Author: admin

  • L’Alphalpha, dingin,nina bobo, dan mimpi

    L’Alphalpha, dingin,nina bobo, dan mimpi

    Gue mendapatkan album ini ketika Jude sedang soundcheck untuk mini launching album mereka di Hey Folks. Berbarengan dengan membeli CD The Milo. Hmm impresi pertama, covernya keren. Layak koleksi. Kolaburasi sukses antara Diani Apsari dan Yudhistira Mahendara dalam mengemas bentuk fisik dari L’Alphaalpha. Sesampainya di rumah pagi hari gue setel CD ini sembari memberesi kamar. Gue gak mendapatkan sensasi apa pun. Namun ketika malam, semua aktifitas tunai di lakukan. Gue kembali membuka album ini. AKHIRNYA! Gue bisa merasakan suasana yang mereka bangun. Sedap…. ternyata ada tiga cara menikmati album ini 🙂

    Cara menikmati album ini adalah, klik repeat all di player lo. Setel CD ini minimal 2 kali putaran. Kalo bisa berulang-ulang sampai tertidur. Nah lo rasakan lah sensasinya.

    Atau kalo memang gak punya banyak waktu. Klik repeat all. Mulai dari track 15. sampai ke lagu 14 selesai, lo bisa beraktifitas lagi.

    Jangan mendengarkan album ini cuma satu track. Karena lo gak akan merasakan suasana yang L’Alphaalpha bangun.

    Kalo lo setel dari track pertama dan berakhir di track nomer 15, maka efect yang timbul adalah…….”seorang bokap-bokap bercerita tentang dunia fana yang surealis. Bergulirlah waktu dari pagi hingga malam. Dan di tengah malam yang sunyi, anaknya kagak bisa tidur. Akhirnya si bokap berdongeng, dan si anak tertidur…..sunyi….nyenyak.

    Intinya album ini menggambarkan banyak citra di kepala gue. Dan semuanya sureal. Bagai Salvador Dali melukis untuk anak-anak. Dingin bersalju. Bukan tropis seperti kita rasakan esok ketika bangun pagi.

    Yah itulah mimpi, menurut terjemahan mereka

    Ciamik 🙂

    logo morfem
    Booking Contact/CD direct Selling:
    0858 11 764 764
    Twitter: @morfem_band
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

     

  • Grunge? Besok Bubar!!

    Grunge? Besok Bubar!!

    Besok Bubar, nama band yang selalu menggelitik gue setiap ada gigs. Sampai tulisan ini di bikin pun gue belum pernah nonton mereka manggung. Gue sempat berfikir mereka hanya band iseng, yang membubarkan diri setelah manggung. Tapi kok namanya hadir terus di setiap acara. Dan konon sudah memiliki penonton sendiri. Wedeh makin penasaran gue. Dan rasa penasaran gue semakin memuncak, ketika melihat CD mereka di Monka, Kemang. Karena gue kehabisan kompilasi legendaris Those Shockin Shakin Momment, akhirnya gue memutuskan membeli CD mereka. Dengan satu alasan. Covernya Keren!!!!

    Sampai di rumah gak sabar gue buka plastik pembungkus Cd dan Anjiiiing…..artworknya memang kelas wahid. Ternyata slevenya berbentuk panjang. Satu sisi menggambarkan suasana kota yang indah, damai sentosa. Sisi sebaliknya suasana yang sama dengan gambaran yang mengerikan. Sleeve panjang tadi di lipat 5, lipatan terakhir di jadikan cover depan. Impresi pertama yang menyenangkan. Gue sampe lupa memasukkan CD ke player. Setelah selesai terpesona, langsung gue puter tuh CD. Yoa, track pertama langsung jadi favorit gue. Di gas poll dengan lagu yang keras. Berjudul Besok Kita mati. Dari sleeve cover ini akhirnya gue berhasil mengkontak Amar. Vokalis, gitaris dan pencipta hampir semua lagu Besok Bubar. Dan ternyata mereka sudah ada sejak tahun 2005.

    Dari Obrolan gue bersama Amar di dunia maya akhirnya gue tau kalo ternyata album ini adalah album kedua mereka.
    Amar: “awalnya album kedua ini mau kita beri judul ‘Jakarta’ dan judul album itu ditumpahkan ke artwork yaitu satu sisi keadaan kota Jakarta yg indah, bersih, damai, yg semua orang idam-idamkan. Di satu sisi yaitu keadaan kota yg sebenarnya, brantakan, pembunuhan, bunuh diri,chaos, polusi dll. Dan karna hasil akhir artworknya kita suka bgt, kyknya sayang kalo artworknya ‘dikotori’ oleh judul album ‘Jakarta’, akhirnya ga usah pake judul album sajalah. Heheheh..”

    Suatu alasan penamaan album yang cukup nyeleneh hahah. Sukses buat Dwarvo dari komunitas Pearl Jam Indonesia yang telah membuat cover ini fenomenal.

    Sebenernya gue males menayakan kenapa di namakan Besok Bubar (pertanyaan paling membosankan bagi semua band) Tapi karena penasaran, gue tanya juga. Dan Amar menjawab dengan selebornya: “gue keceplosan nyebut ‘Besok Bubar’ saat itu mendaftarkan band kita di gigs komunitas Grunge,karna gw pikir bakal bubar lagi nih band. Hehehe

    Apakah musik mereka Grunge? Amar tidak menyangkal: Musik kita Grunge! Karna kita menganggap grunge itu ga da batasan dan bebas! Jujur aja kita ini bukan orang-orang yg hebat memainkan instrumen. Kita cuma ingin main musik dgn skill pas-pasan. Dan grunge-lah yg membuat kami pede. Kita bisa maen sekencang nirvana, atau se-dark alice in chains, atau se-rumit soundgarden, ataauu se-heavy TAD, heheh..tp yg kita mainkan skrg, ya grunge ala besok bubar. 😀

    Yoa setelah dua track kenceng di awal, mereka memainkan nuansa yang berbeda di track lain. Tema penulisan liriknya pun cukup menarik. Mengangkat realitas persaingan di Jakarta. Ambisi mengeksploitasi bumi, sampai tema kegep nge Gele, dan yang ngegep akhirnya jadi pengedar. Lirik yang marah sekaligus apatis.

    Album Besok Bubar keluaran Paviliun records ini memang paling pas buat penggemar Grunge dan Alternative 90an. Tapi gak menutup kemungkinan juga buat pendengar Metal. Karena sound mereka cukup berat di beberapa track. Kekurangan album ini cuma di back sleeve CDnya. Gue sampe bela-belain memotong sedikit sisi kiri kanannya, agar muat di trey CD. Dan melipat ulang, biar gak bergelombang seperti pertama gue dapat di toko CD.

    Layak untuk di koleksi 🙂

    logo morfem
    Booking Contact/CD direct Selling:
    0858 11 764 764
    Twitter: @morfem_band
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

     

  • Punk Hendrix

    Punk Hendrix

    Gue kembali membuka koleksi Jimi Hendrix gue setelah obrolan dengan komunitas Blues (biasa nongkrong di cafe areal Gallery Nasional) di Trax FM senin kemarin. Gara-gara mereka hampir seminggu ini play list di mobile mp3 player gue adalah Hendrix. Dan yang uniknya gue menamakan folder Hendrix gue dengan PUNK HENDRIX.

    Kalo membicarakan permainan gitar Jimi Hendrix, itu sudah jamak. Siapa sih gitaris paling berkarakter di dunia. Udah pasti Jimi Hendrix masuk nominasi pertama. Tapi kalo kita membicarakan lagu Jimi Hendrix yang punya aura PUNK, ini baru menarik.

    Playlist yang gue susun ini adalah pencampuran single dan nonsingle yang memiliki bassline dan ketukan drum yang bikin gue gak bisa diam. Mitch Mitcel dan Noel Redding memang jarang di bicarakan. Tapi mereka pemain yang bikin mood lagu-lagu ini bergairah. Bahkan di lagu She’s So Fine dan Little Miss Strange, Noel Redding mengambil alih vokal. Sssst sebenernya vokal Noel lebih ngpop di banding Jimi. Tapi justru gaya nyanyi datar nan ngeblues Jimi lah yang bikin aura Punk di lagu-lagu mereka.

    Gak usah banyak cakap. Coba putar lagu-lagu di bawah ini. Kalo lo gak bergoyang dan berubah menjadi seksi, tandanya lo harus segera periksa ke dokter. Pasti ada yang salah dengan selera elo

    🙂

    Punk Hendrix:
    1. Fire
    2. Foxy Lady
    3. Stone Free
    4. Crosstown Traffic
    5. Manic Depression
    6. Little Miss Strange
    7. You Got Me Floatin
    8. Aint’ No Telling
    9. She’s So Fine
    10.Can’t Wait Till Tomorrow

    logo morfem
    Booking Contact/CD direct Selling:
    0858 11 764 764
    Twitter: @morfem_band
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

     

  • Indonesia Berani Mati

    Indonesia Berani Mati

    Lama gak ke stasiun Cikini. Ternyata banyak pembaruan. Terutama di papan informasinya.

    Dan yang tidak berubah adalah….

    stasuin cikini
    Bukan hanya melintas. Bahkan berjalan di lintasan. Peraturan kadang di buat hanya untuk di langgar. Indonesia memang Punk Rock sejati. Dan pastinya Berani Mati

    🙂

    logo morfem
    Booking Contact/CD direct Selling:
    0858 11 764 764
    Twitter: @morfem_band
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

     

  • Album Terbaik Iwan Fals, Belum Ada Judul ’92

    Album Terbaik Iwan Fals, Belum Ada Judul ’92

    Iwan Fals sudah mencicipi beragam musik, dari Folk / Country bersama Willy Soemantry, Pop Rock bersama Ian Antono dan ngeband bareng Swami, Kantata Taqwa dan Dalbo, dan kembali (lebih) sederhana dengan Gitar dan Harmonica di album Belum Ada Judul ’92. Nah iki! album favorit gue. Gak perlu pengiring macam-macam. Gue cuma mau dengar Iwan Fals, gitar dan yang pasti celotehannya.

    Thank you buat Bravo Musik dan SKI records yang mereissue album klasik ini ke dalam bentuk CD. Walaupun track pertama ngegeol seperti kaset sering di rewind. Walaupun gak ada keterangan kapan di mana direkam. Siapa yang mixing, siapa producernya. Siapa pemain gitar tambahannya, atau cuma Iwan fals sajakah? Dan yang cukup mengganjal adalah remake cover yang seadanya. Burem boss. Mustinya Brafo Musik melihat desainer-desainer muda yang menggarap album The Milo, L’Alphalpha, Bangkutaman dan ehm Morfem. Jadi seharusnya CD ini bukan sekedar di beli, di grab datanya dan di buang covernya. Tapi bisa di koleksi dan menjadi barang keramat kelak.

    Tapi di luar kekurangan-kekurangan tadi. Gue bisa menikmati lagi lagu-lagu keren jaman gue remaja. seperti belum Ada Judul,Besar dan Kecil, Iya atau Tidak, Mereka ada di jalan, dan Di Mata Air Tidak ada Air Mata. Setiap susunan kalimat mendaki klimaks di tiap refrain dan ending lagu.

    Waaah kalo soal lirik Iwan Fals memang keren. Beberapa bait favorit gue…

    Iya Atau Tidak
    Bila hanya diam aku tak tahu
    Batu juga diam, kamu kan bukan batu

    Mereka Ada Di Jalan
    Anak kota tak mampu beli sepatu
    Anak kota tak punya tanah lapang
    Sepak Bola menjadi barang yang mahal
    Milik mereka yang punya uang saja
    Dan sementara Kita di sini
    Di Jalan ini

    Di Mata Air tak ada Air Mata
    Di tengah lagu suara ku hilang
    Karena hari semakin bising
    Hanya bunyi peluru di udara
    Gantikan denting gitarku
    Mengoyak paksa Nurani
    Jauhkan jarak pandangku

    Dan ini adalah lagu yang tak bisa gue potong satu bait pun. Track paling emosional. Bahkan Westerling pun akan menangis dengar lagu ini…

    Belum Ada Judul
    Pernah kita sama-sama susah
    Terperangkap dinding malam
    Terjerumus dalam lubang jalanan
    di gilas kaki sang waktu yang sombong
    Terjerat Mimpi yang indah…lelap
    Pernah kita sama-sama rasakan
    Panasnya mentari hanguskan hati
    Sampai saat kita nyaris tak percaya
    Bahwa roda nasib memang berputar
    Sahabat masih ingatkah…kau
    Sementara hari terus berganti
    Engkau pergi dengan dendam membara
    di hati…
    Cukup lama aku jalan sendiri
    Tanpa teman yang sanggup mengerti
    Hingga saat kita jumpa hari ini
    Tajamnya matamu tikam jiwaku
    Kau tampar bangkitkan aku…sobat

    Ampun, gue jadi inget mendiang sobat gue…Patar Ganesha Naiborhu

    😦

    Miss You My Friend

     

  • Sol Sepatu, sebuah Lorong Waktu

    Sol Sepatu, sebuah Lorong Waktu

    Sol Sepatu. Sebuah layanan tambal, jahit sepatu tradisionil yang familiar di tahun 80an. Dua kotak kecil yang di pikul. Satu berfungsi sebagai tempat duduk. Satu lagi sebagai tempat peralatan sol. Photo-photo ini gue ambil tahun 2011. Dengan Telephone genggam Balckberry type paling standard. Namun kalau kita amati, gambar ini seperti mengembalikan kita ke tahun masa silam.

    sol sepatu lorong waktu
    Kalau melihat fashion abangnya, gue justru inget anak-anak indies 90an. Topi pancing, kemeja dan longgar, dan celana gombrong, plus sepatu tenis. Dan sepatu yang di kerjakan pun, model 80an.

    kotak sepatu sol sepatu
    Ini dia kotak bagian depan. Berisi peralatan tambal jahit. Perhatikan rokok kreteknya. Benar-benar klasik.

    tukang sol sepatu
    Kotak bagian belakangnya di jadikan tempat duduk, menghadapi kotak peralatan

    sol sepatu brutal
    Hasil jahitannyapun cukup brutal!

    adidas tenis classic
    Inilah dia, sepatu Tenis klasik 80an reissue. Di tambal jahit sol sepatu keliling. Cuma di hargai 10000. Di lebih kan 3000 pun kita masih untung. Bayangkan berapa km abang ini berjalan untuk mendapatkan imbalan. Belum lagi harus setoran ke boss pemilik kotaknya. Belum lagi kepopulerannya telah tergeser gerai service sepatu di mal..

    Gue pilih sol sepatu, karena sensasinya seperti menembus waktu ke masa silam 🙂

    logo morfem
    Booking Contact/CD direct Selling:
    0858 11 764 764
    Twitter: @morfem_band
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

     

  • Nama-nama band gue dari jaman SMA

    Nama-nama band gue dari jaman SMA

    Triple Jerk
    The Blingers
    Dawalla
    Misery
    Still Dirty
    The Onky Alexander’s Wife
    Bequiet
    Jamaicunt Grinder
    Morvoids
    Jimi And The Playboys
    The Upstairs
    The Octobers
    Morfem

    Triple Jerk 1992
    Band SMA. Namanya improve dari Circle Jerk. Beranggotakan 3 orang. Gue (bass, Vokal), Tjahjo (gitar), Eric (drum). Covering band Punk. The Dehumanizers/Godmen Of The Future, Misfits/Hatebreeder/20 eyes, Ramones/Cant Get You Outta My Mind/Miracles?pet Cemetary, Nirvana/Son Of A Gun/Molly’s Lip/ Dive. Masuk studio aja sudah senang. Gak pernah di ajak manggung.

    The Blingers 1993
    Sebenernya ini cuma pelebaran band gue Triple Jerk. Agus seorang kawan. Selalu mencerca Triple jerk karena mulai membuat lagu. Dia berkata, “kblinger lo bikin lagu segala. kayak bakal ngetop aje”. Saking kesalnya akhirnya anak itu kita tarik jadi gitaris. Dan namanya gue ganti seenak jidat jadi The Blingers. Sekilas terdengar seperti The Breeders. Bodoh sekali.

    Dawalla 1993
    Inilah salah satu kebodohan gue berikutnya. Karena gue lihat ada tetangga baru gue gondrong dan celana nya strecth. Akhirnya gue mengajak dia memainkan Thrash Metal. Ceritanya mau naik kelas, dengan memainkan lagu yang lebih sulit. Lagu yang kita cover adalah Sodom/Remember The Fallen dan Versi Metallica/ Am I Evil. Gue masih main bass. Setiap tambah lagu gue di ajarin. Gak pernah bisa ngulik. Nama Dawalla di ambil dari tokoh wayang tumaritis. Dan penyebutannya sekilas seperti Diswalla. Band Alternative 90an. Namun keanehan terjadi ketika gue main ke rumah kawan gue tersebut. Dia menyebut poster Laaz Rockit di kamarnya sebagai poster Bon Jovi. Gilanya setelah menggubah lagu, lagunya terdengar seperti U’camp. Seminggu kemudian dia malah mengajak mengcover U’camp. Hah?? kampret!! Akhirnya gue silam. Cabut cantik. Ternyata gue satu band sama poser (kalo jaman sekarang namanya Alay)

    Misery 1994
    Ini termasuk band gue yang keren. Tiba-tiba gue mulai nyoba main drum. Lagu pertama yang gue kulik Anthrax/Antisocial. Lalu gue ketemu gitaris kamar. Tetangga gue yang lain. namanya Patar Ganesha. Karena dia ngefans sama Slayer namanya berganti menjadi Tom. Kawan-kawan gue memanggil dia Tompi. Si Tom ini jago banget. Dia khatam memainkan Megadeth. Tapi jarang punya band sukses. Misery adalah band bikinan dia. Covering Necrodeath, Sepultura sampai Metallica. Karena simpang siur akhirnya gue di tarik masuk. lagu yang di mainin Megadeth. Walaupun cuma album Youthanasia. Tapi gue bangga banget sebagai drummer. pas Soundgarden rilis Superunknown. Gue malah ngajak jadi Soundgarden cover band. Ngehe susah banget. Band ini akhirnya bubar. Patar aka Tom (RIP) gue nobatkan jadi sahabat gue. Kelak beberapa tahun yang akan datang gue membuat lagu tentang dia bersama the Upstairs.

    Still Dirty 1994
    Selain Misery gue juga bergabung dengan band yang isinya orang-orang doyang ngebo’at. Namanya Still Dirty. karena mainnya acak-acakan. Dan gue lagi sedang gandrung sama Sonic Youth / Dirty. Gue kasih nama aja Still Dirty sekalian. Awalnya kita covering Misfits dan AMQA. Tapi karena vokalisnya kacau. Akhirnya kita bikin lagu saja. Judulnya Paranoid. Gue akui, gue comot judul dari Black Sabbath. Tapi lagu ini sungguh berbeda. Dan yang pasti buruk. Hahaha

    The Onky Alexander’s Wife 1995
    Bosan bikin band di kavling. Dan gak maju-maju. Akhirnya tabungan gue cukup buat kuliah. Masuk IKJ. Ketemu dengan sobat kental Henry Irawan aka Batman aka Henry Foundation aka Dashenfo. Nama band ini di cetuskan oleh Batman. Gue jadi vokalis, batman main Drum, Bayu di Gitar dan Budjel pada bass. Lalu kita mengcover Faith No More/From Out Of Nowhere dan merecycle Cant Take My Eyes Off You versi Morten Harket yang di buat seperti Faith No More. Tentu saja band ini tidak sukses. Kelar manggung sekali, gue stress. Dan gak mau melanjutkan band ini lagi. Tengsin 😀

    Bequiet 1996-2000
    Inilah band serius pertama gue. Ketika di ajak gabung bequiet adalah band Cover Version Cranberries. Ketika di ajak bergabung gue sedang dalam kondisi putus asa di musik. Jadi drummer Cranberries kw juga gak napa deh yang penting asik. Formasi ketika gue ganbung Ekay/Gitar,Tio / Bass, Poppy/Vokal, dan gue pada drum. Latihan pertamanya cukup unik.
    Gue di bangunin Ekay ketika sedang tidur dikelas kosong kampus.
    Ekay: “Jim latihan yuk!”
    Lo bayangin, bangun tidur di ajak latihan. Bawain Cranberries band yang gak pernah gue dengerin sebelumnya.
    Jimi: ” Ah lo gila kay, belum ngulik gua!”
    Ekay: ” Nih gue bawa walkman, ada kasetnya”
    Gila maksa banget nih anak. Gue bangun sambil males-malesan. Ekay pun menyodorkan walkman Sony dan kaset Cranberries. Lalu gue meraih walkman, dan mengeluarkan kasetnya. Untuk di ganti dengan kaset Cranberries. Terkejut gue, ternyata di dalam walkman adalah kaset AMQA/Mutant Cat From Hell.
    Jimi: “Bah! kenapa kita gak bawain ini aja!”
    Ekay: “gue emang seleranya AMQA, tapi kalo nyari duit bawain Cranberries”
    Jimi: “Weits ada duitnya nih?”
    Ekay: “yoa…”
    Akhirnya tanpa sempat mandi gue jalan ke depan TIM sambil dengerin Cranberries di walkman. Lalu naik bis ke Cipinang untuk latihan.
    Kelak guelah yang merombak Bequiet. Memecat vokalisnya. Ganti dengan Asung yg warna vokalnya seperti Beastie Boys. Merilis dua album. Dan hampir setiap minggu main. Yang Gilanya….tanpa bayaran. Underground cing. Tekor di latihan dan rekaman. Akhirnya satu persatu dapat karir yg oke di bidang Desain Grafis. Dan Asung jadi Seniman Kontemporer. Dan gue luntang lantung jadi pelukis mural. Temen-temen gue sukses. Gue…cekak abis.

    Jamaicunt Grinder 1997
    Di sela-sela bequiet, adik kelas gue Bump Sickos, ngajakin gue gabung di Jamaicunt Grinder. Sebagai gitaris! Kampret gak tuh. Semua lagu di ajarin Bump. Musiknya Grind Punk. gue gak tau deh nama musiknya. Vokalisnya Are Cobor cenderung Scream. Ngeri amat nih band. Formasinya unik. Bump di Drums, Gue Gitar, dan Are di vokal. Tanpa Bass. Bising abis!

    Morvoids 1999
    Berbekal ilmu dari Jamaicunt Grinder. Gue balik ke kavling. Ke kawan lama gue Tom Ganesha. Lalu bikin lagu yang memadukan Punk dengan Grind. 8 lgu di rekam. Sayangnya masternya yang berupa kaset hilang. Salah satunya sempat masuk kompilasi Rebel Brothers. Dan lo tau apa judul lagunya? Judulnya….NGENTOT

    Jimi And The Playboys 2000
    Di sini gue bener-bener serius. Gue mulai jenuh dengan distorsi tebal. Sekarang selera Rock N Roll gue yang gue naikkan. Mengubur semua musik kenceng. Gue buka lagi Chuck Berry, Little Richards. Dan yang agak Modern Iggy Pop dan Velvet Underground. Formasi pertama cukup keren. Gue vokal, Ekay gitar, Vincent Rompies Bass, Desta 80’s Drums. Covering Iggy, The Troggs, dan Kingsmen. Semua personel menganggap band ini cuma momentum belaka. gak ada yg mau serius, tapi gue jalan terus. Cerita band ini sangat panjang. Gue akan menulis judul sendiri kelak. Tapi yang pasti Jimi And the Playboys adalah cikal bakal The Upstairs

    The Upstairs 2001-sekarang
    Inilah masa gemilang eksperimen gue. Gue lakukan hal yang gak pernah gue lakukan sebelumnya. Memasukkan unsur synth, dan drum elektrik ke musik Punk. Melakukan pola pikir New Wave di tahun 2000an. pertemuan gue dengan manusia ajaib bernama Andre “Kubil” Idris menghasilkan pencapaian yang lebih tinggi.

    The Octobers 2004
    Kalo ini cuma band sampingan. Bersama Ario The Adams, Ale dan Rio White Shoes, dan Beni The Upstairs. Semacam band top 40. Tapi memainkan rock nroll anthem. Seperti Kiss, The Damned, Buzzcock, Iggy Pop, The Kinks dll. Cuma hadir tiap bulan Oktober. Untuk acara kampus Oktaria di pantai Carita. Sempet main di BB’s. Setelah itu bubar. Dan Reuni di bulan Oktober entah kapan.

    Morfem 2011 sampai nanti
    Kalau ini sudah pasti masa depan gue. Gue kembali menjadi minimalis. Distorsi. Dengan team yang lebih muda. Ternyata gue sangat agresif dalam masalah berkarya. Gue butuh team yang sama agresifitasnya. Pandu adalah pilihan tepat. Freddie pilihan yang keras. Dan Bram pilihan yang rumit. Perpaduannya lebih Fun. Vibenya positif. Sederhana menusuk. Yoi…

    Berlagak Gila! hahaha….

    logo morfem

    Booking Contact/CD direct Selling:
    0858 11 764 764
    Twitter: @morfem_band
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

     

  • Haram! Pameran bersama Poison #1

    Haram! Pameran bersama Poison #1

    Poison #1 adalah pameran bersama ke dua gue di tahun 2011. Di laksanakan di sebuah gallery yang cukup mewah di Art District, Grand Indonesia east mall, lg. Sejak dari tanggal 31 March sampai 30 April. Waktu pameran yang cukup lama. Menyenangkan. Pameran bersama ini juga menampilkan karya PinkGirlGoWild, Emte, Monica Hapsari, Motulz, dan Ika Vantiani.

    Awalnya pameran ini bertujuan untuk di selaraskan dengan peluncuran buku Eunice Nuh aka PinkGirlGoWild berjudul Racun. Gue di kontak Eunice untuk berpartisipasi di kelompok ini. Judul pamerannya cukup oke. Poison. Walaupun kalimat pertama yang hadir di kepala gue ketika di tawarkan gabung adalah “Open Up And Say Aaah…” 🙂

    haram display

    Berminggu-minggu berlalu, belum ada ide cemerlang yang hadir di kepala gue. Hingga suatu pagi. Tujuh Hari sebelum pembukaan pameran. Twitter ramai oleh pembahasan tentang fatwa MUI tentang haramnya menghormat bendera. Sambil ikut nimbrung di dunia maya mengomentari komentar kawan-kawan gue yang serius amat. Tentu dengan bahasa bercanda gue, plus mencela ke kanan ke kiri. Hingga akhirnya terbersit ide “Haram” di kepala gue….

    hormat upload

    Eureka! Akhirnya datang juga ide gue untuk berpameran nanti. Haram. Hormat bendera di haramkan. Kopi luwak sempat di haramkan. Mengapa Pembajakan hak cipta (CD dan DVD) tak pernah di beri fatwa haram. Mengapa senjata tajam tidak di haramkan oleh dunia. Dan semoga Harim tak pernah mendapat pangkat Haram. hahaha…tinggal bagaimana mengeksekusinya.

    Karena tempat berpameran yang cukup lux. Akhirnya gue punya ide untuk menampilkan Haram dengan format poster. Seperti yang pernah gue lakukan di jalanan beberapa tahun silam. Gaya jalanan masuk ke ruangan dingin berAC. Jika elo membaca postingan ini sebelum tanggal 31 April. Segeralah datang ke Puri Gallery. Rasakan sensansinya.

    Berlagak Gila!

    Ha ha

    JM

     

  • Mataharinya Ada Lima

    Mataharinya Ada Lima

    NAISYA, Drawing 2011

    Inilah hal yang menarik dari gambar anak-anak. Ketika menggambar ini Naisya berkata “aku mau bikin mataharinya banyak”. lalu dia menggambar 5 matahari.

    Yeah pas sekali dengan suasana siang ini ketika upload. Panasnya tak berangin. Nasya masih berusia 4 tahun. Keponakan Jimi. Kita yang sudah dewasa gak punya nyali menggambar sebebas ini 🙂

    JM

     

  • Morfem Gigs: Main di Ruang Tamu Kawan

    Morfem Gigs: Main di Ruang Tamu Kawan

    Sebuah gigs bernama Hey Saturday ini sangat menawan. Bahkan unik. Bagaimana tidak. Nama acara Hey Saturday ini di laksanakan hari minggu. 27 Februari 2011. Karena hari sabtunya ada Earth Hour. Sebuah alasan yang keren. Pemilihan venue di Brewww, kemang juga cukup unik. karena setingan tempat di sana sangat nyaman untuk duduk dan ngobrol. Susunan sofa memenuhi seantero ruangan. Akhirnya suasana seperti di undang di rumah kawan, yang orangtuanya sedang pergi keluar kota. Walaupun penonton tidak larut dalam suasana hingga bersimbah keringat. Tapi gue sangat senang dengan acara ini 🙂

    morfem hey saturday
    Pintu Masuk Brewww, dengan Poster Hey Saturday

    morfem hey saturday
    Sebelum naik tangga, kita berjumpa dengan panitia. Masuk 35 000 dapet beer, tangan kosong 15 000. Hmm gigs yang murah. Dapet Fanzine lagi.

    morfem hey saturday
    Wow Fanzine!

    morfem hey saturday
    Udah lama banget gue gak megang Fanzine, baca sekilas, langsung gue bawa pulang!!

    morfem hey saturday
    Melangkah sedikit gue berjumpa Antolele. Pria eksentrik yang diimport langsung dari Jogjakarta.

    morfem hey saturday
    Wahhh gue tertangkap kamera Irockumentary, jangan-jangan berikutnya elo?

    Suasana Hey Saturday, Brewww/Kemang 27 Maret 2011

    morfem hey saturday

    morfem hey saturday

    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday
    morfem hey saturday

    Dan Akhirnya, MORFEM naik pentas

    morfem hey saturday
    wow main ruang tamu memang seru!

    morfem hey saturday
    Habis-habisan…

    morfem hey saturday
    Sampai terbang…

    morfem hey saturday
    Bising….

    morfem hey saturday
    Total!!

    morfem hey saturday
    Lumayan, di teprokin penonton…

    Setelah kami turun panggung. Old Paper naik pentas. Hati kecil sebenernya ingin larut berboogie woogie bersama mereka. Tapi apa daya besok paginya kita sudah harus ada di Hard Rock FM untuk wawancara. Pulang saja.

    Cukup puas main di Hey Saturday

    JM

    Telah Beredar CD MORFEM/Indonesia

    Morfem Contact: 0858 11 764 764 (Show’s Booking & CD’s Direct Selling)

    Follow Morfem Twitter: @morfem_band

    Morfem use:

    RADIX guitars

    CROOZ Apparel

    Photo: Agung Hartamurti Wirawan

    Enjoy Pilih Sidang Atau Berdamai Official Video

    Directed by: JIMI VS HENRY: