Blog

  • Playlist 14 Januari : Black Flag / Damaged. CD yang di barter dengan lukisan di tahun 1998

    Playlist 14 Januari : Black Flag / Damaged. CD yang di barter dengan lukisan di tahun 1998

    Lukisan Pertama gue di beli dengan CD

    Betul. Hal inilah yang membuat CD butut ini sangat memorable dengan gue. Selain secara album juga keren. Cara mendapatkan CD inipun terbilang nyentrik. Sekitar tahun 1998, kawan gue tertarik dengan lukisan absurd gue. Dia berniat membeli lukisan gue, wow…pengalaman pertama nih. Tapi dia mengaku nggak punya uang. Lalu mengeluarkan CD Black Flag / Damaged.
    “Gue beli pake ini aja yha” ujarnya.
    “Sini” tanpa berfikir panjang langsung gue sikat CD itu.
    Kawan gue pun akhirnya menggotong lukisan gue ke mobilnya dan pergi menghilang.

    Kawan gue tersebut bernama Gerry. Salah satu personil Duo Hip Hop Ol’School “Boys Got No Brain” bersama Rullyonzo. Dan sempat punya single di kompilasi Pesta Rap. yang cukup tersohor pada zamannya. Volume berapa gak ngerti gue tapinya.

    Sedangkan lukisan gue. Bukan lukisan yang bagus. Bisa di bilang lebih absurd dari Abstrak. Mungkin karena gue baru saja datang ke pameran Otto Dix di gallery Cipta, Tim, Cikini. Hingga sedikit terpengaruh (maklum masih remaja labil). Atau gue memang sedang malas melukis. Sayang, gue gak terfikir untuk memotret lukisan ini pada waktu itu. Maklum zaman itu Kamera masih belum digital. Dan menjadi barang yang mewah buat mahasiswa seni kere seperti gue.

    Black Flag / Damaged

    Dua tahun kemudian, tahun 2000. Perekonomian gue mulai membaik. Lulus kuliah. Meninggalkan kebiasaan ngegembel di kampus. Mulai mampu ngekost. Dan mulai membeli player DVD China. Dan CD ini baru benar-benar bisa gue nikmati. Selama tahun 1998 hingga 1999 gue cuma merekam cd ini ke kaset, dan gue puter di tape butut gue.

    Album yang keren. Dengan TV Party sebagai single favorit gue. Rise Above. Spray Paint The Wall, Six Pack, What I See, Thirsty And Misreable, Damaged II, gitar yang Fuzzy, sedikit eksperimental di sana sini, dan aaahhh gue kalo menilai Black Flag suka subyektif. Selalu ada sisi positif yang membuat gue menilai Black Flag itu keren. kalo pengen tau lebih jauh tentang album ini klik aja di sini. Tapi secara artwork, album ini cukup jelek. Karena nggak memakai artwork khas Raymond Pettibon seperti ep-ep mereka yang lain.

    Malam ini, 14 Januari 2012, gue sedang memutar CD ini kembali di mini hifi gue. Dan momment transaksi keren di studio lukis IKJ tahun 1998 pun kembali tergambar di kepala gue.

    Ada-ada saja

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 13 Januari: Simple Minds / Celebration. 11 tahun menyandang predikat SALE

    Playlist 13 Januari: Simple Minds / Celebration. 11 tahun menyandang predikat SALE

    1985:
    Gue pertama tau Simple Minds, waktu masih SD. Singlenya Don’t You (Forget About Me) terdapat dalam album kompilasi kaset Hot 1000. Bersama lagu We Are The World. Dan lagu ini termasuk favorit jaman gue kecil.

    2000:
    Gue udah lulus kuliah. Lagi ada discount gede-gedean di toko CD Duta Suara jalan Sabang. Seperti cewe-cewe yang kalap mendengar midnight sale, gue pun langsung bergegas ke sana. Dan gue melihat bundle CD Simple Minds. Celebration dan Empires And Dance. Dengan harga ekonomis RP 50. 000,-. Gue sikat! Dengan pengetahuan gue sebatas Don’t You (Forget About Me).

    Sesampainya di rumah, gue puter album ini. Wow gak mengecewakan buat barang discount. Nuansa Post Punk / New Wave seketika menyeruak. Memadu padankan Roxy Music, Kraftwerk, Punk Rock dan vokal agak-agak Bono U2.
    Bisa lo check singlenya Chelsea Girl, Live In the Day, I Travel, Changeling dan Thirty Frames A Second. Keren.

    Ternyata album ini adalah kompilasi dari 3 album mereka sebelumnya. Life In A Day, Real To Real Cacophony, dan Empires and Dance. Gue merasa mendapatkan harta karun waktu itu.

    2012
    Gue sedang mencari hadiah ulang tahun untuk istri gue tercinta. Lalu tiba-tiba gue punya ide untuk membelikan dia CD favoritnya ketika remaja. Lalu gue pergi ke DS. Toko CD di jalan Sabang. Jakarta Pusat. Ketika gue sedang menyapu pandangan pada deretan CD di sana. Tiba-tiba mata gue berhenti ke pada sebuah album yang sangat familiar. SIMPLE MINDS, CELEBRATION. Gila!!! Sudah 11 tahun berlalu, CD ini masih ditempel sticker SALE! Dengan harga yang sama.

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 12 Januari : Deee Lite / World Clique. New Romantic telah mati, selamat datang di 90an

    Playlist 12 Januari : Deee Lite / World Clique. New Romantic telah mati, selamat datang di 90an

    Ketukan bunyi drumnya menandakan pergantian era. New Romantics telah mati, selamat datang di tahun sembilan puluhan. Inilah New York Dance Culture. Lady Miss Kier vokalisnya, hadir dalam kemasan twiggy 60an dengan back ground kolase grafis 90an. Dengan suara bak Diva, menginstruksikan kita bergoyang. Duo DJ geblek (Dimitri dan Towa Tei) di belakangnya melakukan gerakan tari yang absurd.

    “Groove is in the heart” memang hit yang tak terkalahkan. Tapi gak ada salahnya kita coba track lain. “Try On Me…I’m Very You” asik juga. Atau “What Is Love?” sisa sisa kejayaan 80an masih terasa di sana. Atau “Good Beat?” silahkan di pilih. Yang pasti album ini selalu di cela kawan-kawan Metal Head gue yang sedang demam Sepultura dan Kreator pada masa itu. Masabodo! Gue menyetel album ini diam-diam, sebelum hang out dengan kawan-kawan gue yang sebagian besar Thrasher. Hahaha…

    Drums yang enak tandanya enak untuk berdansa :p

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Kaset Pertama Yang Menggugah Gairah

    Kaset Pertama Yang Menggugah Gairah

    Malam ini, 10 Januari 2012. Pukul 23:20. 4o menit sebelum ulang tahun gue. Gue berniat mengenang kembali musik pertama yang bener-bener membuat gue terpukau. Kesengsem. Tergila-gila. Dan hingga akhirnya gue nekat bermain musik sampai hari ini. Padahal gue bukanlah orang yang di karuniai bakat yang besar dalam memainkan instrument bahkan bernyanyi. Tapi gairah bermusik gue melebihi bakat Seni Rupa yang lebih gue kuasai. Ajaib. Gue bener-bener sudah membuktikan teori tentang tetek bengek Passion aka Gairah. Inilah yang membuat gue tetap ngotot berkarya di musik. Gairah yang menggebu.

    Sejak bayi gue jika rewel, ibu gue akan menyetel kaset Titiek Puspa miliknya. Gue lupa judul albumnya. Yang masih gue ingat adalah cover depannya. Titiek Puspa menari di lapangan hijau yang luas dengan baju merahnya. kalau tidak salah dengan selendang kuning pula. Kadang gue berkelakar: “Mama kenapa gak nyetelin Led Zepelin sih, atau Rolling Stones kek”. Hahaha. Ternyata kaset itu di pilih secara random. Dan Titiek Puspa yang paling sukses membuat Jimi kecil terlelap.

    Namun Musik yang pertama kali membuat gairah gue melonjak adalah….

    Kaset Pertama Jimi Multhazam

    Sebuah kaset kompilasi keluaran King’s Records. Berjudul Big Ten. Pada zaman itu semua kaset adalah bajakan. Bahkan kaset ini dengan seenak jidat mengambil logo Billboard chart dan menamakan kompilasi ini Billoard Rock Collection / Big Ten.

    Kaset ini di bawa pulang abang ketiga gue, Gane Fetrizal. Abang yang paling gue banggakan. Karena doi keren. Ganteng dan banyak kawannya. Dan yang paling gue ingat dia pandai merakit sepeda. Dari nol sampai keren. Doi sudah masuk SMA pada waktu itu. Sedangkan gue masih kelas 3 SD. Suatu hari dia pulang pagi. Habis nongkrong dan memberikan kaset pinjaman ini ke gue. Dia langsung menyetel De Doo Doo De Da Da dari The Police buat gue. Lagu yang sangat hits pada waktu itu.

    Uniknya gue hanya akan memutar lagu De Doo Doo De Da Da saja. Ketika lagu habis. Gue akan balik kaset ini. Dan otomatis side A dari kaset ini adalah track Roxane. Yeah, cinta pertama gue pada musik adalah The Police.

    Begitulah selama berbuklan-bulan gue hanya mendengarkan kaset ini saja. Dan dua track itu saja. Lama kelaman mungkin jenuh juga kuping gue. Akhirnya baru gue mulai mengeksplore lagu-lagu lain dalam kompilasi ini. Dan yang menarik minat gue adalah Queen / Bohemian Rapsody. Dari pertama gue dapat kompilasi ini, gue langsung benci Toto. Entah kenapa. Sampai sekarang pun, gue gak paham Toto. Bahkan bisa di bilang alergi hahaha. Padahal banyak sekali lagu di album ini. Tapi gak menarik minat gue. Men At Work / Down Under sempat gue lirik. Walaupun masih jengah di kuping pada saat itu.

    Akhirnya ketika dewasa gue dapat menganalisa kenapa gue bisa memilih hanya The Police di kompilasi ini. Yoi, warna Punk yang ada dalam The Police jawabnya. Sejak kecil gue gak berminat terhadap progresi rumit. Hahahaha. Itulah mengapa Toto membuat gue sebal setiap memutar kaset ini.

    Inilah track lengkap kompilasi ini

    Side A
    1. Rosanna / Toto
    2. Hard To Say I’m Sorry / Chicago
    3. Always Somewhere / Scorpions
    4. Bohemian Rhapsody / Queen
    5. Free Me / Uriah Heep
    6. Roxanne / The Police
    7 Waiting For Your Love / Toto

    Side B
    1. The Final Cut / Pink Floyd
    2. Life Is Real / Queen
    3. Love Hurts / Nazareth
    4. De Do Do Do De Da Da Da / The Police
    5. Down Under / Men At Work
    6. Soldier Of Fortune
    7. When The Smoke Is Going Down / Scorpions
    8. Affraid Of Love / Toto

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Album Terbaik 2011 versi GUE pribadi

    Album Terbaik 2011 versi GUE pribadi

    Deretan ini adalah album keren rilisan tahun 2011 yang mengena di selera pribadi gue. Urutan dalam tulisan ini bukan berarti rating. Urutannya pun tercampur-aduk antara band lokal dan internasional. Semuanya sama rata. Walaupun banyak rilisan Indonesia yg keren. Tapi gue hanya mencantumkan album berbahasa Indonesia. Karena lirik Indonesia langsung mendapatkan 20 persen tempat di hati gue. Setelah di setel, bisa jadi makin padat hingga 100 persen. Coba di tengok friend. Siapa tau selera kita selaras. Selamat menikmati.

    rajasinga rajagnaruk

    Rajasinga / Rajagnaruk
    Kurang Ajar! album ini keren banget! Sebenarnya gue sudah jarang mendengarkan Grindcore. Terrorizer / World Downfall adalah album kencang terakhir yang gue hafal. Tapi setelah mendengarkan album ini, gairah grinding gue sempat terpicu hahaha. Thanks buat kawan gue Agil yang sudah menghadiahkan CD keren ini. Track “Dilarang Berbisa” adalah track favorit pertama gue. Cinta putaran pertama hahaha. Hey lirik mereka bagus. Bisa di bilang inilah contoh lirik paling ngehe dan keren di kalangan musik Grinding. Kalo ada yang bilang musik Grind gak cocok pake bahasa indonesia, suruh dengerin album ini. Kita buktikan mereka salah.

    Banyak quotes menarik yang bisa di petik dari lagu-lagu mereka.
    Anak Haram Ibu Kota:
    Besar dengan liar. Terdidik oleh caci. Terasah oleh maki. Menyambut Terang dengan Perang. Menggiring gelap dengan harap.
    99%THC 1% Skill:
    Kamar kami kecil. Dunia kami luas. Kami kurang ajar. Tapi terus belajar. Kami memang seram. Tapi Tidak Suram. Kami memang susah. Tapi tidak payah.
    Singa Lapar:
    Dari sebuah kumpulan liar. Yang tak tenang di belantara kawanan. Kami datang mengisi kehidupan. Di parak siang kakunya malam

    whuih, bisa -bisa gue copy semua lirik album ini. kalo di lihat dari struktur liriknya yang berpantun. Gue curiga yang nulis pasti berdarah Minang 🙂

    life sux

    Wavves / Lives Sux
    Akhirnya rilis juga mini album ini. Jangan terkecoh dengan cover mereka friend. Mereka tidak sekejam itu. Mereka hanyalah pemuda tanggung yang bermain three chord anthem dan bersenang-senang. Gue udah menduga kalo ep ini keren setelah dia menggratiskan lagu I Wanna Meet Dave Grohl di web pribadinya beberapa bulan lalu. Jika elo suka sound Fuzzy, chord-chord santai buat stage diving, indie rock, noise rock, lo-fi, atau apapun namanya. Maka album dari band San Diego, California ini adalah pilihan yang tepat. Selain I wanna Meet dave Grohl, cek juga lagu Nodding Off. Lo akan merasakan kolaburasi dengan Best Coast di refrainnya. Atau kolaburasi dengan band Hardcore Fucked Up di lagu Destroy. Lagu mereka yang berjudul Bug juga keren. Selain album ini album mereka sebelumnya, King Of The Beach juga patut di simak. Pokoknya kalo elo keranjingan Progressive Rock dan The Beatles, sebaiknya lupakan album ini. Mari kita berpesta kawan-kawan wuuuhuuuu!!!

    the errant charm

    Vetiver / Errant Charm
    Gue pertama kali mendengar single Vetiver di tempat yang sama sekali gak musikal. Yoi, gue lagi mampir di sebuah toko arloji di daerah Senayan, dan operator tokonya kebetulan sedang memutar lagu yang keren. Wah seleranya kena nih sama gue. Akhirnya gue menayakan judul lagu dan artistnya kepada pramuniaga yang jaga. Gak gue sangka, eh dia malah membawakan ipod operatornya. Seketika toko arloji itupun sunyi senyap. Gue jadi gak enak hati sebenernya. Tapi cuek lah. Setelah gue lihat di Ipodnya ternyata naman penyanyi ini Vetiver. Judul lagunya Wonder Why. Dari album Errant Charm. Buru-buru gue catet di notes gue. dan gue cari albumnya.

    Setelah mendapatkan full albumnya, gue makin kesengsem sama karya mereka. Ternyata mereka berasal dari Greensboro, Carolina Utara, Amerika. Dan album ini di rilis oleh Sub Pop records. Selain Wonder Why, Ride-Ride Ride adalah nomer favorit gue. Warna musiknya Folk dengan sentuhan sedikit T-rex dan Velvet Underground di dua lagu tadi. Sisanya, album ini berisi nomor-nomor kalem. Kadang-kadang agak terdengar nuansa Smashing Pumpkins di nomor slownya. Cukup menyenangkan 🙂

    share the joy

    Vivian Girls / Share The Joy
    Band cewe ini punya racikan image yang paten. Vintage Teenage Girls, Tattoos, Rock Music. Pas buat fantasi pria-pria remaja yang beranjak dewasa. Share The Joy adalah album Viavian dengan sound paling keren sejak debutnya. Kalo secara racikan bunyi Vivian masih bermain di olah vokal ala pop group 60an semisal Shangri-las. Musik Pop dengan skill Punk. Lalu di rekam dengan formula Lo-fi. Noise gitarnyapun sekarang sudah tidak sepekak album sebelumnya. hal itulah yang membuat album ini lebih keren. Kalo lo belum pernah denger Vivian coba cari video mereka I Heard You Say. Lalu coba juga Take It As It Comes, dialog telephonenya ngehe hahaha. Tema-tema lagunya memang seputar topik perbincangan cewe remaja. Gak perlu tampak berusaha keras menjadi liar seperti Khe$a.

    sinting

    Aliensick / Sinting
    Album Rock Indonesia yang menghanyutkan. Band dari Jakarta ini memiliki bahan dasar Alternative Rock/Grunge/sound 90an lainnya album ini di kemas ke dalam sound yang lebih modern. Penggarapan artworknya dengan tinta China, itu sudah pasti selaras dengan selera gue. Dan produksinya cukup keren. Nuansanya berbeda di tiap track. Liriknyapun keren, bahkan sering memaksa kita ikut bersenandung ketika memutar cdnya. Yoi mereka punya formula cathy dalam meramu lagunya. Layak koleksi lah. Ketika elo mendapatkan CD ini, gue sarankan langsung putar track favorit gue Nihil. Oke, sudah? coba ulang sekali lagi. Lo bayangin lo berada di depan panggung ketika mereka sedang mentas. Nikmati naiknya emosi ke tahap refrainnya.Beeeh sedaaaaff. Track ini benar-benar favorit gue. Lalu coba juga pindah track ke Teri Kampung, kali ini lebih keras! Bawaannya mau stage diving hahaha. Sudah? coba pindah ke track Sinting. Agak down tempo sejenak. Lalu masuk ke lagu sentimenti (sentimentil?) berjudul singkat…P. ternyata mereka sering memberi kejutan di makna lagunya. baca selengkapnya tentang album ini di sini.

    lesson 1

    Sir Dandy / Lesson #1
    Belajar gitar, bikin lagu, langsung rekaman! Teknik yang genius. Sir Dandy, seniman (bisa juga di sebut desainer, pedagagang atau musisi) Bandung, bisa di kategorikan sebagai apa saja. Bisa di sebut musisi Folk. Musisi berpredikat singer song writer atau bahkan musisi komedian. Terserah. Lagu favorit gue di album ini Sekdrag dan Ode to Antruefunk part 2. Kalau lagu Juara Dunia sudah pasti favorit masyarakat luas. baca tulisan lengkap gue tentang Sir Dandy, klik di sokin 🙂

    gimme some

    Peter Bjorn And John / Gimme Some
    Hampir saja band ini menyandang predikat One Hit Wonder, kalo tidak merilis album ini. Tepuk tangan dulu dong buat Per Sunding atas tangan dinginnya memproduseri band yang di dirikan di Stockholm, Swedia, tahun 1999 ini. Album ini terdengar busuk dan middle di tangan doi. Hal inilah yang membuat album ini antik. Kalo soal materi lagu PBJ, sudah pasti keren. Apalagi ada nomor yg terdengar klasik Punk di kuping gue seperti Black Book, Lies dan Breaker Breaker. Tapi sebelum gue kesengsem abis dengan album ini, pertama gue sedikit kaget denger intro Second Chance ketika bersiaran sore di Trax FM. Intronya bersuasana 2112 Rush. Gue pikir lagu ini merupakan single dari band Progressive revivalist. Ternyata ketika masuk drum, lagunya berubah menjadi centil. Ayiaiy ayiay. Gue suka banget album ini. Jangan lupa nomor Dig A little Deeper, dan May Seem Macabre. Kalo boleh sedikit sok tau, dua nomor ini cocok menjadi single mereka berikut. I Know You Don’t Love Me akhirnya menjadi nomor yang pas buat penutup album keren ini ☺

    black lips

    Black Lips / Arabian Night
    Seperti gue tulis sebelumnya. Album ini keren dan mudah di terima. Maka dengarkanlah sebelum album ini menjadi Hipster Rock hahaha. Kalo selera lo Punk Rock Classic/ 60’s Garage/ Psychedellic Purba/ The Rollingstones maka album ini adalah soundtrack yang tepat buat hidup lo. Black Lips di dirikan tahun1999 di Dunwoody, Georgia, Amerika Serikat. Album ini produseri oleh Mark Ronson, produser Inggris cap playboy favorit gue dan Lockett Pundt di beberapa lagu. Gue pertama mendengar single pertama mereka Modern Art ketika siaran (Terimakasih buat Sandra yang sudah memasukkannya ke Chart 2020 Trax). Kontan gue mencari albumnya. Ternyata di album ini Mark Ronson berhasil menyulap pemuda-pemuda pemabuk ini menjadi idola-idola mereka di tiap track yang berbeda. Ronson berhasil menyulap Black Lips menjadi Ramones di nomor Raw Meat, lengkap dengan tepuk tangan ala Blitzkrieg Bop dan sound dengan kebusukan serupa. Menjadi The Seeds di nomor Noc-A-Homa. Agak-agak The Troggs di nomor Spidey’s Curse. Lalu jadi agak Stones di nomor Dumpster Dive, refrainnya mengingatkan Jagger-Richards di era gondrong 70an. Bahkan om-om di Stones saja sudah meninggalkan gaya ini. Gue jadi membayangkan, andai kata Mark Ronson memproduseri Rolling Stones. Pasti bisa jadi muda lagi tuh mereka. Patut di pertimbangkan tuh Om Jagger hahaha. Tapi kok jadi gak berkarakter gini yah? Alah gak usah di ambil pusing. Yang penting lagu-lagunya keren. Covernya sih butut. Penuh symbol-symbol neraka yang entah memang mereka amini atau sebuah parodi. Jangan-jangan mereka terlibat perjanjian dengan….ah pler lah. Hahahaha…

    belive it or rot

    Berlin Brats / Believe Or Rot (1973-1976)
    Sebenernya album ini di rilis oktober tahun lalu. Tapi cueklah. Gue baru dapet bulan Agustus 2011 soalnya. Dan yang pasti semua lagu di album ini bener-bener gue bangetzz!! Siapa sih sebenernya Berlin Brats? 4 kata buat mereka: Band Yang Kurang Beruntung! Atau bisa jadi: Band Yang Sangat Pemalas. Mungkin kebanyakan teler. Yoa mereka memang korban Rolling Stones. Dan juga penyembah New York Dolls. Di dirikan tahun 73 di Hollywood. Los Angeles. Bisa di bilang merekalah band Punk pertama di LA (menurut Rodney Bingenheimer KROQ). Berlin Brats merasakan pengalaman seperti band Indonesia juga, Pay To Play live Gigs. Merekam satu single Psychotics/Tropically Hot. Lalu bubar. Hahahaha. Lalu vokalis mereka Rick Wilder mendirikan Mau-Maus bersama drummer mereka Rick Sherman. Album ini adalah dokumentasi karya pertama dan terakhir mereka. Tapi hal penting yang musti kita ingat. Lagu mereka berjudul (I’m) Psychotic punya nilai 9. Itu pun dari penilaian gue pribadi. Kalo lo denger lead gitarnya keren banget, jangan heran. Robby Krieger (ex The Doors) yang memainkannya.

    king tuff

    Scion A/V Garage: Hex Dispenser / King Tuff
    Sebuah split album yang keren. Lupakan Hex Dispenser. King Tuffnya lebih keren. Singlenya Hands bisa di download gratis di sini. Coba lo dengerin. Kita seperti di bawa ke era Glam Rock. T-Rex rules! Kerennya KingTuff gak langsung merubah image mereka menjadi Glam Rocker dan berglitter ria. Mereka tetep band klab malam yang gondrong dan bertopi trucker lusuh. Kalo ingin lebih jauh mendengar karakter King Tuff, bisa juga di cari albumnya King Tuff was dead, rilisan Colonel Records 2009. Band gak ngetop bukan berarti jelek. Mereka cuma gak punya team marketing yang genius. Atau mereka memang sudah nyaman dengan kebersahajaannya

    apapun itu

    Jude / Apapun Itu EP
    Di rilis bulan Januari tanggal 11, tepat di ulang tahun gue. Band lokal favorit gue saat ini. Band dengan haluan vintage yang bisa melepaskan diri dari kungkungan The Beatles, Koes Plus, dan Naif. Karena tiga hal itulah yang selalu timbul di band bernuansa jamdul Indonesia. Vokal Jezkul adalah hal yang paling pertama tertangkap keren di telinga gue. Merdu, Pop, sekaligus nyeleneh. Liriknya pun cukup keren. Dengan format CD-R album ini pantas di masukkan ke dalam playlist elo bersama band mancanegara lainnya. Baca selengkapnya dengan klik tulisan ini.

    morfem indonesia

    Morfem / Indonesia
    Sorry neh friend, gout puas banget dengan album ini. jadi harus di cantumkan di list ini. Kerjasama dengan engineer kawakan Yoseph Saryuf dan Wahyu HW menghasilkan sound yang ue impikan selama ini. Kerja sama dengan Pandu Fuzztoni, Bram dan FAW jugamenyenangkan. Karena album ini adalah obat paling emosional buat tusukan-tusukan punggung di gue pribadi. Gak ada album ini, mungkin gue bisa GILA! Dan di album inilah untuk pertama kalinya gue bekerjasama dengan satu musisi yang gak kena Punk Rock sama sekali di dalam hidupnya. Walaupun di imbangi dengan dua bocah nakal yang ketagihan Punk Rock dan bunyi-bunyi eksperimental. Selayaknya album debut. Belum ada pertabrakan selera. dan semuanya di buat dengan semata-mata bersenang-senang. Ringan. Banyak tertawa. Rekam… dan rilis.

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • The Upstairs dalam CD Kompilasi Tribute to KLA Project

    The Upstairs dalam CD Kompilasi Tribute to KLA Project

    Kompilasi ini terdiri dari 10 lagu. The Upstairs di percayakan untuk mengintepretasikan lagu Kla Project berjudul Lantai Dansa. Karena lagu ini aslinya sudah cukup New Wave, maka gue pun spontan untuk menggarap di luar kebiasaan The Upstairs. Dengan mengambil sedikit beat Jungle. Gitar Funk (yang di mainkan anak Punk). Dan permainan bass ala Drum n Bass. Bahkan gue nekat sedikit berRappin di bagian verse. Terimakasih buat Lilo yang membebaskan gue bikin additional lirik. Akhirnya The Upstairs menjadi satu-satunya band yang tampil dengan lirik tambahan.

    Selain The Upstairs Maliq & D’Essentials juga tampil memukau di lagu lagu Prasangka. Lagu ini patut di simak. Kalo soal penggarapan musik Maliq gak pernah tanggung-tanggung. Selain Maliq, Ran juga tampil cukup oke dengan hits pertama Kla. Tentang Kita. Seharusnya Boyband-boyband sekarang belajar dari Ran bagaimana bernyanyi yang elok di dengar.

    Sisanya lagu-lagu Kla di terjemahkan lebih melankolis dari aslinya. Tapi solois bernama Babas membawakan lagu Sudi Turun Ke Bumi dalam bungkusan Modern Rock. Album ini tersedia hanya di Indomaret. Waaah suatu kerjasama yang unik. Di bandrol cuma 30 000 perak. Cukup layak di koleksi.

    tribute to kla indomaret

    Awal mula ceritanya sekitar setahun (atau dua tahun) silam gue berkenalan dengan Lilo Kla. Doi bercerita tentang idenya membuat kompilasi Tribute To KLA Project. Gue lupa tepatnya di mana. Sepertinya di launching album Kadri Jimo and the Prinze. Rollingstone Indonesia. Lilo menawarkan gue untuk meremake lagu Kla berjudul Lantai Dansa. Wah menarik sekali. Kebetulan 2 album pertama Kla cukup gue dengarkan. Namun obrolan kita seperti menguap ke angkasa. Sampai gue pun lupa wacana tersebut.

    Hingga tiba-tiba pada bulan puasa tahun 2011, Lilo kembali menghubungi gue. Dan gilanya proyek ini musti bisa kelar dalam waktu sebulan! Hahahaha. Hajar bleh. Kebetulan gue sudah familiar dengan lagunya. Masalahnya tak satupun anak The Upstairs yang akrab dengan lagu Kla. Sebagian besar anak-anak The Upstairs hanya tau single Jogjakarta. Untungnya ketika gue datangi toko CD, ternyata KLa mengeluarkan album The Best dalam format CD. Langsung gue share ke anak-anak. Reaksi pertama tentunya dari Krishna (keyboardist), gile ternyata lagu Indonesia jamdul ada yang seperti ini yha. Seperti gue tulis di atas. Basic ide lagu ini mengadopsi beat Jungle. Dan Kubil menghajarnya dengan gitar Funk ala anak Punk. Kalo Krishna jangan di tanya. Dia yang mengemas Jungle jadi Ruang Angkasa.

    The Upstairs 2011

    Versi pertama lirik The Upstairs di kompilasi ini di nilai cukup eksplisit bagi Lilo. Karena menurut Lilo konsep Kla bukanlah band dengan kritik sosial. Akhirnya gue merubah lirik pertama dalam itungan 2 jam. lalu retake kembali. Album ini di garap di studio 58 Depok. Dengan engineer Wahyu Hw. Ketika bulan puasa. lalu mixing di kerjakan DJ Soemantri dan Lilo. Hasilnya cukup memuaskan. Senang bisa terlibat dalam kompilasi band lawas sekelas KLA Project.

    Mantaff

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • JAKMUSIK Episode Oktober 23, 30 dan November 6, 13

    JAKMUSIK Episode Oktober 23, 30 dan November 6, 13

    Jak Musik akan tampil dengan kemasan baru. Setiap hari minggu jam 19:30 – 20 30 wib di JakTV. Tenang saja kalo elo berada di luar Jakarta masih bisa streaming di http://www.jak-tv.com. Siapa sajakah band yang akan tampil di JakMusik berikutnya? tentunya bukan nama sembarangan! Coba simak siap saja yang akan tampil. Siapa tau di antaranya adalah band favorit lo. Atau mungkin band lo juga mau tampil di JakMusik? Bisa….simak dulu yang satu ini

    white shoes and the couples company
    White Shoes And The Couples Company

    the milo
    The Milo

    monkey to millionaire
    Monkey To Millionaire

    toilet sounds
    Toilet Sounds

    the banery
    The Banery

    L’Alphaalpha
    L’Alphaalpha

    little space donkey
    Little Space Donkey

    the time traveller
    The Time Traveller

    jude
    Jude

    the experience brothers
    The Experience Brothers

    dan…..

    kolaburasi penting
    Sebuah Kolaburasi untuk format masa depan 🙂

    Tonton terus JAKMUSIK di JakTv setiap hari minggu jam 19:30 -20:30 wib. Dan untuk di luar Jakarta streaming di Jak-tv.com. Kalau band lo mau tampil di JakMusik, silahkan cantumkan contoh link musik lo dan profile di box comment di bawah ini….

    enjoy

    logo morfem
    Booking Contact: 0858 11 764 764 | Firman
    Morfem CD and Merchandise go to SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Morfem masuk dalam Film Dokumenter karya Vincent Moon

    Morfem masuk dalam Film Dokumenter karya Vincent Moon

    Morfem terlibat dalam sebuah Film Dokumenter! Sebuah pengalaman yang luar biasa. Apalagi sebuah Film Dokumenter dari Vincent Moon. Seorang film maker Prancis yang telah membuat video-video keren dari The Kooks, Phoenix, Yeasayer, Sigur Ros, Animal Collective, Architecture In Helsinsky, Guillemots, Arcade Fire dan lain-sebagainya. Saat ini dia sedang membuat proyek Film Dokumenter tentang Jakarta. Suatu kehormatan karena Morfem adalah salah satu band yang menarik minatnya.

    Hari Minggu, 16 October 2011. Vincent Moon akan mengabadikan sebuah gigs di JayaPub. yg beralamat di Gedung Jaya Jl. MH. Thamrin Kav. 1-2, Jakarta Pusat. Tepat di seberang hotel Sari Pan Pacific dan Gedung Jakarta Theatre. Acara di mulai pukul 19:00 sampai 21:00 wib. Dan elo bisa menikmati lagu-lagu dari album Indonesia dan beberapa bocoran lagu baru Morfem di sana. Yang patut di catat: Gigs ini GRATIS, siapapun yang ingin bersenang-senang di akhir pekan kami undang untuk datang.

    Jadi, datanglah minggu besok ke Jaya Pub. jadilah bagian dari video Dokumenter Vincent Moon tentang Jakarta. kami tunggu jam 19:00.

    Sampai jumpa di JayaPub 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0858 11 764 764 | Firman
    Morfem CD and Merchandise go to SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Apakah Aku ada di mars…dan cerita di balik lagunya

    Apakah Aku ada di mars…dan cerita di balik lagunya

    Apakah Aku Berada Di Mars Atau Mereka Mengundang Orang Mars

    Musik: Andre “Kubil” Idris
    Lirik: Jimi Multhazam

    Ruang gemerlapan yang hingar bingar
    Lalu berat kaki terhadap nada
    Tetapi lantai telah di hentakkan
    Pertunjukan tetaplah harus berjalan
    Berdentum nada seiring nada
    Apa terhidang di lidahku hambar
    Tiada bahasa telah terdengar
    Mampu di pahami tertangkap oleh telinga

    Apa ku ada di Mars
    Ataukah mereka mengundang orang Mars

    Kehadiranku kian menyiksa mata
    Menyita sinar pada tata cahaya
    Mereka berdansa sungguh seragam
    Tetabuhan purbakala telah di listrikkan

    Lagu ini sempat di ubah berkali-kali sampai akhirnya baku seperti versi album Matraman. Sempat di mainkan dengan dua bass. Rave Bass oleh Bin Harlan. Dan Alfi Chaniago bermain bass gitar di nada tinggi. Hingga akhirnya kita sepakat menghilangkan bagian Bass Gitar. Dan lagu ini pun terdengar seperti lagu electronic yang dimainkan secara manual oleh anak Punk.

    Lirik lagu ini gue tulis berdasarkan pengalaman pribadi bersama kawan-kawan baru gue. Sebuah kegugupan sosial. Sekaligus pendobrakan tatanan fashion yang mulai monoton.

    Sekitar tahun 2002 gue di ajak kawan-kawan baru ke Mana House (RIP). Sebuah tempat hiburan malam yang punya nuansa musik Deep House di dalamnya. Kala itu, karena sedang trend, hampir semua orang berpakaian silk warna hitam gelap.

    Sedangkan gue, kala itu datang bercelana kotak-kotak hijau ketat (kalau jaman sekarang namanya skinny jeans), berkaos merah dan jaket jeans belel. Lalu gue pun melantai bersama kawan-kawan. Gaya berdansa gue sudah pasti berbeda dengan semua pengunjung di sana. Meski berasa janggal, gue sangat menikmati malam itu.

    “Enjoy, Jim?,” tanya temen gue di tengah-tengah lantai dansa.

    Lo tau apa jawaban gue?

    Gue jawab: “Gue berasa di planet Mars!”

    Lalu gue berfikir sejenak. Ngga lama, kata-kata mulai keluar lagi dari mulut gue, “atau jangan-jangan elo yang mengundang Orang Mars?”

    Kawan gue pun tertawa terbahak-bahak. Keras sekali….! ☺

    logo morfem
    Booking Contact: 0858 11 764 764 | Firman
    Morfem CD and Merchandise go to SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Antahberantah dan cerita di baliknya

    Antahberantah dan cerita di baliknya

    Antahberantah

    Musik: Andre “Kubil” Idris
    Lirik: Jimi Multhazam

    Berwajah tirus
    Lengan berlubang
    Tanpa alas kaki
    Mantel penahan dingin
    Menahan kantuk
    Terus terjaga
    Luka serius
    Sekujur badan
    Engkau berdarah-darah dari antahberantah
    Terus berjalan
    Kehilangan
    Alamat pulang
    Atas nama baru
    Beban di pundak
    Tanpa alas kaki
    Lengan berlubang
    Engkau berdarah-darah dari antah berantah

    Antahberantah adalah lagu kedua yang di ciptakan Kubil. Suatu hari dia menelphone gue. Bercerita tentang lagu barunya lalu mengundang gue kerumahnya. Setelah memberitahu part bassnya pada gue, lalu kita memainkannya berdua dengan gitar akustik. Ketika Kubil memainkan part leadnya, seketika gue terkesima. Anak ini memang memiliki sound gitar yang khas.

    Lirik untuk lagu ini tidak seketika itu juga gue temukan. Selang beberapa hari kemudian. Gue menghabiskan waktu bersama kawan-kawan di gerbang TIM (Taman Ismail Marzuki). Malam kian larut. Pagi menjelang. Sekitar jam 3: 30 kami mulai merapatkan jaket karena dinginnya malam. Kepalapun telah berasa berembun. Namun ketika kita sedang berusaha melawan dingin, muncullah seorang gadis kurus tak beralas kaki. Berjalan tertatih dengan muka giting dan tatapan mata kosong. Tanpa jaket yang membungkus tubuhnya dia membeli Coca-cola dingin dan menenggaknya seketika. Kami semua terkesima. Kami semua tau dia adalah gadis junkie pemadat yang sering main di parkiran TIM. Otak kamipun sibuk dengan fikiran masing-masing. Gue berfikir dia pasti habis “make” karena lengannya berdarah. Kawan gue bergumam, dia pasti abis di “pake” secara bajunya gak lengkap. Kawan gue yang satu lagi berujar, gile yhe jam segini bisa minum Coca Cola si Saproy (pedagang asongan) yang dinginnya naujubilah. Kawan gue yang lain bertanya, kira-kira dari mana yha dia? lalu gue menjawab. Dia berdarah-darah dari Antahberantah.

    logo morfem
    Booking Contact: 0858 11 764 764 | Firman
    Morfem CD and Merchandise go to SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG