjadi santapan anak sekolah. Menjadi shredder adalah cita-cita sebagian besar kawan gue kala itu. Mau ngeband musti punya skill. Keinginan untuk ngeband pupus sudah. Main instrument cuma alakadarnya. Suara, pas-pasan. Yha sudahlah, tapi tiap minggu gue tetep ke gigs. Cuma jadi penonton. Head banger dan moshing lah sampai pegel. Pulangnya? Naik Metromini.

    Hingga akhirnya pada suatu upacara bendera di sekolah gue (SMA 61 jakarta Timur). Gue mendapat pencerahan dari seorang kawan. Budi Ekafitri. Entah mengapa, dia tiba-tiba mengajak gue ngobrolin musik. Mungkin saat itu UUD 45 sedang di bacakan (kalo bagian ini gue lupa). Lalu dia menepuk pundak gue
    Budek (julukan Budi Ekafitri saat itu): “Jim, lo lagi dengerin apa sekarang?”
    Jimi: “SDI Dek” (sebuah band speed metal/thrash Jerman)
    Budek: Wah udah gak keren dengerin musik metal yang melodius.
    Jimi: “Emang ada gitu, band yang gak pake melody. Enak apa?”
    Budek: “Beh mantep. Lo udah denger The Dehumanizers gak?”
    Jimi: “Buset belom, lo ada? band apaan tuh?
    Budek: “Keren pokoknya, gak pake melody. Tapi tetep kenceng!”
    Jimi: “Pinjem dong!!!”
    Budek: “Tukeran ye. Karena kaset gue VSP (kaset Malaysia, lebih mahal). Tuker pinjem sama dua kaset lo.”
    Jimi: “Yah kaset gue photo copian semua, paling ada SDI sama Testament”
    Budek: “Yha udah itu aja, gak nape”

    Akhirnya setelah upacara kita janjian setelah pulang sekolah. Si Budek pun menepati janjinya untuk meminjamkan gue The Dehumanizers.

    the dehumanizers kaset

    Sebuah kaset keluaran VSP (Valentine Sound Production) Malaysia. Yang sebenernya bajakan. Pada waktu itu kaset resmi Indonesia (bukan bajakan) di bandrol Rp 7000,-. Sedangkan keluaran VSP bisa Rp 14 000,- sampai Rp 20 000,-an.

    the dehumanizers heres to you

    The Dehumanizer / Here’s To You. Artworknya keren. Musik apa sih ini? Di kasetnya ada tulisan Thrash Metal. Tapi kok artworknya gak ada tengkorak apalagi bau darah seperti band Thrash kebanyakan. Lalu tanpa pikir panjang gue setel kaset itu di tape deck Sanyo (gue tau tape gue gembel banget jaman itu, jangan banyak cincong!) di ruang tengah gue. Buseeet.

    Tiba-tiba, sesuatu terjadi…..

    ANJING!!! Musiknya gampang banget! Simpel. Dan vokalisnya terdengar brengsek!!!!!!

    Gue yakin ini bukan Thrash Metal. lalu gue buka sleevenya. Di lagu Here’s To Lou ada penggalan lirik yang berbunyi:
    Lou I’m Mesmerized.Punk Rock. Drugs. Hair. Leather. Shining Armor. Please save me Lou. Please save me.
    Saat itu juga gue punya asumsi sendiri. Pasti musik ini Punk Rock. Musiknya gampang. Liriknya sampah banget. Bertema drugs, berantem di bar, dan males-malesan, hangover nonton TV. Lalu gue ambil tas sekolah gue. Gue tulis besar-besar dengan cat Asturo: PUNK! Setelah itu gue ambil gitar akustik abang gue. Sinting! Gue berhasil ngulik lagu mereka. Yoa, Godmen dari The Dehumanizers adalah lagu pertama yang berhasil gue kulik dari kaset. Lo bayangin! Gue yang main gitarnya caur aja bisa ngulik lagu ini. Bayangkan betapa gampangnya lagu-lagu di album ini.

    Lambat laun gue akhirnya tau kalau warna musik yang di usung The Dehumanizers adalah Crossover. Perkawinan silang Thrash dengan HC/Punk. Dan guepun semakin meninggalkan Thrash. Dan mulai menggilai Punk Rock. Dan mulai menjajal Sex Pistols.

    Akhirnya gue mangajak dua temen sekelas gue untuk membuat band. Dengan modal rekaman dan cover photo copy kaset The Dehumanizers (aslinya udah gue balikin ke Budek) gue mengajak dua kawan gue. Tjahjo (gitar) dan Erik (drum) untuk membuat band. Gue sendiri megang bass sambil vokal. jangan tanya kualitas permainan gue. Fals atas bawah. Tapi gilanya di latihan berikut gue udah bikin lagu sendiri. Seiring berjalannya waktu, wawasan Punk Rock gue bertambah. Akhirnya band pertama gue di SMA ini gue namakan Triple Jerk. Plesetan Circle Jerk. yah namanya juga masih SMA 😛

    Beberapa Tahun Kemudian

    Gue sudah melanglang buana ke belasan band. Sudah lulus kuliah. Dan band gue ke 11, The Upstairs terbilang cukup sukses. Kemajuan dunia komunikasipun makin terasa. MySpace situs jejaringan sosial paling trendy saat itu. Hampir semua orang memiliki account myspace. Sekitar tahun 2007 gue baru saja mulai siaran di Trax FM. Siaran pagi bareng Buluk Superglad dari jam 6-jam 10 siang. Ritual pagi. Bikin teh manis hangat. Opening siaran. Sambil nyetel lagu biasanya gue buka Myspace. Lalu gue buka inbox,…coba gue lihat….gak salah nih. Lalu gue kucek-kucek mata gue. GILA! gue dapet message dari David Ulysses Portnow!!! Anjiiing!!! Lalu gue panggil Buluk.

    Gue: “Luk! Lokit gue dapet message dari siokap!!!”
    Buluk: “Hah? Siapa emang? David Ulysses Portnow? Kayaknya gue tau dah”
    Gue: “”Ini pruducernya The Dehumanizer!!!”
    Buluk: “The Dehumanizerz!!! Ngentooootttt!!!!
    Lalu gue sama Buluk tertawa terbahak-bahak. Dan langsungs joget-joget gembel. Terbayang andaikata messege ini gue terima pas SMA pasti gue langsung pingsan.

    Sayangnya message asli dari David gak bisa gue akses. Gue lupa password Myspace gue. Intinya David Ulysses Portnow browsing semua MySpace yang mencantumkan The Dehumanizers sebagai influence. Lalu mengajak kita untuk ikutan dalam kompilasi tribute to The Dehumanizers. Waaaahhhh tawaran yang menarik. dari tahun 2007. Akhirnya baru tahun 2010 kompilasi itu release. The Upstairs, Antiseptic, Trauma, dan Citizen Useless adalah band Indonesia yang sempat terlibat di kompilasi ini.

    dehumanizers retro as hell

     

    Setelah album ini release, gue agak sedikit geli sih baca judulnya: Retro As Hell!! Yeah gimana yah haha. The Upstairs sukses meremake Sing Thru Me di sana. Dan lucunya band-band Indonesia cukup serius dan terdengar lebih keren dari band-band lain yang ada di kompilasi ini.

    Tapi hubungan gue dengan David Ulysses memang ajaib. Gue sering berkirim message ke dia. Bertukar cerita. Dari cerita David akhirnya gue tau, kalo The Dehumanizers adalah band Seattle. Ketika Thrash Metal di ambang ke jayaannya. Dan Seattle Sound/Grunge belum merebak. Dan band ini pun sebenernya belum pernah bermain di panggung besar sekelas arena. Dan sebagai tanda seriusnya dia mengajak kita ikutan kompilasi. Dia mengirimkan gue 5 cd The Dehumanizer anthology. Sebelum kompliasi di garap. Asu iki friend…rare 😀

     

    dehumanizers antology

    The Dehumanizers / The First 5 years of Drugs Use. Di album ini mereka memixing ulang lagu-lagu lama mereka. Walaupun hasilnya gak se antik versi pertama. Tapi karena CD ini di kirim langsung oleh The Dehumanizers, maka akhirnya album ini menjadi tak ternilai harganya.

    Dari 5 CD yang gue dapat. Satu gue simpan. Satu gue kasih ke Buluk. Satu ke Arian 13 (dengan catatan barter dengan kaset versi VSP), Satu gue kasih Wenz Rawk, dan satunya lagi gue kasih ke Budek. Nah perjalanan ngasih ke Budek inilah yang sangat memorable. Kebetulan tahun 2009 gue bersama The Upstairs dapet job maen di Malaysia. Dan gue denger khabar Budek sudah tinggal dan menikah dengan Gadis sana. Setelah selesai manggung, gue cari Budek dan langsung gue serahin CD ini

    Jimi dan Budi Eka Fitri. Malaysia

     

    Budek (Budi Eka Fitri) hanya tertawa-tawa mendengar cerita gue ketika upacara bendera puluhan tahun silam. Dia sendiri sudah lupa akan momment itu. Apalagi setelah dia mendengar gue mendapat langsung CD ini dari The Dehumanizers, semakin meledaklah tawa dia. Bahkan diapun heran melihat gue akhirnya membuat sebuah band. Sore itu di Malaysia kita banyak bercerita zaman putih abu-abu. Thrash Metal sampai cewe-cewe favorit di sekolah.

    Sampai sekarang walaupun sedikit orang yang tau The Dehumanizers. Gue tetap menganggap mereka sebagai salah satu inspirasi gue. Walaupun semakin gue kenal dengan David Ulysses gue semakin tau betapa kecil dan underatednya mereka. Pandangan gue gak juga berubah.

    Bener Friend. Gara-gara dengerin The Dehumanizers akhirnya gue berani bikin musik sendiri. The Dehumanizers tidak menginfluence gue secara musikal. Tapi pola pikir bermusik. Gue jadi yakin dengan kemampuan gue yang minimal, gue bisa menghasilkan hal yang maksimal.

    The Dehumanizers adalah band yang bikin gue nge band sampai saat ini…bahkan nanti.

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 14 Maret: Dead Vertical / Perang Neraka Bumi. Ngerii….

    Playlist 14 Maret: Dead Vertical / Perang Neraka Bumi. Ngerii….

    Grindcore! Peak musik terkeras yang bisa masuk ke telinga gue. Musik yang lebih cepat dan keras dari ini, ampun! Lewat dulu deh hahaha. Gue sudah menikmati album DV sejak album kedua mereka. Dan untungnya trigger Kick mereka cukup di EQ dengan baik di album ini. Akhirnya gue bisa menikmati keganasan Arya dalam menyiksa drum setnya. Andaikata kick mereka lebih low sedikit lagi, maka keganasan ini bisa bertambah 180 % hahaha. Teori gembel gue berbicara.

    Cukuplah bicara teknis mari nikmati album ini. Album ini menceritakan tentang Perang Dunia 2 (itupun gue tau karena gue membaca notes mereka di Facebook). Kalo elo belum membaca notes mereka, lo akan merasakan scene keganasan perang lewat lirik mereka. Semua lirik berbahasa Indonesia (itulah nilai plusnya). Andaikata mereka menceritakan keganasan perang atau kezaliman lain di Indonesia, gue percaya. Nilai kesadisan album ini pun akan naik hingga 280%. Teori gembel gue kembali berbicara.

    Gagal dan Binasa adalah track yang pertama kali menancap di kepala. Gue suka banget bagian reffnya. Grind klasik. Inti Petaka berikutnya. Dialog di depannya adalah dialog khas anak Jakarta Timur. Tentang plastik kresek hitam. Berisi pipis malaikat. Wah mereka memasukkan unsur yang sangat Indonesia. Sedangkan di track lain mereka sering menyisipkan dialog dari film-film perang Hollywood. Di butuhkan kematangan ide buat mewujudkan itu. Hal mengejutkan lain adalah mereka memasukkan track cover version band idola gue di kala remaja, Terrorizer. After The World Obliteration. Dan Rocket Pemusnah, track favorit berikutnya. Intronya gue yakin akan menggiring serdadu-serdadu hitam mendekati bibir panggung dan menciptakan miniatur Neraka Bumi di depan pentas. Kejam!

    Yang membuat album ini layak di buru adalah covernya yang sadis ternyata hasil torehan tangan Morrg dari Raja Singa! Menurut Oyi (manager mereka), artwork asli cover ini berukuran besar. Gue berharap artwork aslinya di pamerkan pada DV release party April mendatang. Gue akan memakan waktu lama untuk berdiri di depan karya Morrg ini.

    Kalo kata kawan gue Cilung (Bali) album DV ini akan berdampak pegal selangkangan akibat Pogo hahaha. Gue setuju. Garukan gitar Boy dan cabikan bass Bonny intens mengepung Arya yang menyiksa drum setnya. Ngeriii…..

    Hajar Boy!

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Jalan Darat Tour 2012 bersama MORFEM, Jude, The Experience Brothers

    Jalan Darat Tour 2012 bersama MORFEM, Jude, The Experience Brothers

    Jalan Darat Tour 2012 adalah sebuah perjalanan tour musik yang patut di simak di awal tahun ini. Tiga band segar Indonesia yang sedang jadi perbincangan hangat MORFEM, JUDE dan THE EXPERIENCE BROTHERS berkoalisi mengadakan mini concert tour melewati Solo, lalu Semarang, Malang sampai menyeberang ke Bali. Tour ini di jalankan dengan menggunakan bus. Dan semua kejadian selama perjalanan, suasana konser hingga backstagenya di rekam dan akan di rilis dalam format DVD. Dan Video ini nanti akan di abadikan langsung oleh videographer muda progressive Dimas Wisnuwardono. Selain ketiga band tersebut, band-band dari kota setempat juga berartisipasi di setiap konsernya.

    Lalu siapakah ke tiga band segar tersebut? Mengapa mereka bisa menjadi perbincangan hangat di tahun 2012?

    Morfem Indonesia
    Morfem
    Sebuah band yang di gagas Jimi Multhazam (vokal) dan Pandu Fuzztoni (gitar) pada tahun 2009 bersama Freddie A Warnerin (drum) dan Bramasta J sasongko (bass). Telah memiliki dua rilisan. Sebuah album penuh berjudul Indonesia. Dan mini album berjudul unik Seka Ingusmu! Yang di rilis pada tahun 2011.

    Album penuh pertama MORFEM, Indonesia berhasil mencuri perhatian dan di nobatkan sebagai:
    Album Favorit 2011 Versi Jakarta Globe
    Album Terbaik 2011 Versi Trax Magazine
    Album Terbaik 2011 Versi Majalah Rollingstone Indonesia (Peringkat 4)
    Lagu Indonesia Terbaik 2011 / Gadis Suku Pedalaman (Peringkat 3)
    Nominasi Album terbaik 2011 versi Majalah Tempo
    Bahkan salah satu dari 3 video klip mereka yang berjudul Pilih Sidang Atau Berdamai di nobatkan menjadi video klip terbaik (peringkat 1) oleh majalah Rollingstone Indonesia

    Sedangakan mini album mereka Seka Ingusmu! Di rilis secara gratis di dunia maya. Dalam waktu 3 jam. Dan berhasil di download oleh sekitar 5000 fans mereka. Setelah di buka selama 3 jam, link mini album inipun di tutup dan hilang dari dunia maya.

    The Experience Brother
    The Experience Brothers
    Band unik yang hanya beranggotakan dua orang kakak beradik Bram Saladdin dan Daud Sarassin. Walau hanya di suguhi Gitar Vokal dan Drums, tapi kita berasa mendengarkan band utuh bernuansa psychedelia/blues/rock n roll abad modern!

    Mereka telah merilis dua album, di antaranya:
    Summer of Love (2008)
    Eye Contact (2011)
    Dan album ini di nobatkan sebagai Album Terbaik tahun 2011 versi majalah Rollingstone Indonesia (peringkat 5).

    Jude Apapun Itu
    JUDE

    Jude adalah line up Jalan Darat Tour yang bernuansa paling Vintage. Dengan musik catchy bernuansa Pop/Rock ala 60’s dan 70’s. Jude beranggotakan Lukman SW (Drums), Yehezkiel Tambun (Vokal, Gitar), Kaneko Pardede (Keyboards, Vokal), dan Johannes Hutagaol (Gitar, Backing Vokal). Mereka telah merilis album perdana pada tanggal 11 Januari 2011. Berjudul Apapun Itu EP. Setelah menjual album mereka secara hand to hand dan online, kini mereka telah membebaskan kita untuk mendownload mini album perdana mereka di dunia maya.

    TOUR
    Jalan Darat Tour 2012 ini akan di mulai pada tanggal 22 dan berakhir tanggal 28 Februari. Berangkat dari Jakarta dengan bus dan memulai konser pertama di Solo tanggal 24. Di Space cafe. Lalu perjalanan di lanjutkan ke Semarang, dan melaksanakan konser pada tanggal 25 di VIP cafe. Perjalanan di teruskan lalu singgah ke Malang tanggal 26 untuk konser di Bale Barong dan menyeberang ke Bali untuk konser penutup tour pada tanggal 28 Februari di Boshe.

    JALAN DARAT TOUR, THE VIDEO
    Morfem, Jude dan The Experience Brothers memiliki stage act yang unik. Bukan hanya itu. Mereka bahkan memiliki personil berkarakter kuat yang tidak kalah uniknya. Aksi dan Intraksi mereka selama dalam perjalanan tour patut di dokumentasikan. Dan akan menjadi hal yang menarik di tonton dalam format dvd. Untuk hasil yang maksimal Jalan Darat Tour mengundang videographer muda yang aktif membuat video musik hingga iklan, Dimas Wisnuwardana. Dan gaya pengambilan gambar video dari Dimas terbilang Cutting Edge, cocok di sandingkan dengan karakter Morfem, Jude dan The Experience Brothers. Selain dalam format Video. Tour ini juga di abadikan oleh Photographer muda Agung Hartamurti Wirawan. Yang lebih di kenal dengan Irockumentary.

    Format tiga band ini pernah di uji coba di dua gigs di Jakarta. Dan sempat di tayang dalam acara musik TV bernuansa cuttingedge Jakmusik di Jak TV. Dan hasilnyapun luar biasa. Dengan di prakarsai oleh East Conspiracy, sebuah organizer underground dari Timur Jakarta. Trio band antik ini di bawa keliling Jawa dan Bali. Untuk menyebarluaskan khabar tentang musik Indonesia yang berbeda.

    Akhir kata, mari kita hadiri konser Jalan Darat Tour di setiap kotanya. Jadilah bagian dari keseruan suasanya yang di abadikan dalam DVD. Dan yang terpenting, jadilah saksi bagi babak baru musik Indonesiaa

  • Family Tree Live: MORFEM, Sentimental Moods, Indische Party, Visco, Bite

    Family Tree Live: MORFEM, Sentimental Moods, Indische Party, Visco, Bite

    Family Tree, sebuah Gigs Gratis yang menampilkan Morfem, Sentimental Moods, Indische Party, Visco dan Bite. Di adakan di Marley Cafe. Energy Building lantai 2. SCBD Area. Jl Sudirman kav 52 53 Jakarta Pusat. Hari Jumat, tanggal 17 Februari 2012. Yang menarik dari gigs ini adalah tiap band yang tampil di motori oleh personil dan mantan personil The Upstairs. Family Tree live!

    Pada gigs ini kita akan menyaksikan sisi lain, bahkan bisa di bilang roots musik tiap personil dan mantan personil The Upstairs. Dari jenis musik yang beragam. Kemasan yang berbeda. Dan pesan yang beragam.

    Sekilas tentang line up yang akan tampil tanggal 17 Februari nanti:

    Morfem Indonesia

    MORFEM
    Band yang di motori 2 orang personil The Upstairs. Jimi Multhazam (vokal) dan Pandu Fuzztoni (Gitar). Berbeda dari musik The Upstairs yang Synthetis dan cenderung Electronics, Morfem justru menampilkan kesederhanaan komposisi. Gitar, Bass, Drum dan suara yang Raw. Menampilkan sisi lain Jimi dan Pandu akan selera Punk Rock dan Popnya, yang di kemas dalam nuansa gitar Fuzzy. Morfem telah merilis satu album perdana, Indonesia. Dan sebuah ep, Seka Ingusmu!

    Sentimental Moods

    SENTIMENTAL MOODS
    Band yang di motori Beni Adhiantoro ( Drummer The Upstairs ), menampilkan roots musik yang di dalaminya sejak remaja. SKA. Sentimental Moods mengemas musik dansa tradisonal Ska, dalam komposisi instrumental. Sebuah mimpi yang sedang di bangun Beni dalam Sentimental Moods adalah membentuk sebuah Orkestrasi SKA yang megah. Saat ini Sentimental Moods sedang menyelesaikan album perdana mereka.

    Indische Party

    INDISCHE PARTY
    Band ini yang di motori gitaris The Upstairs, Andre Idris. Berazaskan buta Beatles dan penganut Rolling Stones estetik. Indische Party mengemas musik selayaknya remaja 60an memainkan musik Rock N Roll. Dengan pemain drum wanita membuat warna Indische Party semakin memanaskan lantai dansa di pestamu. Sampai saat ini Indische Party masih menyelesaikan album perdana mereka, Yang di rekam secara Live. Untuk mendapatkan nuansa klasik Rock N Roll di komposisinya

    Bite

    BITE
    Sebuah band yang di bangun oleh mantan backing vokal The Upstairs, Rebecca Theodora. Kini Bite di perkuat pula oleh mantan keyboardis pertama The Upstairs, Hans Sabaruddin. Kali ini Hans menampilkan kepiawaiannya bergitar. Dengan sound Crunchnya yang khas. Bite telah merilis satu album perdana.Bernuansa Alternative Rock dengan lirik yang tajam ala Rebecca Theodora. Dimana pada album itu kita tidak hanya mendengarkan suara ciamik Rebecca. Tapi juga menikmati komunikasi visual Rebecca dalam artworknya yang eksentrik.

    Visco

    VISCO
    Band yang di bentuk oleh Krishna Sukarya sebelum bergabung dengan The Upstairs. Namun karena kesibukan personil-personilnya band inipun bertransformasi menjadi proyek solo. Sejak 2011 Visco telah menjadi Krishna Sukarya dengan beragam piranti keyboardsnya. Dari semua proyek line Up Family Tree, Visco memiliki nuansa musik yang masih berkaitan dengan The Upstairs. Dengan mengambil basic New Romantic 80an dan Glam Rock 70an, Krishna merekam beberapa materi album awalnya bersama Visco, di tambah beberapa materi baru yang tidak kalah modern.

    Selain di perkuat oleh para The Upstairs Family Tree. Acara ini juga di panaskan oleh sebuah band pembuka yang masih muda belia: Oldboy Melody. Yang mana para personilnya merupakan fans fanatik The Upstairs, yang sering di sebut dengan nama Modern Darlings.

    Sampai Jumpa tanggal 17 Februari 2012 di FAMILY TREE live. Di Marley Cafe. Energy Building lantai 2. SCBD Area. Jl Sudirman kav 52 53 Jakarta Pusat. Ingat acara ini gratis. Mari datang dan bersenang-senang 🙂

    Sampai jumpa di Pentas

  • Morfem Di Angkasa

    Morfem Di Angkasa

    Melambung sekali judul ini yha. Thanks to Agung Hartamurti Wirawan. Judul ini gue mbil dari subject email dia ke gue. Sebenernya gue mau menceritakan pengalaman mangung di SMA Angkasa 2. Sabtu kemarin. Tanggal 28 Januari 2011. Pentas ini sangat spesial untuk Morfem. Terutama Gue dan Pandu Fuzztoni. Untuk gue, ini merupakan pentas gue ke dua di SMA Angkasa 2. Dan buat Pandu dia main di almamaternya. Sebagai alumni yang diundang menjadi Juri Musik pada kejuaran musik di sana. Dan tampil sebagai bintang tamu pada puncak acara. Jackpot untuk Pandu Fuzztoni 🙂

    Dan ceritapun bergulir:

    The Upstairs live at SMA Angkasa 2 2005
    2005. The Upstairs manggung di SMA Angkasa 2. Gue setuju, photo ini bukanlah photo yang bagus. Tapi Photo ini cukup bersejarah. Perhatikan penontonnya, cowok kurus memegang kamera video dan berjaket hitam. Benar yang matanya menatap kamera. Dia adalah Pandu Fathoni. Murid SMA Angkasa 2 kelas 3. Penonton The Upstairs.

    lalu enam tahun kemudian…

    morfem live at sma angkasa 2. 28 januari 2012
    Anak itu sudah berada di atas panggung bersama gue. Kini nama bekennya Pandu Fuzztoni. Julukan yang di berikan oleh Henry Foundation dari Goodnight Electric ketika dia berulang tahun di tahun silam. Dan kita berdua membangun sebuah band berhaluan Fuzztone/Punk/Rock/Pop bernama Morfem.

    morfem live at sma angkasa 2. 28 januari 2012
    Dan kini kita berpose bersama Bramasta Juan sasongko dan Freddie Alexander Warnerrin di dalam kelas tempat dulu Pandu belajar. Sedaff!

    morfem live at sma angkasa 2. 28 januari 2012
    Lalu kita beraksi di atas pentas. Di depan adik kelas Pandu dan tentunya mantan guru-gurunya yang duduk di tempat khusus. Hahahaha..

    morfem live at sma angkasa 2. 28 januari 2012
    Sayangnya cuaca gak memunkinkan. Di uncak penampilan Morfem hujan turun.

    morfem live at sma angkasa 2. 28 januari 2012
    Tapi sepertinya Pandu Fuzztoni tak perduli!

    morfem live at sma angkasa 2. 28 januari 2012
    Dan beberapa anak Angkasa memutuskan tetap di lapangan. Menarikan tarian hujan diiringi lagu Gadis Suku Pedalaman.

    morfem live at sma angkasa 2. 28 januari 2012
    Sebagai juri festival musik dan guest star di pensi Angkasa 2. Pandu Fuzztoni melegalisir gitar milik peserta festival di sana. Sebagai gitaris mereka memiliki skill yang mumpuni. Dan sekarang mereka sudah “Sah” menjadi gitaris setelah di bubuhi Pandu Fuzztoni di kapaknya 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise go to SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Photo 1 by: Ay Aria
    Photo 2-6 by: Agung Hartamurti Wirawan of Irockumentary
    Photo 7 by: Pandu Fuzztoni
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 14 Januari : Black Flag / Damaged. CD yang di barter dengan lukisan di tahun 1998

    Playlist 14 Januari : Black Flag / Damaged. CD yang di barter dengan lukisan di tahun 1998

    Lukisan Pertama gue di beli dengan CD

    Betul. Hal inilah yang membuat CD butut ini sangat memorable dengan gue. Selain secara album juga keren. Cara mendapatkan CD inipun terbilang nyentrik. Sekitar tahun 1998, kawan gue tertarik dengan lukisan absurd gue. Dia berniat membeli lukisan gue, wow…pengalaman pertama nih. Tapi dia mengaku nggak punya uang. Lalu mengeluarkan CD Black Flag / Damaged.
    “Gue beli pake ini aja yha” ujarnya.
    “Sini” tanpa berfikir panjang langsung gue sikat CD itu.
    Kawan gue pun akhirnya menggotong lukisan gue ke mobilnya dan pergi menghilang.

    Kawan gue tersebut bernama Gerry. Salah satu personil Duo Hip Hop Ol’School “Boys Got No Brain” bersama Rullyonzo. Dan sempat punya single di kompilasi Pesta Rap. yang cukup tersohor pada zamannya. Volume berapa gak ngerti gue tapinya.

    Sedangkan lukisan gue. Bukan lukisan yang bagus. Bisa di bilang lebih absurd dari Abstrak. Mungkin karena gue baru saja datang ke pameran Otto Dix di gallery Cipta, Tim, Cikini. Hingga sedikit terpengaruh (maklum masih remaja labil). Atau gue memang sedang malas melukis. Sayang, gue gak terfikir untuk memotret lukisan ini pada waktu itu. Maklum zaman itu Kamera masih belum digital. Dan menjadi barang yang mewah buat mahasiswa seni kere seperti gue.

    Black Flag / Damaged

    Dua tahun kemudian, tahun 2000. Perekonomian gue mulai membaik. Lulus kuliah. Meninggalkan kebiasaan ngegembel di kampus. Mulai mampu ngekost. Dan mulai membeli player DVD China. Dan CD ini baru benar-benar bisa gue nikmati. Selama tahun 1998 hingga 1999 gue cuma merekam cd ini ke kaset, dan gue puter di tape butut gue.

    Album yang keren. Dengan TV Party sebagai single favorit gue. Rise Above. Spray Paint The Wall, Six Pack, What I See, Thirsty And Misreable, Damaged II, gitar yang Fuzzy, sedikit eksperimental di sana sini, dan aaahhh gue kalo menilai Black Flag suka subyektif. Selalu ada sisi positif yang membuat gue menilai Black Flag itu keren. kalo pengen tau lebih jauh tentang album ini klik aja di sini. Tapi secara artwork, album ini cukup jelek. Karena nggak memakai artwork khas Raymond Pettibon seperti ep-ep mereka yang lain.

    Malam ini, 14 Januari 2012, gue sedang memutar CD ini kembali di mini hifi gue. Dan momment transaksi keren di studio lukis IKJ tahun 1998 pun kembali tergambar di kepala gue.

    Ada-ada saja

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 13 Januari: Simple Minds / Celebration. 11 tahun menyandang predikat SALE

    Playlist 13 Januari: Simple Minds / Celebration. 11 tahun menyandang predikat SALE

    1985:
    Gue pertama tau Simple Minds, waktu masih SD. Singlenya Don’t You (Forget About Me) terdapat dalam album kompilasi kaset Hot 1000. Bersama lagu We Are The World. Dan lagu ini termasuk favorit jaman gue kecil.

    2000:
    Gue udah lulus kuliah. Lagi ada discount gede-gedean di toko CD Duta Suara jalan Sabang. Seperti cewe-cewe yang kalap mendengar midnight sale, gue pun langsung bergegas ke sana. Dan gue melihat bundle CD Simple Minds. Celebration dan Empires And Dance. Dengan harga ekonomis RP 50. 000,-. Gue sikat! Dengan pengetahuan gue sebatas Don’t You (Forget About Me).

    Sesampainya di rumah, gue puter album ini. Wow gak mengecewakan buat barang discount. Nuansa Post Punk / New Wave seketika menyeruak. Memadu padankan Roxy Music, Kraftwerk, Punk Rock dan vokal agak-agak Bono U2.
    Bisa lo check singlenya Chelsea Girl, Live In the Day, I Travel, Changeling dan Thirty Frames A Second. Keren.

    Ternyata album ini adalah kompilasi dari 3 album mereka sebelumnya. Life In A Day, Real To Real Cacophony, dan Empires and Dance. Gue merasa mendapatkan harta karun waktu itu.

    2012
    Gue sedang mencari hadiah ulang tahun untuk istri gue tercinta. Lalu tiba-tiba gue punya ide untuk membelikan dia CD favoritnya ketika remaja. Lalu gue pergi ke DS. Toko CD di jalan Sabang. Jakarta Pusat. Ketika gue sedang menyapu pandangan pada deretan CD di sana. Tiba-tiba mata gue berhenti ke pada sebuah album yang sangat familiar. SIMPLE MINDS, CELEBRATION. Gila!!! Sudah 11 tahun berlalu, CD ini masih ditempel sticker SALE! Dengan harga yang sama.

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 12 Januari : Deee Lite / World Clique. New Romantic telah mati, selamat datang di 90an

    Playlist 12 Januari : Deee Lite / World Clique. New Romantic telah mati, selamat datang di 90an

    Ketukan bunyi drumnya menandakan pergantian era. New Romantics telah mati, selamat datang di tahun sembilan puluhan. Inilah New York Dance Culture. Lady Miss Kier vokalisnya, hadir dalam kemasan twiggy 60an dengan back ground kolase grafis 90an. Dengan suara bak Diva, menginstruksikan kita bergoyang. Duo DJ geblek (Dimitri dan Towa Tei) di belakangnya melakukan gerakan tari yang absurd.

    “Groove is in the heart” memang hit yang tak terkalahkan. Tapi gak ada salahnya kita coba track lain. “Try On Me…I’m Very You” asik juga. Atau “What Is Love?” sisa sisa kejayaan 80an masih terasa di sana. Atau “Good Beat?” silahkan di pilih. Yang pasti album ini selalu di cela kawan-kawan Metal Head gue yang sedang demam Sepultura dan Kreator pada masa itu. Masabodo! Gue menyetel album ini diam-diam, sebelum hang out dengan kawan-kawan gue yang sebagian besar Thrasher. Hahaha…

    Drums yang enak tandanya enak untuk berdansa :p

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Kaset Pertama Yang Menggugah Gairah

    Kaset Pertama Yang Menggugah Gairah

    Malam ini, 10 Januari 2012. Pukul 23:20. 4o menit sebelum ulang tahun gue. Gue berniat mengenang kembali musik pertama yang bener-bener membuat gue terpukau. Kesengsem. Tergila-gila. Dan hingga akhirnya gue nekat bermain musik sampai hari ini. Padahal gue bukanlah orang yang di karuniai bakat yang besar dalam memainkan instrument bahkan bernyanyi. Tapi gairah bermusik gue melebihi bakat Seni Rupa yang lebih gue kuasai. Ajaib. Gue bener-bener sudah membuktikan teori tentang tetek bengek Passion aka Gairah. Inilah yang membuat gue tetap ngotot berkarya di musik. Gairah yang menggebu.

    Sejak bayi gue jika rewel, ibu gue akan menyetel kaset Titiek Puspa miliknya. Gue lupa judul albumnya. Yang masih gue ingat adalah cover depannya. Titiek Puspa menari di lapangan hijau yang luas dengan baju merahnya. kalau tidak salah dengan selendang kuning pula. Kadang gue berkelakar: “Mama kenapa gak nyetelin Led Zepelin sih, atau Rolling Stones kek”. Hahaha. Ternyata kaset itu di pilih secara random. Dan Titiek Puspa yang paling sukses membuat Jimi kecil terlelap.

    Namun Musik yang pertama kali membuat gairah gue melonjak adalah….

    Kaset Pertama Jimi Multhazam

    Sebuah kaset kompilasi keluaran King’s Records. Berjudul Big Ten. Pada zaman itu semua kaset adalah bajakan. Bahkan kaset ini dengan seenak jidat mengambil logo Billboard chart dan menamakan kompilasi ini Billoard Rock Collection / Big Ten.

    Kaset ini di bawa pulang abang ketiga gue, Gane Fetrizal. Abang yang paling gue banggakan. Karena doi keren. Ganteng dan banyak kawannya. Dan yang paling gue ingat dia pandai merakit sepeda. Dari nol sampai keren. Doi sudah masuk SMA pada waktu itu. Sedangkan gue masih kelas 3 SD. Suatu hari dia pulang pagi. Habis nongkrong dan memberikan kaset pinjaman ini ke gue. Dia langsung menyetel De Doo Doo De Da Da dari The Police buat gue. Lagu yang sangat hits pada waktu itu.

    Uniknya gue hanya akan memutar lagu De Doo Doo De Da Da saja. Ketika lagu habis. Gue akan balik kaset ini. Dan otomatis side A dari kaset ini adalah track Roxane. Yeah, cinta pertama gue pada musik adalah The Police.

    Begitulah selama berbuklan-bulan gue hanya mendengarkan kaset ini saja. Dan dua track itu saja. Lama kelaman mungkin jenuh juga kuping gue. Akhirnya baru gue mulai mengeksplore lagu-lagu lain dalam kompilasi ini. Dan yang menarik minat gue adalah Queen / Bohemian Rapsody. Dari pertama gue dapat kompilasi ini, gue langsung benci Toto. Entah kenapa. Sampai sekarang pun, gue gak paham Toto. Bahkan bisa di bilang alergi hahaha. Padahal banyak sekali lagu di album ini. Tapi gak menarik minat gue. Men At Work / Down Under sempat gue lirik. Walaupun masih jengah di kuping pada saat itu.

    Akhirnya ketika dewasa gue dapat menganalisa kenapa gue bisa memilih hanya The Police di kompilasi ini. Yoi, warna Punk yang ada dalam The Police jawabnya. Sejak kecil gue gak berminat terhadap progresi rumit. Hahahaha. Itulah mengapa Toto membuat gue sebal setiap memutar kaset ini.

    Inilah track lengkap kompilasi ini

    Side A
    1. Rosanna / Toto
    2. Hard To Say I’m Sorry / Chicago
    3. Always Somewhere / Scorpions
    4. Bohemian Rhapsody / Queen
    5. Free Me / Uriah Heep
    6. Roxanne / The Police
    7 Waiting For Your Love / Toto

    Side B
    1. The Final Cut / Pink Floyd
    2. Life Is Real / Queen
    3. Love Hurts / Nazareth
    4. De Do Do Do De Da Da Da / The Police
    5. Down Under / Men At Work
    6. Soldier Of Fortune
    7. When The Smoke Is Going Down / Scorpions
    8. Affraid Of Love / Toto

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Album Terbaik 2011 versi GUE pribadi

    Album Terbaik 2011 versi GUE pribadi

    Deretan ini adalah album keren rilisan tahun 2011 yang mengena di selera pribadi gue. Urutan dalam tulisan ini bukan berarti rating. Urutannya pun tercampur-aduk antara band lokal dan internasional. Semuanya sama rata. Walaupun banyak rilisan Indonesia yg keren. Tapi gue hanya mencantumkan album berbahasa Indonesia. Karena lirik Indonesia langsung mendapatkan 20 persen tempat di hati gue. Setelah di setel, bisa jadi makin padat hingga 100 persen. Coba di tengok friend. Siapa tau selera kita selaras. Selamat menikmati.

    rajasinga rajagnaruk

    Rajasinga / Rajagnaruk
    Kurang Ajar! album ini keren banget! Sebenarnya gue sudah jarang mendengarkan Grindcore. Terrorizer / World Downfall adalah album kencang terakhir yang gue hafal. Tapi setelah mendengarkan album ini, gairah grinding gue sempat terpicu hahaha. Thanks buat kawan gue Agil yang sudah menghadiahkan CD keren ini. Track “Dilarang Berbisa” adalah track favorit pertama gue. Cinta putaran pertama hahaha. Hey lirik mereka bagus. Bisa di bilang inilah contoh lirik paling ngehe dan keren di kalangan musik Grinding. Kalo ada yang bilang musik Grind gak cocok pake bahasa indonesia, suruh dengerin album ini. Kita buktikan mereka salah.

    Banyak quotes menarik yang bisa di petik dari lagu-lagu mereka.
    Anak Haram Ibu Kota:
    Besar dengan liar. Terdidik oleh caci. Terasah oleh maki. Menyambut Terang dengan Perang. Menggiring gelap dengan harap.
    99%THC 1% Skill:
    Kamar kami kecil. Dunia kami luas. Kami kurang ajar. Tapi terus belajar. Kami memang seram. Tapi Tidak Suram. Kami memang susah. Tapi tidak payah.
    Singa Lapar:
    Dari sebuah kumpulan liar. Yang tak tenang di belantara kawanan. Kami datang mengisi kehidupan. Di parak siang kakunya malam

    whuih, bisa -bisa gue copy semua lirik album ini. kalo di lihat dari struktur liriknya yang berpantun. Gue curiga yang nulis pasti berdarah Minang 🙂

    life sux

    Wavves / Lives Sux
    Akhirnya rilis juga mini album ini. Jangan terkecoh dengan cover mereka friend. Mereka tidak sekejam itu. Mereka hanyalah pemuda tanggung yang bermain three chord anthem dan bersenang-senang. Gue udah menduga kalo ep ini keren setelah dia menggratiskan lagu I Wanna Meet Dave Grohl di web pribadinya beberapa bulan lalu. Jika elo suka sound Fuzzy, chord-chord santai buat stage diving, indie rock, noise rock, lo-fi, atau apapun namanya. Maka album dari band San Diego, California ini adalah pilihan yang tepat. Selain I wanna Meet dave Grohl, cek juga lagu Nodding Off. Lo akan merasakan kolaburasi dengan Best Coast di refrainnya. Atau kolaburasi dengan band Hardcore Fucked Up di lagu Destroy. Lagu mereka yang berjudul Bug juga keren. Selain album ini album mereka sebelumnya, King Of The Beach juga patut di simak. Pokoknya kalo elo keranjingan Progressive Rock dan The Beatles, sebaiknya lupakan album ini. Mari kita berpesta kawan-kawan wuuuhuuuu!!!

    the errant charm

    Vetiver / Errant Charm
    Gue pertama kali mendengar single Vetiver di tempat yang sama sekali gak musikal. Yoi, gue lagi mampir di sebuah toko arloji di daerah Senayan, dan operator tokonya kebetulan sedang memutar lagu yang keren. Wah seleranya kena nih sama gue. Akhirnya gue menayakan judul lagu dan artistnya kepada pramuniaga yang jaga. Gak gue sangka, eh dia malah membawakan ipod operatornya. Seketika toko arloji itupun sunyi senyap. Gue jadi gak enak hati sebenernya. Tapi cuek lah. Setelah gue lihat di Ipodnya ternyata naman penyanyi ini Vetiver. Judul lagunya Wonder Why. Dari album Errant Charm. Buru-buru gue catet di notes gue. dan gue cari albumnya.

    Setelah mendapatkan full albumnya, gue makin kesengsem sama karya mereka. Ternyata mereka berasal dari Greensboro, Carolina Utara, Amerika. Dan album ini di rilis oleh Sub Pop records. Selain Wonder Why, Ride-Ride Ride adalah nomer favorit gue. Warna musiknya Folk dengan sentuhan sedikit T-rex dan Velvet Underground di dua lagu tadi. Sisanya, album ini berisi nomor-nomor kalem. Kadang-kadang agak terdengar nuansa Smashing Pumpkins di nomor slownya. Cukup menyenangkan 🙂

    share the joy

    Vivian Girls / Share The Joy
    Band cewe ini punya racikan image yang paten. Vintage Teenage Girls, Tattoos, Rock Music. Pas buat fantasi pria-pria remaja yang beranjak dewasa. Share The Joy adalah album Viavian dengan sound paling keren sejak debutnya. Kalo secara racikan bunyi Vivian masih bermain di olah vokal ala pop group 60an semisal Shangri-las. Musik Pop dengan skill Punk. Lalu di rekam dengan formula Lo-fi. Noise gitarnyapun sekarang sudah tidak sepekak album sebelumnya. hal itulah yang membuat album ini lebih keren. Kalo lo belum pernah denger Vivian coba cari video mereka I Heard You Say. Lalu coba juga Take It As It Comes, dialog telephonenya ngehe hahaha. Tema-tema lagunya memang seputar topik perbincangan cewe remaja. Gak perlu tampak berusaha keras menjadi liar seperti Khe$a.

    sinting

    Aliensick / Sinting
    Album Rock Indonesia yang menghanyutkan. Band dari Jakarta ini memiliki bahan dasar Alternative Rock/Grunge/sound 90an lainnya album ini di kemas ke dalam sound yang lebih modern. Penggarapan artworknya dengan tinta China, itu sudah pasti selaras dengan selera gue. Dan produksinya cukup keren. Nuansanya berbeda di tiap track. Liriknyapun keren, bahkan sering memaksa kita ikut bersenandung ketika memutar cdnya. Yoi mereka punya formula cathy dalam meramu lagunya. Layak koleksi lah. Ketika elo mendapatkan CD ini, gue sarankan langsung putar track favorit gue Nihil. Oke, sudah? coba ulang sekali lagi. Lo bayangin lo berada di depan panggung ketika mereka sedang mentas. Nikmati naiknya emosi ke tahap refrainnya.Beeeh sedaaaaff. Track ini benar-benar favorit gue. Lalu coba juga pindah track ke Teri Kampung, kali ini lebih keras! Bawaannya mau stage diving hahaha. Sudah? coba pindah ke track Sinting. Agak down tempo sejenak. Lalu masuk ke lagu sentimenti (sentimentil?) berjudul singkat…P. ternyata mereka sering memberi kejutan di makna lagunya. baca selengkapnya tentang album ini di sini.

    lesson 1

    Sir Dandy / Lesson #1
    Belajar gitar, bikin lagu, langsung rekaman! Teknik yang genius. Sir Dandy, seniman (bisa juga di sebut desainer, pedagagang atau musisi) Bandung, bisa di kategorikan sebagai apa saja. Bisa di sebut musisi Folk. Musisi berpredikat singer song writer atau bahkan musisi komedian. Terserah. Lagu favorit gue di album ini Sekdrag dan Ode to Antruefunk part 2. Kalau lagu Juara Dunia sudah pasti favorit masyarakat luas. baca tulisan lengkap gue tentang Sir Dandy, klik di sokin 🙂

    gimme some

    Peter Bjorn And John / Gimme Some
    Hampir saja band ini menyandang predikat One Hit Wonder, kalo tidak merilis album ini. Tepuk tangan dulu dong buat Per Sunding atas tangan dinginnya memproduseri band yang di dirikan di Stockholm, Swedia, tahun 1999 ini. Album ini terdengar busuk dan middle di tangan doi. Hal inilah yang membuat album ini antik. Kalo soal materi lagu PBJ, sudah pasti keren. Apalagi ada nomor yg terdengar klasik Punk di kuping gue seperti Black Book, Lies dan Breaker Breaker. Tapi sebelum gue kesengsem abis dengan album ini, pertama gue sedikit kaget denger intro Second Chance ketika bersiaran sore di Trax FM. Intronya bersuasana 2112 Rush. Gue pikir lagu ini merupakan single dari band Progressive revivalist. Ternyata ketika masuk drum, lagunya berubah menjadi centil. Ayiaiy ayiay. Gue suka banget album ini. Jangan lupa nomor Dig A little Deeper, dan May Seem Macabre. Kalo boleh sedikit sok tau, dua nomor ini cocok menjadi single mereka berikut. I Know You Don’t Love Me akhirnya menjadi nomor yang pas buat penutup album keren ini ☺

    black lips

    Black Lips / Arabian Night
    Seperti gue tulis sebelumnya. Album ini keren dan mudah di terima. Maka dengarkanlah sebelum album ini menjadi Hipster Rock hahaha. Kalo selera lo Punk Rock Classic/ 60’s Garage/ Psychedellic Purba/ The Rollingstones maka album ini adalah soundtrack yang tepat buat hidup lo. Black Lips di dirikan tahun1999 di Dunwoody, Georgia, Amerika Serikat. Album ini produseri oleh Mark Ronson, produser Inggris cap playboy favorit gue dan Lockett Pundt di beberapa lagu. Gue pertama mendengar single pertama mereka Modern Art ketika siaran (Terimakasih buat Sandra yang sudah memasukkannya ke Chart 2020 Trax). Kontan gue mencari albumnya. Ternyata di album ini Mark Ronson berhasil menyulap pemuda-pemuda pemabuk ini menjadi idola-idola mereka di tiap track yang berbeda. Ronson berhasil menyulap Black Lips menjadi Ramones di nomor Raw Meat, lengkap dengan tepuk tangan ala Blitzkrieg Bop dan sound dengan kebusukan serupa. Menjadi The Seeds di nomor Noc-A-Homa. Agak-agak The Troggs di nomor Spidey’s Curse. Lalu jadi agak Stones di nomor Dumpster Dive, refrainnya mengingatkan Jagger-Richards di era gondrong 70an. Bahkan om-om di Stones saja sudah meninggalkan gaya ini. Gue jadi membayangkan, andai kata Mark Ronson memproduseri Rolling Stones. Pasti bisa jadi muda lagi tuh mereka. Patut di pertimbangkan tuh Om Jagger hahaha. Tapi kok jadi gak berkarakter gini yah? Alah gak usah di ambil pusing. Yang penting lagu-lagunya keren. Covernya sih butut. Penuh symbol-symbol neraka yang entah memang mereka amini atau sebuah parodi. Jangan-jangan mereka terlibat perjanjian dengan….ah pler lah. Hahahaha…

    belive it or rot

    Berlin Brats / Believe Or Rot (1973-1976)
    Sebenernya album ini di rilis oktober tahun lalu. Tapi cueklah. Gue baru dapet bulan Agustus 2011 soalnya. Dan yang pasti semua lagu di album ini bener-bener gue bangetzz!! Siapa sih sebenernya Berlin Brats? 4 kata buat mereka: Band Yang Kurang Beruntung! Atau bisa jadi: Band Yang Sangat Pemalas. Mungkin kebanyakan teler. Yoa mereka memang korban Rolling Stones. Dan juga penyembah New York Dolls. Di dirikan tahun 73 di Hollywood. Los Angeles. Bisa di bilang merekalah band Punk pertama di LA (menurut Rodney Bingenheimer KROQ). Berlin Brats merasakan pengalaman seperti band Indonesia juga, Pay To Play live Gigs. Merekam satu single Psychotics/Tropically Hot. Lalu bubar. Hahahaha. Lalu vokalis mereka Rick Wilder mendirikan Mau-Maus bersama drummer mereka Rick Sherman. Album ini adalah dokumentasi karya pertama dan terakhir mereka. Tapi hal penting yang musti kita ingat. Lagu mereka berjudul (I’m) Psychotic punya nilai 9. Itu pun dari penilaian gue pribadi. Kalo lo denger lead gitarnya keren banget, jangan heran. Robby Krieger (ex The Doors) yang memainkannya.

    king tuff

    Scion A/V Garage: Hex Dispenser / King Tuff
    Sebuah split album yang keren. Lupakan Hex Dispenser. King Tuffnya lebih keren. Singlenya Hands bisa di download gratis di sini. Coba lo dengerin. Kita seperti di bawa ke era Glam Rock. T-Rex rules! Kerennya KingTuff gak langsung merubah image mereka menjadi Glam Rocker dan berglitter ria. Mereka tetep band klab malam yang gondrong dan bertopi trucker lusuh. Kalo ingin lebih jauh mendengar karakter King Tuff, bisa juga di cari albumnya King Tuff was dead, rilisan Colonel Records 2009. Band gak ngetop bukan berarti jelek. Mereka cuma gak punya team marketing yang genius. Atau mereka memang sudah nyaman dengan kebersahajaannya

    apapun itu

    Jude / Apapun Itu EP
    Di rilis bulan Januari tanggal 11, tepat di ulang tahun gue. Band lokal favorit gue saat ini. Band dengan haluan vintage yang bisa melepaskan diri dari kungkungan The Beatles, Koes Plus, dan Naif. Karena tiga hal itulah yang selalu timbul di band bernuansa jamdul Indonesia. Vokal Jezkul adalah hal yang paling pertama tertangkap keren di telinga gue. Merdu, Pop, sekaligus nyeleneh. Liriknya pun cukup keren. Dengan format CD-R album ini pantas di masukkan ke dalam playlist elo bersama band mancanegara lainnya. Baca selengkapnya dengan klik tulisan ini.

    morfem indonesia

    Morfem / Indonesia
    Sorry neh friend, gout puas banget dengan album ini. jadi harus di cantumkan di list ini. Kerjasama dengan engineer kawakan Yoseph Saryuf dan Wahyu HW menghasilkan sound yang ue impikan selama ini. Kerja sama dengan Pandu Fuzztoni, Bram dan FAW jugamenyenangkan. Karena album ini adalah obat paling emosional buat tusukan-tusukan punggung di gue pribadi. Gak ada album ini, mungkin gue bisa GILA! Dan di album inilah untuk pertama kalinya gue bekerjasama dengan satu musisi yang gak kena Punk Rock sama sekali di dalam hidupnya. Walaupun di imbangi dengan dua bocah nakal yang ketagihan Punk Rock dan bunyi-bunyi eksperimental. Selayaknya album debut. Belum ada pertabrakan selera. dan semuanya di buat dengan semata-mata bersenang-senang. Ringan. Banyak tertawa. Rekam… dan rilis.

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG