Siaran di 101.4 Trax FM adalah kegiatan rutin gue. Dari jam 4 sore sampe jam 8 malem. Saking rutinnya, kadang gue lupa kalo pemandangan di kiri ruang siaran gue cukup menakjubkan. Suatu senja gue iseng mengabadikan dengan telephone Genggam sederhana gue.
Cukup menghibur, melunturkan stress 45 persen
Sayangnya Kaca jendela jarang di bersihkan dari luar oleh pihak gedung Sarinah, tapi gak mengurangi keindahannya gue rasa đ
Kalau kita mau lebih membuka mata, ternyata banyak hal-hal yang kita lupakan. Saking rutinnya hidup, keindahan pun jadi terlihat biasa.
RollingstoneINA Release party kali ini cukup special. Selain di dukung Langitmusik Telkomsel, malam ini juga merayakan bersandingnya Rollingstone.co.id dengan Detik.com. Maka acara pun di selenggarakan di panggung besar di belakang kantor Rollingstone. Bukan di panggung kecil Rollingstone Cafe seperti biasa. Soleh Solihunlah yang menghubungi kita untuk main. Namun setelah selesai wawancara, Soleh menunjuk panggung besar, dan menyebut Drive, Pee Wee Gaskins dan The Milo sebagai line up lainnya. Tidak ada kata lain yang terbersit di kepala. Selain Morfem harus mengajak Jaya Roxx sebagai engineernya nanti.
Rollingstone release party di selenggarakan pada tanggal 18 Maret 2011. Sesampainya di venue kita di todong untuk wawancara di Rollingstone.co.id.
Jawaban kita serius kok, sumpah hahah
Tiba-tiba Pandu: âPercis gak?â
Coba pinjem kacamata lo Du, lha kok malah kaya Herbie Hancock hahahaâŚ
Freddie: Gue photo juga gungâŚ.hahahahhaha
Selesai wawancara. Duduk deket stage. Eh nongol juga nih best friend gout. Kalo ngobrol sama Buluk pasti seputar âItuâ lah hahahaa..
Soleh Solihun pun mulai naik pentas. nama Morfem di panggil sebagai band pertama untuk tampil. Malam itu semua band kena semprot celaan Soleh. gak perduli band major, band kolonel atau band briptu. Kena semua. Ampun dah ah.
Dan Kami pun naik pentas. malam ini dalah panggung besar pertama kami di tahun 2011. Secara harafiah, panggung besar. Di hitung dari panjang kali lebar.
Makanya bisa lari-lari kecil keliling panggung
Radix Guitar, Fuzz Box, dan Jaya roxxâŚPandu Fuzztonipun menggila
Malam ini kami punya set special. Tidur di manapun Bermimpi kapanpun di mainkan akustik, Freddie maju ke depan dengan tamborinenya. Sambil menyeka keringat menyapa penonton.
Lalu mengambil posisi di sebelah Bram, mendukung suara latarâŚ.
malam itu cukup sukses mengajak penonton bersingalong.
Tiba di refrain, Freddie langsung berlari ke belakang drums. Dan lagu pun kembali menjadi bising
Di akhir lagu Fuzztoni nampak menyenggama sound
Merasa belum klimaks bisingnya!
Pandu kembali ke fuzzbox dan mengacak-acak konfigurasi stombox. Bram semakin trance danâŚ.
âŚJimi pun menambahkan kebisingan dengan pita suaranya! Poll!
Morfem turun pentas. Suasanapun akhirnya di heningkan oleh The Milo. Sepertinya ada yang salah. Mereka pun berisik. Tepatnya suasana di ubah ke arah Galau oleh mereka. Ketika Galau di kemas dalam nuansa yang bising, kata yang tepat adalah: The Milo. Mantaff
Setelah The Milo suasana berubah, karena Drive naik pentas. Panggung Rollingstone biasanya menjadi mimpi buruk bagi band mainstream. Tapi Drive mengakali dengan memobilisasi Drive maniacs (fans mereka) untuk hadir malam itu.
Selesai mentas sempat ngobrol sedikit dengan Anji Drive. Yang gue juluki Pujangga Twitter malam itu. Dan doi sempat bercerita tentang tweets cintanya di setiap senja. Hmmm menarik đ
Pentas malam ini di tutup oleh Pee Wee Gaskins. Inilah pertama kalinya gue bener-bener menyimak aksi mereka. Walau banyak lagu yang gue gak paham. Tapi mereka mengcover Bon Jovi, You Give Love a Bad Name. Wow Bon Jovi, sebuah band yang selalu gue skip dari pendengaran gue sejak zaman SMA hingga sekarang. HahahaâŚ
Malam ini di tutup dengan obrolan bersama Asra âCantsaynotohopeâ. Seorang photographer handal. Bagaimana dia satu lift dengan Pat Smear menjelang show The Germs reuni (dengan vokalis baru tentunya). Dan dia sempat menyaksikan Filpper. Era Krist Novoselic, dengan jarak panggung yang dekat. Wow
Ketika bangun tidur, hal ternikmat adalah merasakan perpindahan dari gelap ke terang. Apalagi ketika kita larut dalam suasana tersebut, sambil berjalan kaki. Terimakasih Tuhan atas teknologi Telephone Genggam Berkamera. Akhirnya ada saksi dari luapan kegembiraan gue di pagi hari. Yang singkat. Sebelum satu jam kemudian pagi berubah menjadi hiruk pikuk budak zamanâŚ.
Dua pohon yang menyapa ketika keluar rumah
Suasananya akan berbeda tema kalo kita lewat di siang hari
Dengan trotoar sebesar ini, tandanya budaya jalan kaki telah memudar
Ah bodo amat, mari rentangkan tangan. Hirup sedalam-dalamnyaâŚ
Sebelum Pagi berubah seperti ini. Dan trotoar pun punah. Menyisakan kebingungan. Apakah untuk tempat berjalan atau menjadi selokan đ
Selama beberapa waktu ini gue sedang sering di wawancara. Entah itu untuk Film Dokumenter, atau Majalah bahkan TV swasta. Ada beberapa hal yang menarik gue. Pertanyaan seputar uang haha. Ada beberapa pertanyaan yang masih gue inget jelas seperti:
-Udah bisa beli barang apa selama nge band sampai saat ini?
-Katanya ada paradigma, seniman itu identik gak punya uang. Gimana pendapat elo?
Jgeeerrr, dua pertanyaan terbaik tahun ini hahaha. Kenapa yha sampai ada pertanyaan seperti ini? Apakah masyarakat semakin materialistis. Atau positifnya, pertanyaan itu bisa memacu orang buat maju? Kalo pemicunya duit, beh gawat juga dunia kesenian. Memang fenomenal masalah duit yha.
Untuk pertanyaan pertama gue inget apa jawaban gue. bah pertanyaan macam mana iki? Mampus gak tuh. I answer your quetion with question. Seperti lagu Manfred Mann saja haha.
Pertanyaan kedua gue jawab dengan: Paradigma seniman bokek itu sebenernya ulah penokohan karakter di era 80-an hahahaha. Sekarang tugas sineas, penulis, dlsb era 2011 yang meluruskan paradigma seniman itu identik dengan berewok gak keurus. Bokek. Dan laper. Coba lo tengok seniman jaman sekarang. S Teddy D. Bob Sick. Dan masih banyak nama lain.
Seniman itu sekarang glamour friend. Tapi kalo slebornya sih emang kagak pernah ilang.
Tiga hari setelah tampil di welcoming stage Stone Temple Pilots, kita di undang untuk berlaga di Hard Rock Cafe Jakarta. Pada hari Rabu 16 Maret 2011, Trax Magazine menggelar Plug N Play. Sebuah acara yang menampilkan musisi-musisi yang di beritakan di majalah Trax bulan ini. Malam itu bukan hanya penikmat musik yang hadir di Hard Rock Cafe. Para pengunjung reguler pun telah bercengkrama di setiap sudut cafe. Dan uniknya musisi yang tampil pun mewakili warna yang sangat beragam. Dari Morfem yang Fuzzy, Bayu Risa dan Marcell Siahaan dengan Popnya, Ronald Extravaganza yang bertransform menjadi Rocknal, dan jannu dengan nuansa J-popnya. Hayo gimana caranya agar penikmat musik terhibur dan pengunjung reguler tidak kabur di suguhi penampilan kita. tantangan yang menarik đ
Sesampainya di Hard Rock ternyata ada ritual wall of fame ala Traxmagz Plug N Play. Sedang siap-siap berpose, Pandu dan Bram justru melakukan gerak-gerik absurd. Alhasil photo wall of fame kita jadi seperti ini ha ha.
Sesampainya di lantai dua, kita bertemu dengan Ronald. Doi bener-bener telah bertransformasi menjadi Rocknal. Tshirtnya bergambar Alm Munir. Ketika show, berorasi. Keras. Selamat tinggal Ronaldisco, selamat tinggal Extravaganza.
Bukan hanya pengisi acaranya yang superstar. LO Morfem pun adalah idola kami. Acum vokalis sekaligus Bassist Bangkutaman bertanggung jawab atas flow acara malam itu. Waaahhh
Seperti biasa Morfem datang dengan rombongan kecilnya. Di sebelah Freddie ada Dymust, Teknisi Gitar. Dan Pocil yang bertanggung jawab sebagai teknisi Drum. Wajah-wajah yang optimis.
Yang bertanggung jawab atas kerennya sound system malam itu adalah Wahyu HW. Beliau jugalah yang menata suara nomor akustik Wahana jalan Tikus dan Tidur di manapun di album Morfem/Indonesia.
Mecker Gera, teknisi Bass. Cekatan.
Dan waktunya untuk tampil pun tiba.
Freddie nampak santai, tapi pukulannya keras bukan main
Bram tampil elegan dengan Jazz Bassnya.
Gue pun harus berlarian keliling panggung. Untuk mengisi bentuk panggung Hard rock yang tidak lazim
Untungnya pengunjung reguler gak sampai terganggu melihat Pandu yang energetik di panggung
Kalau sound sudah enak, badan pun jadi trance di buatnya. terimakasih banyak buat Wahyu HW. Jarang-jarang main di Hard Rock bisa seenak ini.
Pundu Fuzztoni pun tak bisa terbendung lagi
malam ini tidak bisa berdiri lurus. Temanya harus meliuk đ
Kita akhiri malam ini dengan kebisingan yang elegan
Mencengkram dawai dan mengangkat bass tinggi-tinggi. Tinggal di banting aja nih heeeaaaggrrh..
Turun panggung langsung di sambut Bayu Risa. Tugas lo nih buat meng âAdemâ kan suasana hahahaâŚ
Usai pentas di wawancara JakTV. Salah satu media yang hadir meliput malam ini. Seperti pentas besar saja yha. HiiihaaaaâŚ..
Suatu kesempatan emas untuk main di welcoming stage Stone Temple Pilots. Walaupun belum menjadi opening seperti The Flowers. Panggung kecil sebelum pintu masuk pun cukup bisa di maksimalkan. Bagaimana tidak. Kita bisa menarik perhatian ribuan orang yang antri sebelum masuk ke panggung utama. Malam itu, 13 Maret 2011, konser STP di adakan di panggung Jiexpo PRJ. Ribuan orang berbondong datang (rata-rata berumur cukup dewasa). Mulai antri di depan pintu masuk. Bobby Jones, sebuah band bernuansa GNR plus Alternative Rock main di awal acara. 30 menit kemudian mereka turun pentas. Saat yang tepat untuk main. Tapi belum sempat kita set alat, kesempatan emas ini nyaris hilang dari genggaman.
EO dari Djarum, Red Box, yang menangani welcoming stage menyarankan perubahan waktu. Morfem di undur menjadi setelah STP main. Dengan alasan 20 menit lagi pintu utama akan di buka. Dan penonton sudah masuk sebagian. Bah, itu sih namanya Good Bye stage hahaha. Akhirnya kita sepakat untuk tetap main. Hajar bleh! Tinggal 500 orang pun juga lumayan. Sikat. Dan Freddie pun mengambil inisiatif langsung main Drum. Tandanya Intro Who Stole My Bike sudah berkumandang.
Selang 2 bar, Bram langsung memakai bas…
Beberapa bar kemudian Pandu sudah lompat ke tengah stage
Dan gue pun menyanyikan bait pertama
Pentas ini pun termasuk cepat. Di latar belakang photo di atas tampak antrian orang menuju pintu utama. Letak stagenya di kelilingi antrian panjang orang-orang yang akan masuk pintu utama. Akhirnya gue pun harus bernyanyi menghadapi dua sisi. Kadang menghadap depan. Kadang menghadap belakang. Udah kayak plat vynil aja gue.
Pandu habis-habisan
Duet dengan Bram cukup agresif.
Plus ekspresif juga đ
Freddie bermain keras malam itu
Pandu tetap dengan kebisingannya
Ketika masuk part lead, dia sampai meniban punggung gue
Dan Bram pun mengigit senar hahahha…klasik
Malam ini di tutup dengan Tidur Di Manapun Bermimpi Kapanpun.
Turun dari pentas kami tidak berminat sedikitpun untuk masuk nonton Stone Temple Pilots. Hanya Bram yang bersemangat. Karena STP termasuk Pahlawan baginya. Setelah Bram dan kekasihnya masuk ke panggung utama. Morfem justru berleha-leha di dekat mixer. Dan membahas pentas singkat tadi dengan semangat. Kami tidak ingin euphoria ini jadi antiklimaks dengan menonton STP. Ketika berjalan ke parkiran, sayup-sayup terdengar the Flowers memainkan Rajawali. Mari pulang đ
JM
Cuplikan penampilan kami bisa di lihat di bawah. Hasil ambilan Made Aditya. Terimakasih atas videonya.
MD Radio, adalah salah satu dari sedikit Radio yang memutarkan single Morfem. Dan telah mendukung kami dari sebelum merilis album Indonesia. Hal menarik dari MD Radio adalah, ruang kosong di lantai 1nya yang sering di jadikan tempat untuk melangsungkan pertunjukan musik. Kali ini event MD di beri judul Dominator. Di langsungkan hari minggu 26 Februari 2011. Nama yang cukup ngeri untuk event Radio. Dan ini merupakan ke dua kalinya kita main di sana. Selain Morfem tercatat Seurius, Gangstarasta, dan Kunci yang turut meramaikan suasana. Sebelum kita sampai ke sana gedung MD di ujung Jakarta Timur, seorang kawan melaporkan kalau acara ini sangat ramai di padati penonton.
Sesampainya di sana, pukul 21:15, ternyata penonton telah sepi. Saat itu sedang beraksi di pentas sebuah band melodic punk. Dengan lagu-lagunya yang cukup keren. Terutama lagu terakhir yang mereka mainkan. Beatnya tidak lazim untuk warna melodic. Gue acungi jempol buat performance drummernya. Lalu kemanakah larinya penonton yang ramai seperti di laporkan kawan gue tersebut?
Ternyata malam itu penonton di padati oleh fans fanatik Gangstarasta. Sambil nonton band Melodic, gue sempat bercakap-cakap dengan Emilio (vokalis Gangstarasta). Gangstarasta turun penonton pun bubar hahahaha. Keren.
Sedang asik-asik ngobrol, Emilio di todong photo bareng oleh fans-fansnya. mau gak mau masuk frame juga akhirnya. Hmmm aromanya pantai sekali đ
Selang beberapa saat, Freddie sudah berinisiatif memainkan drum. Wah panggilan sudah berbunyi nih. Gue pamit dari anak-anak gangstarasta. Lalu naik pentas.
Lagu pertamapun di mainkan…
Pentas yang sepi pun mulai di datangi satu persatu penonton yang tersisa. Hal ini lumayan menambah energy kita dua kali lipat.
Dari Who Stole My Bike, DeathKitchen, Black Sabbath..
Tidur Di Manapun Bermimpi Kapanpun
Pilih Sidang Atau Berdamai. Semuanya di mainkan,
Habis-habisanâŚ
Hingga sampai pada Gadis Suku Pedalaman…
Suasana mulai memanas. Sampai penyiar primetime pagi MD Radio, Rizky Mocil ikut naik pentas.
Saatnya turun ke penonton
Di mulai dari bagian kanan. Shaft yang sebagian besar di isi MD crew đ
Sodorkan ke dia ah, penyiar yang satu ini nyentrik sekali
Sepertinya pria kecil ini seru kalo di sodorkan mic.
Tapi belok kiri dulu đ
Akhirnya sampai ke dia juga. Suaranya cukup lantang ternyata ha ha
Dan akhirnyaaaaaâŚ.
Bram mengangkat bassnya ke udara
Pertunjukan di akhiri dengan kebisingan.
Dominator di akhiri dengan penampilan Kunci. Dengan penampilan vokalis barunya, Uban, yang di transfer dari the Majesty. malam ini gue dan Pandu melewatkan Andrew Fletcher dari Depeche Mode ngeDJ. Baiknya pulang, dan sebelum terlelap mengulang kembali suasana malam ini yang cukup menyenangkan.
Sebelum naik pentas di Release party 20 Februari silam, gue mendapat telephone dari nomor tak di kenal. âSiapa ini yha?â. Setelah gue angkat, ternyataâŚâHallo Jim, ini Ryo dari Haiâ. Pantesan gue hubungi berkali-kali tidak ada respon. âLo ganti nomer yha?â. âYoi, gue udah denger album Morfem tuh, main-main ke Hai lah.â Wah tawaran menarik nih. Akhirnya kita janjian berkunjung tanggal 24. Empat hari kemudian, tanggal 24, gue ngetweets dari account @morfem_band. Berangkat menuju @HaiMagazine. Ternyata tweets gue direply, @HaiMagazine: di tunggu, ada yang bisa main ping pong? Gue pikir nanti buat rubrik chalenge ngadu Ping Pong sama pembaca Hai. Ternyata gue salah duga.
Sesampainya di kantor Majalah hai kita di tantang main Ping Pong oleh Teguh Gimbal. Kantor redaksi bagian tengah di sulap menjadi meja ping pong. Buat pelepas stress ujar Yorghi Gusman sambil memotret tingkah Pandu, Fred, Bram dan Teguh dari BBnya. Langsung kejadian tersebut di sebar ke dunia. Twitter membuat dunia menciut jadi sekepalan đ
Ternyata siang itu Ryo mengutus Lingga untuk menginterview Morfem. Pertanyaan-pertanyaan mengalir dari mulutnya. Kalo di lihat dari properti yangdi bawanya, kertas pernytanyaan, buku notes kecil. Tampak sekali Lingga telah siap dengan wawancara ini.
Dan pasti sudah siap dengan jawaban ngawur dari Morfem. Pertanyaan pertama, Pandu langsung mengambil recorder.
Saat sedang asiknya Pandu bercerita Bram justru menjajal kaca mata Freddie. Pandu pun nampak mengolah kata-kata dengan cara menggali hidungnya.
Setelah recorder di estafet ke Bram, maka bermunculanlah retorika-retorika khasnya.
Akibatnya suasanapun jadi seperti ini. Hahahaha
Kalo giliran gue, cukup bahasa sederhana. Biar gampang di tulis dan mudah di mengerti he he he.
Musik kami sebenarnya adalah âThe Real popâ. Bener juga si Pandu. Setuju-setuju. Mulai saat ini kita deklarasikan, bahwa musik Morfem adalah POP đ
Selesai wawancara, masuk ke photo session. Di studio Hai. Bagian Indoor Budi cuprit yang memegang peran.
Di ganggu seperti apapun dia tetap konsentrasi.
Seolah-olah di dekati paparazzi
Kadangkala berlagak ala male model
Tibanya di sesi outdoor. Ilham Obama yang mengambil peran. Panasnya mak, buset. Maklum tengah hari bolong. Oyha Ilham Obama adalah bintang iklan Indonesia yang selalu berperan sebagai Barrack Obama. Sayang kita gak sempat memotret dari depan karena kamera gue lowbatt.
Terakhir jangan lupa berpose dengan Wartawatinya đ
Satu hari setelah Release Party di Eastern Promise, kami di undang wawancara di kantornya Rollingstone Indonesia. 22 Februari 2011. Masih terasa Ephoria konsernya. Otot pundak dan leher agak kaku. Tapi secara diundang Rollingstone, semuanya berubah nyaman. Secara pribadi, wawancara juga termasuk suatu pertunjukan buat gue. Bangunpun gue setel lebih pagi. Langsung berangkat. Sesampainya di Rollingstone kami di sambut wartawan yang sangat Rock tapi taat beribadah. Soleh solihun. Nyedot teh botol dan gorengan racun bentar di depan kantornya (maklum belum sempet sarapan), sekedar menipu lambung. Ngobrol ngalor ngidul tentang penjurian musiknya Soleh di Sukabumi. Lalu kita di ajak ke halaman belakang RS. Untuk memulai wawancara.
Nah di sinilah kita melangsungkan perbincangan. Untuk setting suasana Rollingstone cukup handal. Dengan kondisi seperti ini, nara sumber akan betah ngobrol berjam-jam. Kadang-kadang bisa jadi boomerang juga buat wartawannya. Transcriptnya bisa panjang tuh.
Obrolanpun di mulai. Soleh mengeluarkan alat perekam digitalnya.
Soleh Solihun termasuk wartawan yang tajam. Dia akan terus menggali titik-titik sensitif yang di lontarkan oleh kita. Kalo hal ini sudah terjadi matanya akan menajam, dan keningnya mulai berkerut. Kelak, dua hari kemudian. Morfem akan di wawancarai oleh adik kelasnya di Unpad. Katanya skripsi Soleh setebal setengah jengkal tangan gadis dewasa. Tentang sejarah musik Rock Indonesia. NgeriiiiiiiâŚ.
Tapi entah kenapa, tertawa terbahak-bahak hingga terkekeh-kekeh adalah unsur yang selalu ada di tiap wawancara kita đ
Selesai wawancara dengan Soleh, kita di photo oleh Drigo L Tobing. Termasuk Photograper legendaris. Photo Shopia Latjuba yang kontroversial di salah satu cover majalah bertahun-tahun silam adalah hasil jepretan beliau. Menurut Soleh, abang Drigo ini paling jago motret Photo Profile. Wah, suatu kehormatan bukan.
Setiap habis memotret preview dulu di lcd. Hasil photonya seperti apa lihat saja nanti di Rollingstone April.
Hal kecil yang perlu di perhatikan di Morfem Release Party tgl 20 Februari lalu. Sebuah display panel dengan rangkaian photo 3r bertajuk âOrang Penting dan Album Penting 2011â. Bahkan beberapa pengunjung show yang membeli CD di sana pun langsung di potret dan di display photonya. Apa sih sebenernya Orang Penting dan Album Penting 2011 ini? Sebenarnya âOrang PentingâŚâ adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang masih membeli CD di tengah maraknya sharing file di tahun ini. Kami mengajak siapapun yang membeli CD âMORFEM/Indonesiaâ untuk berpose dan mengupload photonya ke fanpage Morfem di facebook. Pada Release party kemarin kita mendisplay beberapa photo yang masuk sebagai pameran bagian pertama. Kelak di akhir tahun 2011, kita akan sertakan semuanya ke dalam Pameran besar âOrang Penting dan Album Penting 2011â. Apapun Profesimu, jika kamu masih memilih CD di tengah trend File Sharing ini. Maka kami nobatkan dirimu sebagai ORANG PENTING.
Beberapa ORANG PENTING di Indonesia:
Erwin Gutawa, Komposer, Konduktor, bassist, produser musik
Mira Lesmana, Produser Film, penulis
Denny Sakrie, Penulis, kritikus musik
Jordy Reynaldi, Pelajar SMA di Jakarta
Benny Endika Chandra, Punk Rocker Plangkaraya, Kalimantan
Chazmil Karim, Pelajar, Surabaya
Eric de Sona, Mahasiswa Udayana, Bali
Rizky, Mahasiswa di Malaysia
Check Photo lain di Morfem Fanpage. Jika kamu sudah memili CD MORFEM/Indonesia, silahkan berpose dan upload photonya di Fanpage atau email ke morfem.info@gmail.com . Bergabunglah dengan Orang Penting dan Album Penting 2011.