Author: admin

  • Lirik Indonesia Keren: DEDDY STANZAH / PARADOX

    Lirik Indonesia Keren: DEDDY STANZAH / PARADOX

    PARADOX adalah peninggalan terakhir Deddy Stanzah sebelum meninggalkan kita semua. Dirilis oleh DCU records tahun 2001. Deddy Stanzah adalah salah satu dari deretan list lirikus genius di Indonesia dan menurut gue lagu yang berjudul Paradox adalah lagu Deddy yg paling explicit dan mencerminkan kehidupannya. Walau beberapa musik Deddy Stanzah gak bisa mengejar kedahsyatan liriknya, Paradox merupakan komposisi yg pas. Lagu asoy, musiknya enak, liriknya keren Simak saja friend:


    Paradox

    Aku suka mabuk mabukan
    Otakku sering keracunan
    Badanku sering gemetaran
    Permisi ikut ke belakang

    Bila mataku bagai mata elang
    Rambutku bagai jilatan api
    Kulitku menembus pandang
    Takutpun jadi permainan

    Benci orang sok bersih
    Benci orang sok kaya
    Benci orang sok bener
    Benci orang sok keren

    Siang aku jadi mentari
    Malam aku jadi rembulan
    Aku sahabat kematian
    Selamat jalan kawan-kawan

    Laguku tak mau ketenaran
    Bajuku tak mau kebagusan
    Kawanku tak mau kebanyakan
    Permisi aku ikut ke belakang

    Benci orang sok tau
    Benci orang sok seneng
    Benci orang sok miskin
    Benci orang sok tau
    Benci orang sok bersih
    Benci orang sok kaya
    Benci orang sok bener
    Benci orang sok keren

    Deddy Stanzah

    In Memoriam Deddy Stanzah (14 April 1949-22 Jan 2001)

    Baca juga cerita gue ketika mendapatkan album ini:
    DEDDY STANZAH / PARADOX sebuah cerita singkat

     

  • Acreate 2014 dalam gambar

    Acreate 2014 dalam gambar

    Biarkan Gambar ini yg bercerita, gak perlu banyak kata-kata. Enjoy!

    The Upstairs

    acreate the upstairs

    spg a create

    white shoes backstage

    acreate selfie collage

    acreate selfie collage

    the upstairs backstage acreate

    white shoes onstage acreate

    bikinies backstage acreate

    bikinies acreate

    acreate jimi multhazam

    the upstairs acreate

    The Upstairs

    acreate sari pandu jimi

    photo by: Jimi Multhazam, Popomangun, Dhani Pratama

     

  • Acreate 2014 / Launching GoAheaPeople.com

    Acreate 2014 / Launching GoAheaPeople.com

    Kolaborasi Musik Independent dan Seni Kontemporer memang perpaduan yang pas!

    Itulah yg membuat gue menantikan Acreate. Karena acara ini berhasil mengolaborasikan musik independent dengan seni kontemporer dalam satu tempat. Kenapa bisa pas? Mungkin karena pola berkarya kedua komunitas ini sama. Kebebasan untuk keluar dari aturan yg baku. Liarnya mereka bermain-main dengan media. Hingga gaya bertuturnya hampir terasa sama. Dan itu yang terjadi di Acreate kemarin. Ribuan orang berkumpul memadati DeLaRossa pada tanggal 9 Maret 2014 silam. Bahkan masih ada beberapa ratus orang lagi yang gagal masuk De La Rossa, karena kapasitas penonton sudah melebihi batas normal.

    Puti Chitara A Create

    Penampilan pertama di Acreate adalah Puti Chitara. Seorang solois wanita yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Walau nampak penonton belum ramai, tapi yang menarik perhatian gue adalah ada satu fans Puti Citara yang trance, menari polka sendirian di tengah-tengah penonton yang terpaku mengamati.

    bikinies

    Setelah Puti Chitara, Bikinies naik pentas. Band yang di dominasi cewek-cewek ini merasakan pengalaman internasional ke Singapore bersama Puti Chitara untuk bermain di acara Identite pada tahun lalu. Dan penonton pun mulai ramai.

    a create

    Selain musik, para penonton juga bisa menikmati suguhan seni kontemporer di ruang pamer di seberang stage. Dalam ruang pamer di display karya-karya retrospektif berhawa kontemporer dari komunitas senirupa Ruangrupa dan komunitas photography Kelaspagi. Dari musik edgy sampai ke karya kontemporer? Benar-benar daya apresiasi kita di gempur habis-habisan.Selain musik dan pameran kontemporer, ada lah sedikit talk show mengupas sepak terjang para seniman kontemporer yang terlibat. Bagaimana mereka “Live The Passion” dan hidup dari itu. Ade Dharmawan, Anton Ismael dan Eric Wirjanata angkat bicara mewakili disiplin seni yang mereka geluti. Di sesi berikutnya Henry Irawan dan Gibran berbicara tentang rencana mereka mengunjungi Ropongi Jepang.

    Kalau elo mengikuti Acreate dari tahun lalu, mungkin elo merasa skalanya sedikit mengecil pada malam itu. Tenang Acreate akan hadir besar-besaran di bulan Agustus. Nanti di bulan Agustus bukan hal yang gak mungkin jika karya elo yang di display. Bahkan band elo yang ikut manggung , atau lo bisa ngedapetin pengalaman internasional ke Paris, Perancis . Langsung klik goaheadpeople.com my friend submit karya Visual, Photo, Musik dan Style andalan lo. Kita berjumpa di pesta besar Acreate bulan Agustus nanti.

    White Shoes and the Couples Company

    Balik lagi ke Acreate DeLaRossa Kemang, musikpun telah berkumandang lagi. White Shoes and the Couples Company onstage. Intro yang bagus, John Navid memulai aksi mereka dengan solo drum sederhana (yang sebenarnya cukup kompleks). WSATCC memang tergolong mumpuni kalau urusan gimmick panggung. Dan bukan kebetulan kalau setengah dari mereka adalah seniman kontemporer. Dan setengahnya lagi guru musik dan musisi klasik/kontemporer. Gila!

    Payung Teduh

    Setelah kita menyaksikan eloknya suara dan olah tubuh Sari dan kawan-kawannya di WSATTC. Suasana Acreate di ubah sedikit dengan naiknya Payung Teduh. Penonton lebih memilih duduk dan ikut ber-singalong dengan khidmat, mengikuti alunan suara Is yang syahdu. Tentram seketika Acreate pada malam itu.

    The Upstairs

    Dan sebagai penampil terakhir, gue bersama The Upstairs mengemban tugas untuk memanaskan suasana. Bagaimana caranya, Acreate harus gue rubah menjadi lantai dansa. Dan kerjasama yg kompak dengan Kubil/Pandu/Krishna/Beni berhasih mewujudkan mimpi itu.

    The Upstairs

    Pada lagu ke empat penonton akhirnya dapat di-pecah-kan! Fhuih. Suasananya meriah seperti tahun 2006 hahaha. Hey benar itu, kita harus kembali kepada hakikatnya bersenang-senang. Setuju dong. Semoga 🙂

    photo: Jimi Multhazam, Doc Acreate, Widiartono, Dhani Pratama

    photo-photo Acreate lain bisa di lihat di sini

  • Kolaborasi Musik dan Senirupa adalah Kunci

    Kolaborasi Musik dan Senirupa adalah Kunci

    Kita butuh banyak gigs yang mengolaborasikan musik dengan senirupa. Salah satunya adalah Acreate

    Bayangkan betapa asoynya mata kita kalo masuk ke dalam sebuah gigs yang ambience ruangannya sudah tertata dengan artwork-artwork yang saling berebut menggoda pandangan kita. Lalu di sela-sela terlenanya kita akan artwork yang terpampang tiba-tiba drum hit sudah terdengar. Intro musik memanggil untuk segera berkerumun di depan pentas. Beuuuuhhh sedaaap. Hal ini seperti tiada habisnya kita di manjakan dengan sounds and visions.

    homogenic acreate
    Homogenic Acreate 2013

    white shoes
    Whiteshoes and The Couples Company, Acreate 2013.

    Masih segar di ingatan gue ketika tahun lalu (4 Mei 2013, Balai Kartini) gue berkolaborasi dengan Henry Foundation di Acreate. Gue dan Henry bikin drawing dalam kertas besar lepasan yg di display diatas sebuah tembok.

    JIMIvsHENRY

    Lebih detailnya tentang kolaborasi ini lo bisa klik di sini. Yg lebih gilanya di sebelah gue adalah ruangnya anak-anak Gardu House. Setelah mereka menyikat seluruh ruang dengan Grafitty …

    gardu house acreate

    mereka pesta pora dengan DJ (yg gue luapa namanya) yg meremix Demi Tuhan “Arya Wiguna” dengan Dubstep.

    gardu house acreate

    Anjing pecah banget. Lalu di panggung utama ada The SIgit, White shoes and the couples company, Homogenic dan tentunya The Upstairs. Bisa di bilang acara ini adalah acara terpenting dalam daftar list gigs penting yg gue terlibat di tahun lalu.

    Gak terasa setahun sudah lewat. Acreate akan hadir lagi tanggal 9 Maret nanti. Walau gue gak di undang sebagai perupa tapi tetap berkontribusi bersama The Upstairs. Pada Acreate 2014 ini tetap menghadirkan kejutan-kejuta kesenirupaan. Pada 9 maret nanti di bidang senirupanya masih menampilkan komunitas senirupa eksentrik ke-kontemporer-kontemporeran bernama Ruangrupa dan kolektif photography Kelas Pagi. Gue pribadi gak bisa tampil biasa nih tanggal 9 nanti karena The Upstairs akan sepanggung dengan White Shoes And The couples Company, Payung Teduh, Bikinies dan Puti Chitara. Gile pasti luar biasa iki :p

    a create poster

    Catet di kalender lo, tanggal 9 Maret A-Create di De La Rossa, Kemang. Gratis!! (asal sudah 18 tahun tentunya)

    Tapi selain kita bisa bersenang-senang menikmati alunan musik keren dan gratis ini, tanggal 9 nanti juga merupakan Launching Go Ahead Callenge. Wah apa sih sebenernya Go Ahead Challenge? Go Ahead challenge adalah kompetisi artwork (meliputi Musik, Photografi, Senirupa dan Fashion) yang akan membawa elo ke Paris dan Milan untuk terlibat dalam art project yang ciamik dan bergengsi.

    Penasaran? klik aja GoAheadPeople.com terlebih dulu.

    Intinya dateng aja dulu ke De La Rossa tanggal 9 Maret 2014 nanti. Semua pertanyaan lo akan terjawab di sana. Kita bersenang-senang bareng White Shoes and The Couples Company, The Upstairs, Payung Teduh, Bikinies, Puti Chitara, Ruangrupa dan Kelas Pagi (khusus 18+).

    Photo: serbaserbikomunikasi.com, dailywhatnot.com, visualjalanan.org

  • Cerita Hadi Ardianto menjebatani Kolaborasi Dubyouth X Lord K.I.M.O.

    Cerita Hadi Ardianto menjebatani Kolaborasi Dubyouth X Lord K.I.M.O.

    Bermodal Niat, Tekad dan Nekat, Hadi Ardianto berhasil menjebatani kolaborasi Dobyouth dengan Lord K.I.M.O (ex Asian Dub Foundation)

    Di bawah ini adalah kumpulan tweet panjang Hadi Ardianto @toktokpetok ke akun gue (@jimijimz) tentang bagaimana dia dengan “Live The Passion” menjebatani sebuah kolaburasi besar lintas benua. Sangat menginspirasi. Mari kita simak bersama 😀

    photo: deathrockstar.info

    @jimijimz keinginan memajukan band indo ke dunia. Kepenatan, karena itu2 lagi yg di review media. Live The Passion #GoAheadMoment

    @jimijimz berawal perkenalan dgn gitaris @ADFofficial di akun FB. Bertukar cerita,referensi,tujuan utama dia menjadi musisi. #GoAheadMoment

    @jimijimz komunikasi trs dilakukan, hingga mencapai titik ingin mengundang mereka. Ternyata undang musisi luar itu sulit. 😀 #GoAheadMoment

    @jimijimz akhirnya gagal, guapun dikenalkan dengan KIMO. Ex former Asian Dub Foundation. Interaksi beralih ke KIMO. #GoAheadMoment

    @jimijimz dgn KIMO ga mau kehilangan kesempatan. Akhirnya karena keinginan awal tadi. Bernegosiasilah dgn dia. Agar bisa kerja sama.. #GoAheadMoment

    @jimijimz hasilnya, dia ga yakin dgn industri musik Indonesia. Menurut dia, di Indonesia pembajakan cukup memprihatinkan. #GoAheadMoment

    @jimijimz gua pun terus meyakinkan dia. N, gua minta izin sama @HERUWA . Untuk perkenalkan n promosikan @dubyouth_yk ke UK (kimo) #GoAheadMoment

    @jimijimz Beberapa teman, gua terlalu ngayal untuk menyatukan musisi Indo dgn Luar. Karena gua yakin, @HERUWA gua kenalin ke KIMO #GoAheadMoment

    @jimijimz entah apa yg mereka bicarakan. Akhirnya, keluar single #basstruck . good job, @HERUWA@dubyouth_yk @EghaEshayoga #GoAheadMoment

    @jimijimz senang? Pasti.. Bangga. Otomatis! Berhasil menyatukan musisi Indo dgn musisi UK. Pembuktian, gua ga ngayal. N gua bisa lakuin.

    @jimijimz byk yg bertanya, apa gua bayar kimo? Ngga. Bahasa inggris gua bagus? Ngga, google translate is my hero :D. Niat, tekat, nekat #GoAheadMoment

    @jimijimz KIMO senang, karena #basstruck byk peminatnya. Gak cuma di Indo tp beberapa musisi/produser di Perancis,Jerman,USA,Swiss #GoAheadMoment

    @jimijimz sempat jg ada yg nanya, kenapa bisa ngeyakinin musisi sekelas KIMO bisa kolaborasi sama @dubyouth_yk ?? N knp hrs @dubyouth_yk ? #GoAheadMoment

    @jimijimz gua blg, gua pgn ada kerja sama antara UK n Indo. Ga harus dgn politik. Tp dgn musik. Dgn musik kita bisa satuin perbedaan yg ada. #GoAheadMoment

    @jimijimz ditambah personilnya yg humble , @HERUWA n @metzdub . Ngebikin gua yakin akan promosikan mereka #GoAheadMoment

    @jimijimz gua jg ngeyakinin, bahwa dia kerjasama dgn musisi yg berkualitas. N single-nya akan blow up. *ini tos2an aja sih 😀 #GoAheadMoment

    @jimijimz ternyata benar! Hehe. Knapa pilih @dubyouth_yk ? Mereka prnh kerjasama dgn @chinesemanrec . Tur Euro. Itu ada porto yg sgt ok #GoAheadMoment

    @jimijimz ditambah personilnya yg humble , @HERUWA n @metzdub . Ngebikin gua yakin akan promosikan mereka. #GoAheadMoment

    @jimijimz ga cma disitu, @dubyouth_yk gua promo ke beberapa negara di euro.Perancis merespon dgn baik.kenalan dgn DJ/produser krak in dub.

    @jimijimz Krak In dub -pun, meremix single @dubyouth_yk , dancehall king. Setelah #IndoUK, lanjut #IndoFrance.. Bikin makin semangat #GoAheadMoment

    @jimijimz karena hal tersebut pihak Asian Dub Foundation-pun ingin kerjasama dgn Indonesia. Mereka ingin merilis album disini. #GoAheadMoment

    @jimijimz tp karena, single-nya gagal direspon oleh media. Merekapun batal merilis album melalui label di Indonesia. #GoAheadMoment

     

  • Reza “The Crossover” Afisina

    Reza “The Crossover” Afisina

    Jangan remehkan mimpi orang lain..

    Ada yang kenal siapakah orang ini:

    Reza Afisina

    Doi adalah seorang seniman besar my friend, kalo elo lebih focus kepada benda yg di bawa orang yg eksentrik ini, baiknya gue kasih gambar yang satu ini:

    Reza Afisina

    Nah plototin deh tuh wajah doi sepuas-puasnya. Seperti inilah biasanya wajah seniman kontemporer Indonesia. Potongannya sangat cutting edge. Doi sangat penting gue tulis disini. Nama lengkapnya Reza Afisina. Waktu kita masih kuliah, Reza memilih major sound di fakultas perfilman IKJ, sedangkan gue memilih major fine art di senirupa. Doi adalah kawan “favorit” di segala tongkrongan. Gak heran kalo dia punya kawan di tiap fakultas. Bagi gue Reza Afisina adalah salah satu kawan yang gue banggakan.

    Singkat kata kita sudah di ujung smester, dan sibuk mempersiapkan tugas akhir kuliah. Seperti biasa di jam-jam santai sore hari kami nongkrong di belakang kampus. Dari sekedar ngopi-ngopi sore sampai mengomentari kawan kami yang sedang asik bikin mural di tembok belakang. Tapi sore itu suasana cukup berbeda. Hanya sedikit mahasiswa yg berkeliaran. Dan gue cuma berdua si Reza di belakang saat itu. Tiba-tiba doi bercerita tentang rencana doi untuk pindah major ke fakultas senirupa. Apa?? Gue kaget karena waktu itu kita udah ada di semester akhir. Alasan dia saat itu hanya karena ada dorongan dari diri sendiri yang sangat kuat terhadap seni rupa, dan dia memilih buat meng-embrace bidang yang dia bener-bener pengenin.

    Bagi gue idenya ini GILA, bahkan menggambar saja dia gak beres. Menurut hemat gue jalan yang mau dia ambil sekedar ide impulsive. Tapi dia bercerita dengan serius. Dia sangat menikmati dan tertarik untuk mendalami Performance Art. Dia bercerita dengan berapi-api. Setelah mendengar detail panjang lebar ceritanya akhirnya gue cuma bilang, “Keputusan yang lo ambil ini harus jadi keputusan yg penting dan bukan main-main. But if you really want to embrace this opportunity, just go ahead!”. Saat itu Reza cuma bilang sama gue, tenang aja Jim kita lihat saja nanti. Seperti biasa dia akan mengakhiri pembicaraannya dengan memperlihatkan gesture yg bikin kita terpingkal-pingkal.

    Sejak pembicaraan itu dia sering membuat performing art di kampus. Ada-ada saja idenya. Dan semuanya jauh dari rongga fikir gue. Sampai akhirnya gue menyaksikan video performance art karya Reza yang berjudul WHAT! Pada sebuah peristiwa budaya di komunitas seni rupa Jakarta tahun 2001.

    Reza Afisina

    Ketika melihat video bikinannya ini gue cuma bergumam “anying udah jadi seniman ini orang!” Ternyata dia serius dengan keputusannya ini.

    Reza Afisina

    Dari performance art video dia yang berjudul What! ini, Reza Afisina sampai di undang oleh CEIA ke Belo Horizonte,Brazil, selama 3 bulan. Residensi untuk International Manifestation on Performance Art and group workshop. Pada tahun 2003. Kiprah kesenian Internasional Reza Afisina di mulai.
    Belum selesai sampai di situ. Tahun 2004 dia di undang Open Circle ke Mumbai, India. Untuk workshop dan art project di Cabin Baggage.
    Tahun 2006 dia terlibat di Gang Festival Project, Sydney Australia
    Tahun 2009 di undang ke Jerman dan Switzerland untuk ikut dalam Act Of Encoutering III
    Tahun 2012 terbang lagi ke Dublin, Polandia untuk menghadiri undangan European Performance Art Festival.

    Reza Afisina

    Ketika gue balik lagi ke scene percakapan kita di belakang kampus belasan tahun silam. Akhirnya kita cuma bisa kembali menegaskan, bahwasanya kita memang gak bisa menilai jalan fikiran orang lain. Reza Afisina telah membuktikan bagaimana “Live Your Passion” yang sesungguhnya. Dia nekad untuk “merasakan” gimana dirinya masuk ke suatu bidang yang baru. Dan saat ini karya performance art video Reza yg berjudul What! sudah menjadi koleksi museum terbesar di New York, Guggenhaim! Bersanding dengan karya maestro dunia seperti Picasso, Matisse dan lain-lain. Itulah mengapa kalau Reza Afisina adalah salah satu kawan yang gue banggakan ☺

     

  • Workshop Self Portrait, Galeri Cemara 6, Bienalle 2013

    Workshop Self Portrait, Galeri Cemara 6, Bienalle 2013

    Sabtu 30 November 2013, gue diundang Bienale 2013 untuk jadi memberikan workshop dan jadi pembicara bertema Self Portrait. Wiiih asoy nih. Acara ini juga hasil kerjasama dengan Sampoerna A yang mendukung kreativitas gila-gilaan tapi positif tentunya . Yang pasti gue gak jadi pembicara sendirian karena ada Oom Leo (Pixel Artist, Seniman Kontemporer dan Keryboardist Goodnight Electric) dan Agan Harahap (Photographer dan Photoshop manipulator hehe) juga yang akan memberikan workshop. Tentu saja gue bangga bisa berdampingan dengan ke dua orang nyentrik tersebut. Sebelum memberikan workshop kami bertiga menjadi pembicara talkshow dengan tema fenomena selfie di jaman sekarang. Dengan moderator yg gak kalah eksentrik Saleh Husein (seniman kontemporer dan gitaris White Shoes and the Couples Company). Bertempat di pelataran Galeri 6 Cemara yang syahdu, talkshow siang itu berjalan dengan santai. Selain bombardir ilmu, pengalaman-pengalaman pembicara lain juga sangat kocak untuk di simak. Rugi bener yang gak hadir pada waktu itu.

    workshop self portrait 2013

    Setelah talkshow, kami break makan siang sejenak. Lalu di lanjutkan dengan sesi workshop.

    workshop self portrait 2013

    Masing-masing pembicara memberikan materinya. Sepertinya materi gue paling simple nih. Gue hanya mengajak peserta workshop untuk menggambar self portrait sebanyak-banyaknya dengan material klasik di atas kertas. Lalu karya self portrait mereka gue share di dunia maya. Yoa gue punya niat untuk membanjiri timeline dengan karya self portrait mereka . Sukur-sukur mereka ketagihan dan mengganti kebiasaan selfie dengan kamera menjadi drawing hahaha…

    workshop self portrait 2013

    Setelah memberikan materi workshop peserta di bagi tiga bagian. yang ikutan workshop gue bisa mengambil peralatan material yg di sediakan sebelum eksperimen 🙂

    workshop self portrait 2013
    workshop self portrait 2013

    Sejenak gue nampak seperti dosen memberikan kuliah gambar bebas di kelas D3 SR #Tsaaahhh ….

    workshop self portrait 2013
    workshop self portrait 2013

    Suasana workshopnya pun seru. Nampak peserta cukup kaku dengan art material klasik seperti tinta china. Tapi kekakuannya itu justru yang ingin gue tampilkan. Karena kekakuan dalam menggarap self portrait bisa terlihat lebih artistic. Ngikutin semangatnya Sampoerna A untuk mengikuti kata hati. Mereka semua disini bebas bereskpresi menggambar self portrait sesukanya sesuai dengan keinginan mereka dengan perangkat yang gue sediain.

    workshop self portrait 2013
    workshop self portrait 2013

    Intinya, kami bersama Sampoerna A ingin menyampaikan pesan bahwa kita harus berani berekspresi dan menunjukkan passion di hidup kita.

    workshop self portrait 2013

    Berikut ini beberapa karya workshop yang menjadi favorit gue.

    workshop self portrait 2013
    workshop self portrait 2013
    workshop self portrait 2013
    workshop self portrait 2013
    workshop self portrait 2013
    workshop self portrait 2013

    Setelah workshop selesai, gambar di frame biar keren!

    workshop self portrait 2013

    Lalu kita coba print di Tshirt, mantaf kan!!!

    workshop self portrait 2013

    Bayangkan jika drawing self portrait menjadi trend di kalangan kekinian yang edgy, hipster, band rock, yg toku-toku, bahkan politis mungkin. Pasti Indonesia bisa berubah rupa jadi makin berseri J

  • Self Portrait riwayatmu dulu

    Self Portrait riwayatmu dulu

    Self Portrait dari masa ke masa 😀

    self portrait b Rembrant 1659

    Rembrant 1659.

    self portrait c Van Gogh 1889

    Vangogh 1889

    Self Portrait a Otto Dix 1913

    Otto Dix 1913

    self portrait d Edward Hopper 1930

    Edward hopper 1930

    self portrait Andy warhol 1966

    Andy Warhol 1966

    self portrait keith haring 1985

    Keith Haring 1985

    self portrait basquiat 1986

    Jean Michel Basquiat 1986

    self portrait 2009

    Jimi Multhazam 2009

    selfie 1

    2013 Selfie
    Bukan, nama cewek ini bukan Selfie. Tapi sebutan untuk pose self portrait dengan smart phone marak di sebut Selfie sekarang. Sejak awal 2000an setelah smart phone di luncurkan, budaya selfie semakin rekat dengan masyarakat kita.

    Nah gimana caranya supaya gaya “Selfie” elo kagak membosankan?

    Lo kudu ikutan workshop di bawah ini. Plototin tuh informasinya :p

    self potrait exhibition

    Gak di perlukan skill menggambar yang bagus. Apalgi koleksi art material yang mahal. Modal lo hanya tingkat Narsisme yang tinggi, dan niat untuk ber”selfie” dengan sentuhan Art Kontemporer saja.

    Gratis friend. Daftar saja 🙂

  • Puti Chitara, bisa jadi nama berikutnya

    Puti Chitara, bisa jadi nama berikutnya

    Asli gue gak tau menau tentang nama Puti Chitara sebelum ada acara Identite 11.1 yang diadakan oleh RSC sebuah collective musik yang dimotori oleh Razi Razak, aktifis musik di Singapura. Puti Chitara dikasih kesempatan ke Singapura karena doi aktif di #Aexchange dan perkembangan yang dicapai setelah hampir setahun bergabung dengan platform ini. Boleh juga nih. Pengalamannya patut di simak 🙂

    Identite 11.1 ini menjadi menarik perhatian gue awalnya karena ada nama Bikinies yg sempat gue lihat di akhir semester kuliah. Kerja keras mereka, hingga bisa mewujudkan mimpi musikal patut di acungi jempol (gorilla). Dan setelah menulis tentang The Bikinies, akhirnya gue di seperti di tarik medan magnet untuk menelusuri Puti Chitara 🙂

    Hal pertama yg di lakukan sebelum mendengar lagunya adalah browsing tampangnya hehehe…ehm!!

    Puti Citara

    Hmmm manis juga. Langkah berikutnya adalah mencari lagunya. Download ilegal hanya untuk para alay. Bukan gaya gue. Gue lebih memilih mencarinya melalui media streaming. Kalau seorang musisi memiliki niat yang serius dia akan memasang karya mereka di soundcloud/revebnation/bandcamp atau tempat lainnya. Ternyata Puti memilih soundcloud. Dan inilah salah satu lagunya

    Gue klik lagu Sweet Nightmare ini karena menurut gue lagu ini sangat girly. Hehehe kenapa begitu? Secara teori gembel gue melihat dari judulnya. Gue pernah menemui beberapa puisi dan karya drawing kawan-kawan pacar gue pada jaman baheula dengan judul serupa 🙂

    lalu gue telusuri lagi. Judul berikutnya cukup menggelitik relung hati 🙂

    Sarsaparilla Dream…kalau tadi Mimpi Buruk yang Manis sekarang Puti bercerita tentang Mimpi indah yang Manis. Wah luntur sudah semua problema gue hari ini 🙂

    Lalu gue telusuri lagu berikutnya..

    Judulnya menarik Snow In Summer, bukankah kalo kita pas-pasin hal ini masih mimpi juga (iya bukan?). Pemilihan judul yang menarik. Eh gue belum ngomong soal musik yha. kalo musik lo bisa nilai sendiri. kan udah gue share link Soundcloudnya.

    Yang pasti Puti Chitara sangat serius dengan karyanya. Doi rajin manggung sampe ikut festival. Doi juga sering manggung untuk acara yang didukung oleh #Aexchange sampai akhirnya dia dan Bikinies dapat international experience untuk main di Identite 11.1 di Singapura. #Aexchange sendiri memang merupakan platform Sampoerna A yang selalu mendukung dan memberdayakan talenta kreatif baru di Indonesia. Salah satu link andalan tuh tandanya (ye gak 😀 )

    Dan gilanya lagi Puti Chitara sudah punya website sendiri

    Puti Citara website

    Gile gak tuh. Ini baru yg namanya niat (berimbang dengan kegigihan) Perjalanannya sampe saat ini cukup menginspirasi buat gue (berikutnya juga elo). Buat lo yg lagi mulai ngeband gue rasa langkah Puti Chitara cukup mumpuni untuk di tiru. Bisa jadi dengan kegigihan dia sampai saat ini, bisa membuat dia menjadi nama yag akan di sebut masyarakat umum setelah Endah (endah N Rhesa), Sarasvati dan Frau 😀

     

  • kejadian penuh LOU REED di masa lalu

    kejadian penuh LOU REED di masa lalu

    Bisa di bilang penyangkalan kalau gue gak terkejut mendapat pesan whatsapp dari Pandu Fuzztoni mengenai berita wafatnya Lou Reed di tanggal 27 oktober 2013 dini hari. Terlalu besar gengsi gue untuk mengakui kalo gue bersedih pada malam itu. Tapi yg pasti fikiran terbang jauh dan mendarat ke peristiwa ketika gue masih kelas 3 SMP. Jalan Sabang Jakarta Pusat. Bersama rekan kerja kakak gue yang biasa gue sapa Om Amir, kita berdua mampir ke toko kaset Duta Suara. Saat itu gue lagi ngebet-ngebetnya buat membeli kaset Tesla, The Great Radio Controversy, karena baru saja melihat video mereka berjudul Heaven Trail (No Way Out) di tv swasta. Di rak new Release akhirnya gue mendapatkan kaset Tesla. Tapi si Om Amir malah mengambil sebuah kaset di sebelah kanan Tesla. Kaset itu bertuliskan Lou Reed / New york.

    Om Amir berkata pada gue, ini lebih bagus Jim. Sekilas gue kira Lou Reed sedang berphoto bersama 4 orang band pengiringnya. Dan paling kanan adalah pemain drum hahaha. Lugu sekali gue waktu itu.

    Lalu setelah membayar gue nebeng mobil Daihatsu Zebra Om Amir. Gak sabar gue langsung nyetel Heaven Trail (No Way Out) dari Tesla. Seru memang. Sampai sekarang pun gue mengakui lagu itu masih asoy di dengar. Tapi lagu lain di album tersebut? Ibarat gas scooter, ngempos my friend! Lalu Om Amir mengganti kaset Tesla dengan Lou Reed sambil terus nyetir mobil. Dan seketika berkumandanglah track pertama album New York dari Lou Reed. Lagu itu berjudul Romeo Had Juliet. Gila! Gue terkesima. Gitarnya Raw, Drumnya Mentah. berbeda banget dengan musik yg sedang trend saat itu. Vokalnya malah seperti membaca puisi. Lalu gue menoleh ke Om Amir. “Om, ini Rock N Roll yha?” Om Amir menoleh pada gue dan tersenyum. Wajah om Amir tirus, badannya kurus (sekilas seperti Rio White Shoes dengan wajah yg lebih Sumatra Barat). Lalu dia kembali konsen menyetir. Dan track kedua Halloween Parade berkumandang. Gue sekilas menangkap rasa kasih tak sampai tapi masa bodoh dari lagu ini.

    Bebearapa bulan kemudian gue menyaksikan Metallica main di grammy Awards (siapa yg gak suka metallica pada jaman itu?). Tapi saat itu The Best Hard Rock/ Metal performence justru di menangkan oleh band Prog Rock Inggris Jethro Tull. Ah gue sih gak ambil pusing atas kontroversi itu. Tapi saat itu perhatian gue justru tersita oleh salah satu karakter khas nominator yg wajah dan lagunya terpampang gede dan sekilas di TV. IGGY POP! Gue cuma bergumam dalam hati. mendengar sekilas soundnya. Dia pasti makhluk sejenis LOU REED.

    Trainspotting

    Tahun 1996 naik semester dua ketika kuliah di IKJ di putarlah film Trainspotting di ruang kuliah kampus. Selain scene opening dengan lagu Iggy Lust For lIfe. Scene overdose dengan soundtrack Perfect Day adalah dua hal paling berkesan dari film ini. Sejak itulah gue tenggelam dengan karya Lou Reed/Iggy Pop seraya mengecilkan celana gue seperti Renton. Dan mulai mengenakan kaus berukuran Extra Small dengan bawahan di potong sejajar pusar :p

    lou-reed-walk-on-the-wilds

    Jaman hidup menggembel di kampus membuat gue rajin mencari kaset bekas di Taman Jendral Urip, Jatinegara. Dan kaset The Best of Lou Reed / Walk On The Wild Side adalah harta karun buat gue. Semacam katalog untuk streaming karya-karya solo Lou Reed dan dua lagu Velvet yg di bawakan secara live. Kaset ini akhirnya jadi yg paling sering gue putar di antara tumpukan koleksi Punk dan Klasik Rock dari locker gue. Gue selalu berfikir, kelak gue akan menulis lagu seperti Lou Reed. Lalu gue lanjut melukis 😀

    Lou Reed 1st

    Perekonomian gue mulai membaik di akhir smester kuliah. Mulai transisi dari Kaset ke CD. Salah satu CD awal yg gue punya adalah album solo perdana Lou Reed.

    Wild Child adalah lagu pertama LouReed yg mengena dengan mendalam bagi diri gue. Liriknya naratif. Pejamkan mata ketika mendengar lagu ini. Tiba-tiba sebuah film yg humanis akan muncul di layar lebar otak kita 🙂

    lou reed songs for drella

    Buat yg kecanduan Rock n Roll album ini akan menjadi sulit. Tapi untuk anak Seni Rupa album ini bisa di katakan wajib. Album minimalist ini semacam tribute buat Andy Warhol. Liriknya semua bercerita soal Warhol, dari hidupnya sampai pola berkaryanya. Hafiz Rancajale yang pertama kali memutarkan kaset ini ketika persiapan pameran Jimi VS Henry 2 di ruangrupa lama (waktu itu masih berlokasi di Pasar Minggu). Sebuah percakan tentang seni kontemporer dengan soundtrack Lou Reed. Belum pernah lagi kejadian di hidup gue. Work dan Problem with Classicist langsung nempel seketika. Thank you Fiz 🙂

    lou reed Transformer

    Satellite Of Love, lagu yg paling berpengaruh besar secara lirikal di album ini. Satellite’s gone way up to Mars. Soon it will be filled with parking cars.I watch it for a little while. I love to watch things on TV. Barisan kata sederhana tapi menancap keras di kepala gue. Akhirnya dua kata tersebut satelit dan planet Mars gue gunakan di karya gue. Tentu dengan penempatan dan arti yg berbeda.

    Lou Reed Pass thru Fire

    Moment Lou Reed paling klimaks di hidup gue adalah ketika buku Pass Thru Fire masuk ke Indonesia. Saat itu hidup gue kembali bokek. Perkembangan digital print membunuh bisnis mural gue. Jadi penata artistik sinetron gak sudi gue lakoni. Gue melakukan pekerjaan-pekerjaan ajaib buat survive. Dan ada satu hobby baru gue. Gue seneng banget jalan kaki ke toko buku QB (RIP) di belakang gedung Sarinah dari kosan gue di jalan Kali Pasir (belakang TIM). Sambil nyetel discman berisi kompilasi Velvet dan Lou Reed gue duduk di sofa QB sambil membaca Pass Thru Fire. Selain di nikmati dalam lagu. Ternyata lirik Lou Reed juga nikmat di baca. Hal ini benar-benar menginspirasi gue. Lucunya di tahun berikutnya gue baru mampu membeli buku ini. Alhasil hampir sebulan hobby ganjil ini gue lakoni. Yang gue dapat cukup besar. Selain sensasi, juga cara menulis gue di masa depan.

    Dari penggalan-penggalan kejadian ini akhirnya gue tau apa yang membuat gue merasa dekat dengan karya Lou Reed. Doi menulis kejadian yg agak mirip dengan yang gue alami. Lou Reed menulis tentang bohemian. Pemain theatre muda yang idealis. Musisi yang mencari jati diri. Kehidupan hedonisme perkotaan. Seniman kontemporer nyentrik. Kawan-kawan yg terjerat hingga mati dalam drugs. Kehidupan seks bebas. Patah hati. Bokek. Jatuh cinta. Bahkan kehidupan yg mulai normal. Konsep menceritakan kejadian itu yg akhirnya gue serap.

    Selamat jalan Lou Reed. Terimakasih atas segalanya.