Category: Music

  • My Career as a Jerk

    My Career as a Jerk

    Sore pertama di tahun 2013 gue isi dengan menikmati DVD Dokumenter Circle Jerk / My Career as a Jerk. Memang bukan dokumenter yang wah seperti garapan Sam Dunn. Bahkan footage video mereka kalah banyak di banding Seringai dan Superglad. Iyalah. Di era 80an Video belum selumrah sekarang. Dokumenter garapan David Markey (The Year The Punk Broke) ini bisa di bilang cukup datar. Tapi untuk Circle Jerk fans, dokumenter ini cukup bikin penasaran.

    Jatuh bangunnya band ini banyak di ceritakan oleh Keith Morris, Greg Hetson, Lucky Lehrer, Earl Liberty dan Zander Schloss. Dari footage-footage busuk mereka kita bisa melihat Flea (RHCP) dan Chris Poland (Megadeth) yang sempat memperkuat Circle Jerk dalam tour setelah Earl Liberty keluar. Dan mereka juga bukan band yg besar. Gak ada footage mereka bermain di arena besar dan tour panjang keliling dunia keluar dari cerita tiap personil.

    Ada hal yang bisa gue petik dari cerita-cerita mereka. Ternyata sekeras kepala mereka, tetap saja mereka mengambil kesempatan ketika Speed Metal, Nirvana, dan Green Day sedang naik daun. Pengaruh dalam sound hingga fashion terlihat di periode tersebut. Tapi tetep gairah besar Keith Morris dalam musik ini yang membuat Circle Jerk hidup hingga akhirnya dia sendiri yang mematikannya.

    Dokumenter yang cukup menghibur 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click here
    Follow Us on Twitter: @morfem_band
    Morfem Supported by:
    Radix Guitars
    Monochrome Denim
    Morfem 2nd Album Recorded at ALMOS, a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow @Almosstudio
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Rumahsakit 1+2 = Rame Bener

    Rumahsakit 1+2 = Rame Bener

    Awalnya gue denger khabar Rumahsakit rekaman lagi, justru dari penjaga toko CD di Musikplus. Djohan Cash namanya. Masih awal tahun 2012 waktu itu. Katanya akan di rilis Bravo Musik. Kalo mendengar nama rumahsakit di sebut otak gue langsung flasback ke tahun 2000an (kalo lo pengen tahu isi kepala gue tersebut klik saja ini). Gile juga ini berita. Sempet gue kira ngibul itu anak. Ternyata di penghujung tahun 2012 cerita itu terkuak.

    12.12.12
    Gue hadir di perayaan rilisnya album comeback mereka 1+2. Di Ecletic Bar, Cilandak Town Square. Jaksel. Gila itu acara rame bener. Jam 21:00 tiket ludes aka sold out! Dan masih ada puluhan orang yang antri ingin masuk ke dalam gedung. Sampai di dalam CD tinggal sedikit dan Tshirt ludes. Ini pertanda Rumahsakit memang masih di tunggu.

    Setelah minta tanda tangan ke tiap personil, gue ngetekin tempat paling pas buat nonton, di tengah. Lagu pertama di buka dengan Hilang. Terbayang dong ketika roll drumnya masuk suasana berubah jadi seperti apa. Merinding-boy gue. Semua orang singalong. Lalu lagu-lagu berikutnya mereka masih memainkan lagu lama. Loh kok jadi kayak nostalgia? Lalu gue merogoh CD mereka di tas, dan melihat di tracklistnya. Ternyata malam ini bener-bener nostalgia. Mereka merekam ulang 8 lagu lama dan 4 lagu baru. Di tengah-tengah setlist ada lagu yg sangat catchy bernuansa Happy Monday. Kayaknya lagu ini bakal jadi track favorit gue. Lalu gue kembali larut di suasana sampai terakhir melihat Andri Lemes udah di angkat di atas penonton ketika membawakan Pop Kinetik. Sampai malam itu gue rasa bobot badannya gak berubah 1 ons pun.

    Selesai show sudah sulit menemukan mereka. Fans mereka sudah berkerubung menutupi mereka. Setelah kongkow-kongkow dengan wajah-wajah lama. Gue berpamitan pulang. Bersyukur dapet Taxi yang ada player CDnya. Perjalanan Citos Cinere di isi dengan lagu rumahsakit. Dan ketika track ke 3, supir taxi nyeletuk. “Lagu yang ini enak mas”. Wih, tandanya single single Bernyanyi Menunggu bisa di terima segala lapisan masyarakat nih hehe. Awalnya gue sempet mendengar lagu ini di radio gue. Sempet gue tanggapi biasa. Tapi setelah gue lihat video klip buatan Syauqi Tausikal baru penilaian gue berubah. Di situlah letak kehebatan Video, bisa merubah presepsi pendengar Audio. Dan dalam perjalanan baru gue tau judul lagu yg mencuri perhatian gue ternyata berjudul Sirna. Sampai di rumah gue sempet memutar sekali lagi album ini sebelum tidur. Dan memasukkan semua ke MP3 player gue.

    Setelah berhari-hari gue denger. Sirna memang yg paling sering gue puter ulang. Baru berikutnya Bernyanyi Menunggu. Kalo lagu lamanya? Hmmm.. Vanco cukup sukses membawa mereka mendekati versi lamanya. Tapi masalahnya album Nol Derajat itu terlalu akrab detailnya dengan kuping gue. Dosa mereka di Kuning adalah memenggal bagian “masih kucari tetap tak kutemui | palingkanlah wajah manis | tunjukkan eloknya kehangatan pesona” Karena pada kalimat itulah theater of mind gue makin di manjakan. Dan menanjak menuju klimaks di refrainnya. Dan untuk lagu Anomali statusnya sudah gatot lah. Versi lamanya terlalu keren untuk di kejar. Tapi gak bijak kalo elo membandingan versi lama dengan versi remakenya. Gak mungkin persis toh. Kalau gak ada lagu remake mungkin ICU 12.12.12 bisa gak seheboh kemarin. Lagi pula banyak yg sudah kehilangan album-album awal mereka. Bisa di bilang 1+2 adalah album yang pas buat mereka yang rindu lagu-lagu rumahsakit. Dan album yang pas buat generasi yang baru mulai menyelami rumahsakit. Tapi kalo di penulisan lirik. Gue jadi curiga. Jangan-jangan bukan Lemes yang nulis nih. Ah masa bodoh! Selamat datang kembali rumahsakit. Lagu-lagu baru kalian tetap apik nian di telinga gue 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click here
    Follow Us on Twitter: @morfem_band
    Morfem Supported by:
    Radix Guitars
    Monochrome Denim
    Morfem 2nd Album Recorded at ALMOS, a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow @Almosstudio
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 23 Des: rumahsakit / Nol Derajat

    Playlist 23 Des: rumahsakit / Nol Derajat

    Kalo ngomongin album Rumahsakit, Nol Derajat otak gue otomatis berputar ke Hanggar Teras. Pancoran, Jakarta Selatan awal 2000an. Waktu itu gue baru aja bikin band (lagi). Masih bernama Jimi and The Playboys (yg kelak berevolusi jd Cosmic G Spot lalu The Upstairs). Gue ngemis-ngemis tuh ke panitia launching album Nol Derajat (Aria Baja) supaya band gue bisa main jadi opening act. Sudah tentu di tolak mentah-mentah. Dari jaman kuliah Baja emang paling demen nolak band gue manggung di acara yang dia pegang haha. Alesannya tetep. Acaranya sudah Fixed Jim!

    Ternyata beberapa hari sebelum acara di mulai, Indra Ameng (manager Rumahsakit waktu itu, sekarang di WSATCC) menelphone gue. langsung memberi mandat ke gue untuk jadi MC. Wah kesempatan nih (fikir gue). Akhirnya gue memberi syarat. Oke, gue mau jadi MC kalau band gue jadi Opening act. Sepertinya senjata gue berhasil. Ameng berjanji menghubungi gue besoknya.

    Besoknya Aria Baja menghubungi gue.
    Baja: “Jimi, lo bisa main jadi opening act!”
    Gue: “Asoy, thank you Ja…”
    Baja: “Tapi lo main pertama. Setelah soundcheck dan cuma satu lagu!!!”
    Gue: “(Kampret) gak napa, sikat Ja!”

    Rumahsakit kelar soundcheck, dan gue akhirnya naik pentas juga. Satu lagu. Dan yang nonton cuma 7 orang. Dan separuhnya team artisti!!! Hahahahahahahaha….Gue yakin orang yang paling berbahagia saat itu pasti Aria Baja 🙂

    Setelah gue selesai main. Akhirnya tugas mc gue jalani. Sebagai MC gue memperkenalkan Bandempo main. Mereka sampai membawa Cheerleaders segala. Ide ini cukup segar pada jaman itu. Lalu Fable naik pentas. Dan yang di tunggu-tunggu datang: Rumahsakit!!!. Ramai dan meriah sekali suasana kala itu. Saat itu gue larut dengan suasana dan merasa album kedua mereka warnanya berbeda. Tapi lebih mengena ke selera gue pribadi.

    Pulang dari acara itu gue langsung beli kaset mereka. Dan single Kuning, Mati Suri, Manuver Gelombang Pasang, Terbalik, dan Anomali kontan jadi nomor favorit gue.

    Selain emang musiknya udah keren. Produksi album inipun terbilang cukup bagus. Jauh banget dari album pertama mereka. Dan yang pasti gue baru sadar kalo rumahsakit memiliki lirik yang luar biasa. Tema-temanya gak biasa. Kadang dari film animasi, horror, tapi bisa juga di nikmati sebagai lagu cinta yang apatis.

    Berapa penggal lirik Nol Derajat favorit gue:

    Kuning
    namun jarak yang kutempuh, tak membuatku lebih dekat lagi denganmu
    ceritakan padaku indahnya keluh kesahmu
    sebelum angin senja membasuh jauh..
    tetaplah di istanamu, langit yang biru kelabu
    biarlah rinduku kusimpan bersama mimpiku
    bilakah kau ajak ku, bertemu kembali slalu
    kutunggu kuningmu, di setiap waktuku
    (sadis..)

    Anomali
    Bulan purnama dan gerhana sering menampakan dirinya
    Kalau bisa selamanya aku ingin memilikinya
    Ternyata dia gadis yg bermata hitam kelam bersinar
    Dan bersayap Anomali

    Mati Suri
    ku tak merasa-kan kesepian dalam dunia baru
    khayalan menjadi nyata
    takkan terulangi kisah terulang dia
    menarik ragaku keatas surga yang beku
    antara khayalan hidup dan tiada

    Akhirnya album Nol Derajat suskses menjadi soundtrack gue di awal tahun 2000an. Menemani era dekil, kelam dan suram gue. Sebelum tidur selalu di walkman hijau kesayangan gue. Bangun, lalu setel lagi. Berulang terus. Sampai akhirnya gue menemukan jati diri gue 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click here
    Follow Us on Twitter: @morfem_band
    Morfem Supported by:
    Radix Guitars
    Monochrome Denim
    Morfem 2nd Album Recorded at ALMOS, a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow @Almosstudio
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Pegawai Circle K berkaos KEBUNKU

    Pegawai Circle K berkaos KEBUNKU

    Suatu hari, gue mampir ke Circle K. Gue lupa nih di daerah mana. Yang menarik adalah penjaganya sedang tidak memakai seragam. Dia menegenakan Tshirt Kebunku.

    Penasaran gue kenalan juga sama dia.
    Gue: Namanya siapa friend?
    PCK (pegawai Circle K): Danu bang 🙂
    Gue: Kaos lo keren..
    PCK: Yoi nih bang. Peninggalan jaman SMA.
    Gue: SMA lo di mana?
    PCK: SMA 20 Pasar Baru bang
    Gue; Lo dengerin Kebunku gak?
    PCK: yoi dong bang. Punya gue kasetnya (album Lagu Lama). Sering nonton Kebunku manggung juga dulu waktu SMA.

    kebunku

    Keren. Coba gue photo close up. Kalo dari sablonannya, kaos ini pasti produk nyetak sendiri di kampus. Studio Grafmurder (begitu anak-anak Kebunku menyebut studio Grafis IKJ).

    Sebelum gue meninggalkan Circle K, Danu bertanya sama gue.
    Danu: Kebunku masih ada bang?
    Gue: Sepertinya masih 🙂

    Setelah membayar belanjaan gue cabut dan melambaikan tangan kepada Danu dan kawan di sebelahnya.

    logo morfem
    Booking Contact: +6287775893989
    Morfem wears Screamous Stuff & Converse
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Miten dalam Kenangan

    Miten dalam Kenangan

    Siang ini, 22 Juli 2012 gue di kejutkan oleh broadcast message dari beberapa kawan. Perihal wafatnya Miten, ex gitaris Netral. Waah sepertinya baru kemarin Morfem satu panggung dengan dia.

    3 April 2012
    Morfem satu panggung dengan Brutal (feat Miten), sebuah proyek Bagus Netral dengan Bimo (ex Netral). Buat kita sih sama saja bermain dengan Netral di tahun 1995 hehehe….

    Brutal / Netral

    Momment yang gak bisa di sia-siakan. Harus photo bareng. Band muda dan band lawas haha..

    morfem-radio-show-tvone

    Pada malam itu baru saja resmi gue berjabat dan berkenalan dengan Miten. Dan gue sempet di dengarkan oleh Miten demo terbarunya lewat mp3 playernya. Belum ada vokal. Tapi musiknya sangat Speed Metal. Sepertinya inilah aslinya si Miten.

    album netral

    Tapi kalo soal karyanya bersama Netral. Gue cukup mengikuti album mereka sejak pertama. Tiga album pertama Netral adalah yang terbaik. Dan album Tidak Enak adalah favorit gue.

    Netral

    Masih segar di kepala gue pertama kali dengar lagu walah di Radio Prambors. Sekitar pertengahan tahun 1994. Wah shocknya bukan main! Ternyata ada juga yang berani bikin musik seperti ini di Indonesia. Dan bisa di putar di radio pula. Saat itu gue sangka Walah cuma sekedar demo yang di putar di Prambors. Tapi ternyata!!! Tahun 1995 mereka merilis album! dan ada video klipnya pula. Gila!

    Selain vokal Bagus yang fals bukan main. Yang paling gue inget adalah permainan gitarnya si Miten. Asli. Gue yakin dia adalh gitaris type shredder yang jago ngebut di atas fret. Tapi bersama Netral dia bisa memainkan nada yang lebih simple, catchy, dan sudah barang tentu terdengar ngehe! Hal yang sulit di lakukan oleh musisi jago (bermain simple).

    Dan baru Miten yang bisa mengawinkan lead-lead Heavy Metal dengan musik alternative/Punk dengan sukses. Dan lebih tegasnya: Enak!

    27 April 2012
    Morfem dapat tawaran main di acara Offair Radio 99ers di Planet Hollywood. Bersama Brutal (lagi). Artinya kita akan menikmati Netral MK I. Benar dugaan gue. Ternyata Brutal juga memboyong Miten sebagai bintang tamunya.

    brutal

    Walaupun cuma memainkan 2 lagu Netral lawas. Penampilan Miten malam itu cukup membuat gue dan segelintir kawan terpuaskan dan berteriak-teriak ala mahasiswa smester 1 nonton band idolanya

    brutal

    24 Juni 2012
    Gue dapet callingan mendadak dari TV One untuk tampil sebagai bintang tamu Brutal. Widiiih, Brutal main lagi nih di Radioshow! Sikat. Siapa tau nanti bisa nyanyi bareng Netral MK I lagi ye gak hehhe

    Ternyata setalah gue sampai di tempatl atihan, Miten gak ikutan di proyek Radioshow ini. Miten gak bisa di hubungi beberapa hari ini, ujar team manajemen mereka. Tandanya gue bener-bener main dengan Brutal. Walaupun memainkan lagu lawas milik Netral yg berjudul Mampet.

    Malam itu di radioshow kita benar-benar bikin suasana Brucow (kalo kata Arie Dagienkz) aka Brutal Ngacow hahaha

    22 Juli 2012
    Gue mendapat khabar Miten telah tiada. Bbm dari Pandu (gitaris Morfem) cukup singkat: Miten meninggal Jim. Dari Bimo gue dapet Bbm: RIP Miten gitaris ex-Netral semoga arwahnya di terima di sisi Allah SWT.

    Menurut penuturan Bimo, Miten nmenderita kangker Paru-paru. dan terakhir kali Bimo ketemu Miten adalah tanggal 27 April ketika main Planet Hollywood. Sama halnya dengan gue. ternyata hari itu adalah terakhir kalinya gue bersama anak-anak Morfem meneriaki Miten ketika masuk ke lead guitar edannya.

    Singkat sekali perkenalan gue dengan Miten. Gue jadi berfikir. Mungkin ketika Miten sulit di hubungi beberapa minggu lalu dia sedang berjuang melawan kangkernya. Dan demo yang di perdengarkan ke gue bisa jadi karya terakhirnya. Selamat jalan idola. Terlalu naif memang kalo gue mengharapkan Brutal akan menjadi kembalinya Netral MK I.

    Lalu gue nyanyikan….

    “Lihat Gelora Ombak Pecahkan Air Buih-Buih
    Tak Lelah Di Percik
    Putih Putih yang Kilau tarik
    Mata Jiwaku ini”

    Selamat jalan Miten

  • Playlist 21 Juli: Emin, Rocker yang mencicipi Folk

    Playlist 21 Juli: Emin, Rocker yang mencicipi Folk

    Mini album pertama yang gue putar di bulan puasa 2012. Emin…ada yang tau siapa gerangan pria brewok ini? Pasca gelombang besar band keren dari IKJ: White Shoes And The Couples Company, That’s Rockefeller, The Sastro, Karon N Roll…ada satu lagi nama yang perlu kita sebutkan. OLD PAPER. Sebuah band yang bernuansa vintage Rock N Roll 50’s maupun 60’s. Vokalisnya serba bisa. Kadang bernyanyi sambil memainkan keyboards. kadang tampil dengan gitar dan bermain ala Chuck Berry. Berjingkrakan ke kanan dan kekiri mengisi blocking panggung. Dan yang perlu di garis bawahi: setiap bermain goyang kakinya selalu berusaha menghipnotis kita untuk ikut bergerak. Bahkan seorang dosen di IKJ sampai rela menghadiahkan vokalis Old Paper sebuah sepatu jaman baheula favoritnya. Itu semua karena dia terpukau melihat penampilan Old Paper yang menggugah tersebut. Yoi mereka adalah band keren terakhir yang gue tau dari almamater gue tercinta. Dan vokalis Old Paper bernama Ahmad Emin 🙂

    Dalam CD ini gue menikmati sisi lain dari Emin yang flamboyan. Gue sih belum lihat bagaimana kalau dia perform membawakan materi ini. Yang pasti di album solonya ini, dia hanya memainkan gitar akustik sambil meniup harmonica. Teduh nian 🙂

    Mini album ini hanya berisi 3 lagu bernuansa folk dengan lirik puitis. Seolah-olah seperti di hibur Bob Dylan yang bermain gitar sambil bermain Harmonica mengiringi Leo Kristi.

    ada baris lirik yang gue suka:
    “Ku terjebak dalam rumah sendiri. Hanya berfikir tak bisa memilih. Bersandar pada dinding penuh coretan pribadi. Tak ada pilihan tuk beranjak pergi…”

    wow sedap yah, belum selesai sampai di situ my friend, coba kita lanjutkan.

    “Kemanapun ku pergi. Pasti akan kembali. Terbaring tenang dalam rumah Pelangi….”

    Walau terdengar apatis gue seperti terwakili dan pernah dalam situasi serupa. Itu yang membuat gue memilih lagu Rumah Pelangi sebagai favorit.

    Ternyata selain piawai bermain musik Emin juga penulis yang ciamik. Silahkan lo dengar dan nikmati sendiri my friend. Album ini di produseri Rangga Risto engineer muda yang sedang berkembang pesat. Mini album ini layak berada di antara jejeran CD di meja kerja elo. Oiya bahkan Artwork sampulnya pun di garap sendiri oleh Emin.

    Sebelum dapat CDnya bolehlah untuk mencicipi dan mendengarkan dengan khusyuk di soundcloud.com/emin-album

    Enjoy

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click here
    Follow Us on Twitter: @morfem_band
    Morfem Supported by:
    Radix Guitars
    Monochrome Denim
    Morfem 2nd Album Recorded at ALMOS, a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow @Almosstudio
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 18 Juli: Dubyouth Jogjakarta Dancehall King!

    Playlist 18 Juli: Dubyouth Jogjakarta Dancehall King!

    Nama Dubyouth sudah lama jadi perbincangan di Jakarta. Heru Shaggy Dog dengan Memed bikin proyek Reggae Dub Dancehall (atau entah apalagi namanya). Tapi gue belum pernah sekalipun melihat mereka tampil. Setiap kawan pulang dari Jogja, selalu ngomongin Dubyouth. Dan selalu seru. Anjrit jadi penasaran gue.

    Pucuk di cinta ulampun tiba. 18 April 2009 salah satu Bestfriend gue, Henry Foundation aka Batman aka Busuk aka Besmek aka Helica Forfona aka Dashenfo merayakan ulang tahun perkawinannya yang pertama di Jakarta. Pada malam itu yang datang sangat beragam. Sampai musisi-musisi independent datang semua. Dan gilanya White Shoes, Teenage Death Star, The Upstairs dan….DUBYOUTH mentas di sana malam itu. Nah ini dia yang gue tunggu 🙂

    Ketika Dubyouth menutup pesta malam itu lebih dari setengah tamu yang hadir turun melantai di dance hall. Yang bikin gue iri ketika gue turun melantai Sari dan Saleh White Shoes sudah ikut singalong di sebelah gue. Secara mereka rajin pulang pergi Jakarta Jogja, pasti mereka sudah mendapat bocoran materi Dubyouth. Sedangkan gue hanya merespon Beat dan Rappin si Heru. Tanpa harus tau lagunya gue sudah larut dengan keringat dari kostum resepsi yang gue kenakan. Sungguh menghipnotis.

    Malam itu Dubyouth tampil simple. Memed di meja DJ, Heru di vokal dan satu orang pemain Trompet. Tapi efeknya gawat. Sekali denger lagu mereka badan gue gak bisa diam. Sadis iki masbro…

    Tahun 2012 …
    Akhirnya mereka merilis materinya ke dalam format CD. Langsung gue buru…dan yang gue cari adalah 2 lagu yang membuat Sari dan Saleh White Shoes singalong!

    Dan ternyata… lagu itu berjudul Love to C U dance dan Whiskey & Wine. lagu yang sangat catchy. Sekali denger, di jamin nancep iki masse. Gue langsung memutar ulang dua track ini berturut-turut.

    Selain dua lagu tersebut Boyz Don’t Mess (feat Yacko & Nova) dan Bombassu (feat Jogja Hip Hop Foundation) adalah nomor yang sering gue putar ulang.

    Gak sia-sia penasaran sampai 3 tahun, album iki keren masbro-mbasist 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click here
    Follow Us on Twitter: @morfem_band
    Morfem Supported by:
    Radix Guitars
    Monochrome Denim
    Morfem 2nd Album Recorded at ALMOS, a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow @Almosstudio
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Sedikit Mengenang Jon Lord (Deep Purple)

    Sedikit Mengenang Jon Lord (Deep Purple)

    Pagi tadi gue terkejut melihat #hashtag di Twitter, #RIPJonLord. Di tambah lagi beberapa quotes dari beberapa musisi di Blabbermouth.com untuk mengenang beliau membuat gue terharu. Hari kemarinnya 16 Juli 2012, Jon Lord meninggal dunia pada usia 71 tahun. Karena kanker pangkreas yang di deritanya.

    Terus terang Deep Purple sempat punya tempat khusus di hati gue. Biasanya kita akan mendapat influence Classic Rock dari Bokap ataupun abang-abang kita di rumah. Tapi tidak demikian halnya dengan gue. Gue mulai suka Deep Purple karena membaca tulisan di majalah. Ah sepertinya gue masih ingat beberapa momment Deep Purple gue jaman dulu. Mari kita mengenang Jon Lord kawan 🙂

    Bad Attitude/Mitzi Dupree
    Dua lagu pertama Purple yang gue denger. Gue ingat, gue pergi sendiri membeli kaset kompilasi rock. Yang isinya Deep Purple, Chicago, Bad Company, Boston, Foreigner. Waktu itu gue masih SD, tertarik dengan Purple setelah membaca artikel di majalah Hai. Tulisannya cukup bikin adrenalin gue melonjak. Kelihatannya mereka keren sekali. Padahal beberapa tahun kemudian gue baru sadar. Majalah Hai salah memasukkan gambar. Gambar yang di pasang adalah Ritchie Blackmore masih muda dan (yang fatalnya) di halaman berikut malah gambar George Lynch dan Don Dokken dari band Dokken. Pantesan kelihatan sangar hahahha. Padahal di dua lagu ini Deep Purple sudah mulai terlihat senior hahaha. Permainan Lord di intro lagu Bad Attitude sangat megah sekali buat kuping SD gue 🙂

    deep purple machine head

    Kelas 1 SMP
    Kawan-kawan di kelas lagi gandrung Bon Jovi dan Europe. Tapi gue justru mendengarkan Deep Purple. Cukup jadi bahan celaan di kelas. Dianggap ketinggalan zaman. Tapi gue justru bangga. Menurut kuping smp gue, Bon Jovi dan Europe itu sangat lame dan ke cewe-cewean. Setelah gue googling malam ini, tahun 2012. Gue baru tau nama keyboardist kedua band itu. David Bryan dan Mic Michaeli. Ah keyboards mereka mah Bubble Gum style! Jon Lord dong classic dan Raw! Terimakasih Tuhan kau bebaskan aku dari Bon Jovi dan Europe 🙂

    Agung Prabowo
    Anak baru di sekolah gue SMP 51. Dia masuk di kelas dua. Pindahan dari Jatim (kalo gak salah Surabaya). Nerd. Jago matematika. Di rumahnya tapi udah boleh ngerokok setelah makan. Di kamarnya ada kartu bokep.Dan yang paling gue inget sepatunya tertulis…kaki kiri DEEP …kaki kanan PURPLE. Hahaha… friend gout nih.

    deep purple

    Speed King
    Pertama nyetel lagu ini di tape keluarga, beh ngebut banget. Keren nih. Jantan. Serasa denger Heavy Metal. Vokalnya melengking. Tiba tiba abang gue yang pulang kantor mengeryitkan dahi lalu berkata:
    Abang gue: “Kok suaranya agak Chipmunk dikit yha?”
    Gue: Ah masa???
    Abang gue akhirnya mengambil obeng kecil dan memutar motor di dekat head tape gue. lalu berujar..
    “nah ini baru normal temponya”

    Ternyata lagu ini terdengar brutal karena putaran motor tape gue terlalu kenceng hahahaha…

    deep purple made in japan

    Lazy (Made In Japan version)
    Versi live yang paling gue suka. Intronya Jon Lord banget. Dari bnyi-bunyian Ruang angkasa ala New Wave dan petikan lagu Louie-Louie di awalnya sampai tune klasik dan drumming agak-agak swing di awalnya. Ahahaha gue suka banget versi ini. Ketika gue denger versi albumnya, agak drop rasanya. Temponya lebih pelan dan solo-solonya sedikit 😦

    Radio Metro Jaya
    Sebuah Radio AM yang memiliki program Deep Purple Nite. Gue lupa siapa penyiarnya. Gue selalu menunggu program ini. Walau gue tau program ini hancur. Kebanyakan baca kartu post yang datang. Yang isiya atensi dari pendengarnya. Dan gilanya setiap nama pengirim kartu post selalu di imbuhi nama belakang personil Purple. Seperti ….
    “Yha inilah kartu post atensi dari Bambang Blackmore, Jono Lord, Siska Gillan, Guntur Paice dan lain-lainnya. Tapi yang menarik adalah backsound setiap penyiarnya berbicara selalu menarik perhatian gue. Gue yakin banget permainan keyboardsnya milik Jon Lord. Tapi nuansanya gak Deep Purple banget. Suatu saat gue yakin akan menemukan jawabannya.

    Bali Agung

    Eberhard Schoener / Bali Agung
    Sebuah rilisan Art Rock bernuansa Bali. Kolaburasi Eberhard dengan I Gusti Ngurah Togok. Tapi untuk saat ini gue gak mau membahas album ini secara mendalam. Album ini sering di putar keras-keras oleh abang gue. lalu dia matiin lampu. Anjing Horror banget nuansanya. Tapi setelah siang hari. Dan dia sudah berangkat kerja, penasaran gue lihat kasetnya. Hmmmm…ngeriii. Tapi tunggu dulu di side Bnya ada album solo Jon Lord. Sarabande…..

    Sarabande

    Lalu pita gue ffwd sampai nomor Sarabande. EUREKA!!!!!!!!! ini dia backsound di kala penyiar ngobrol di Radio Metro Jaya!! Woooohooooo….

    Sejak saat itu kaset Eberhard Schoener pindah ke kamar gue 🙂

    Kaset Deep Purple pertama gue
    Sebuah rilisan bajakan dari Aquarius. Berjudul The Best Of Deep Purple. Dengan warna dominan magenta dan photo hitam putih dengan komposisi miring. Asli gue masih inget photo itu. Gue googling dan keluarlah gambar ini:

    Deep Purple

    Jon Lord masih tampak gagah dan keren di bagian kanan (duduk paling depan).

    Dan sampai sekarangpun Deep Purple Mark I dan Mark II masih gue tetap gue nikmati. Walau vokalisnya silih berganti. Keyboardnya tetap Jon Lord.

    Rest In Peace Rocker 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click here
    Follow Us on Twitter: @morfem_band
    Morfem Supported by:
    Radix Guitars
    Monochrome Denim
    Morfem 2nd Album Recorded at ALMOS, a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow @Almosstudio
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 17 Juni: Planet Bumi muncul kembali

    Playlist 17 Juni: Planet Bumi muncul kembali

    Waktu Nyoman (vokalis Planet Bumi) menitipkan sebuah CD utuk Sandra Ateria (MD Trax FM), gue tergelitik melihat cover depannya. Anjrit keren nih covernya. Akhirnya gue malakin Nyoman untuk meminta satu CD lagi untuk gue pribadi. Asli seneng gue. Sebelum gue mendengar isi CD ini, terlebih dulu gue kagum sama artwork sampulnya. Karya Wendi Talok aka Visualblah. Ornamen yang mengelilingi illustrasinya sangat keren. Sekilas gue langsung teringat dengan ornamen belakang sebuah kartu

    kartu

    Lebih jauh malah ingatan gue melayang ke ornamen album Suicidal Tendencies

    Suicidal Tendencies

    Eh Suicidal mah make latar belakang ornamen bandana yha, bukan kartu. Tapi semua itu cuma gambar-gambar yang berkelebatan di kepala gue ketika memegang artwork CD Planet Bumi. Karya Visualblah ini bener-bener steril dan gue terkesima di buatnya. Rasanya gak sabar pengen pulang dan memutar CD ini.

    Planet Bumi adalah band Indie Pop/Alternative Pop yang cukup lawas. Sejak 1996 mereka sudah aktif main di gigs-gigs underground/Indie ibu kota. Kita bisa sebut mereka sebagai band Indie Pop angkatan Poster. Dan The Worst of… adalah album ke empat mereka.

    Walau nama mereka tidak meledak secara komersial, tapi mereka tetap aktif main di gigs-gigs indie pop dan merilis album. Ini yang membuat Planet Bumi keren. Dan album ini adalah rekaman mereka yang paling cling di antara rilisan lainnya. Pengalaman rekaman dan kemajuan teknologi telah mengasah mereka rupanya.

    Track ke 7 menjadi favorit gue. Judulnya aja ngeri… Sindrom Dunia Peri. Dan satu lagi Musibah Besar Menanti juga menjadi nomor favorit gue. Secara lirik Nyoman memang senang memilih kata-kata bersayap penuh bias. Dari musiknya kalo lo suka The Smith, Oasis dan indie pop 90an lain lo pasti masuk banget dengan album ini.

    Ketika gue taya Nyoman, kenapa judul albumnya The Worst Of… Doi menjawab: “Sebnernya jembatan aja sih. Untuk The Best. makanya pake The Rest nanti The Bestnya…”

    Hmmm gue mangkap ada rencana merilis koleksi-koleksi lawas seteleah rilisan ini. Kalo susah mencari rilisan album ini jangan sungkan hubungi Facebook mereka Planetbumiband , twitter mereka @planetbumi atau Trampolinrecords. Sedaaaappp….

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Uses:
    Radix Guitars
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • 2 artefak bernama KEBUNKU

    2 artefak bernama KEBUNKU

    Gara-gara Arian 13 ngomongin kaset di twitter, gue jadi ngubek-ngubek lemari. Mecari kaset yang tersisa. Salah dua yang paling unik dari peninggalan kaset gue adalah rilisan D.I.Y. dari Kebunku. sangat menarik untuk di ceritakan.

    Desember Tahun 1999. Kebunku merilis album pertamanya. Kebunku / Demo Ca’ur. Di rekam secara Live di Studio K. Pondok Gede. Studio sejuta umat scene underground Jakarta 90an.

    kaset-kebunku

    Setelah proses rekaman, mereka menggandakan materi tersebut ke atas kaset. Dengan system tape to tape rumahan ke atas kaset C-15. Gue yakin mereka beli di toko kaset Duta Suara. Jl Sabang. Jakarta Pusat. Tanpa label apapun di kasetnya. Mereka menjual album ini seharga Rp 5000,- (kalau tidak salah). Di sebarkan di kampus mereka. Di tiap gigs. Dan kepada kawan-kawan terdekat mereka. Gue gak tau tuh, berapa keping berhasil mereka jual.

    Tapi yang menarik dari rilisan ini adalah artwork Sleevenya:

    kebunku demo caur sleeve art

    Di gambar langsung oleh Vokalis, Gitaris dan Penulis hampir semua lagu mereka. Johan. Artwork ini di gambar langsung di kertas hvs. Lalu di photocopy. Ukuran gambar di atur sedemikian rupa supaya pas memphotocopy , bisa dapat dua artwork dalam satu hvs. Di potong di lipat, lalu jadilah album. Satu album berisi enam lagu. Side A: Karimba, Mati, Monyet. Side B: Lari, Senang, dan… Cantik. Nanti kita bahas liriknya.

    Setahun kemudian. Mereka merilis album kedua. Di beri judul: KEBUNKU 2 Ca’ur Sedikit.

    kebunku 2 caur sekidit

    Masih gambarnya si Johan. Dengan image yang cukup provokatif. Gogon di atas bola dunia (tepatnya Indonesia). Merefleksikan musik mereka yg beraroma Punk Rock (hahaha). Masih enam lagu saja. Tetap di kaset C15. Tetap di photocopy. Side A: Jika, Aku, Wulan Guritno. Side B: Cinta, Skali, Nanti.

    Bagaimana sleve artworknya? Silahkan di nikmati

    kebunku 2 caur sedikit

    Keren abis. Tetep di gambar manual. Tanpa rekayasa komputer. Dengan perbandingan ukuran 100 %. Gila!!

    Itu baru artworknya bagaimana musiknya. Johan (Gitar, Vokal), Oki (Bass), Tombak (Drums, backing vokal) memainkan musik minimalis yg genius. Punk Rock ala Bad Raligion di mix Reggae (bukan Ska) dengan vokal lantang, serak. Termasuk berbeda pada zamannya.

    Yang paling membuat band ini be beda adalah cara bernyanyi Johan dan juga penulisan liriknya. Jangan remehkan judul mereka yang singkat-singkat itu. johan menulis lirik dengan emosi ber api-api. kadang frustrasi, kadang main hati. Tema lagu mereka memang keseharian. Kesal dengan orang tengil, sampai menyumpahi rumah mereka kebakaran (Mati). Godain cewe yang lewat (Cantik). Bahkan untuk musik Underground akhir 90an, gue yakin baru Kebunku yang dengan santai mengangkat tema Wulan Guritno. Dan pada lagu Cinta, Johan dengan gamblang melukiskan ketertarikannya kepada adik kelasnya. Yang kebetulan ber-ending Tepuk Sebelah Tangan. Oiya adik kelasnya itu bernama Sari. Yang kini kondang sampai ke Amerika dan Eropa dengan bandnya White Shoes And The Couples Company. Sebuah lagu cinta terkeren pada jamannya.

    Terus terang Kebunkulah salah satu pemicu gue untuk menulis lirik Indonesia di tahun 2001 bersama The Upstairs. Dan Kebunkulah yang membuka wahana gue tentang lagu cinta. Ternyata menulis lagu Cinta dalam bahasa Indonesia itu juga bisa jadi selebor, brengsek, dan tetap terdengar cool.

    Setelah rilis Kebunku 2, Ca’ur Sedikit. Kebunku sign kontrak dengan Green Label.Merekam materi lama mereka ke format yang lebih serius. Di produseri oleh Ivanka (Bassist Slank). Yang juga pemilik label. Rilisan masih dalam format kaset.

    kebunku lagu lama

    Setelah album ini rilis. Tawaran manggung membanjiri Kebunku. Bahkan Superman Is Dead pernah mengklaim kalau mereka mengidolakan Kebunku pada sebuah majalah remaja. Tapi di lain cerita, Johan malah memutuskan keluar dari Kebunku. Patut di sayangkan. Padahal kesuksesan sudah beberapa meter di depan wajah Kebunku. Gue jadi inget film Almost Famous jadinya.

    Sampai sekarang Kebunku masih merilis album. Dan masih bermain di scene lokal. Dengan vokalis baru. Masih terdengar enak sebenernya.

    Tapi gak bisa di pungkiri. Gue kehilangan gaya bernyanyi Johan yang sangat Indonesia dengan liriknya yang marah, frustrasi dan kasmaran.

    Bangga masih menyimpan 2 artefak musik cerdas Indonesia 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Uses:
    Radix Guitars
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG