Author: admin

  • Playlist 17 Juni: Planet Bumi muncul kembali

    Playlist 17 Juni: Planet Bumi muncul kembali

    Waktu Nyoman (vokalis Planet Bumi) menitipkan sebuah CD utuk Sandra Ateria (MD Trax FM), gue tergelitik melihat cover depannya. Anjrit keren nih covernya. Akhirnya gue malakin Nyoman untuk meminta satu CD lagi untuk gue pribadi. Asli seneng gue. Sebelum gue mendengar isi CD ini, terlebih dulu gue kagum sama artwork sampulnya. Karya Wendi Talok aka Visualblah. Ornamen yang mengelilingi illustrasinya sangat keren. Sekilas gue langsung teringat dengan ornamen belakang sebuah kartu

    kartu

    Lebih jauh malah ingatan gue melayang ke ornamen album Suicidal Tendencies

    Suicidal Tendencies

    Eh Suicidal mah make latar belakang ornamen bandana yha, bukan kartu. Tapi semua itu cuma gambar-gambar yang berkelebatan di kepala gue ketika memegang artwork CD Planet Bumi. Karya Visualblah ini bener-bener steril dan gue terkesima di buatnya. Rasanya gak sabar pengen pulang dan memutar CD ini.

    Planet Bumi adalah band Indie Pop/Alternative Pop yang cukup lawas. Sejak 1996 mereka sudah aktif main di gigs-gigs underground/Indie ibu kota. Kita bisa sebut mereka sebagai band Indie Pop angkatan Poster. Dan The Worst of… adalah album ke empat mereka.

    Walau nama mereka tidak meledak secara komersial, tapi mereka tetap aktif main di gigs-gigs indie pop dan merilis album. Ini yang membuat Planet Bumi keren. Dan album ini adalah rekaman mereka yang paling cling di antara rilisan lainnya. Pengalaman rekaman dan kemajuan teknologi telah mengasah mereka rupanya.

    Track ke 7 menjadi favorit gue. Judulnya aja ngeri… Sindrom Dunia Peri. Dan satu lagi Musibah Besar Menanti juga menjadi nomor favorit gue. Secara lirik Nyoman memang senang memilih kata-kata bersayap penuh bias. Dari musiknya kalo lo suka The Smith, Oasis dan indie pop 90an lain lo pasti masuk banget dengan album ini.

    Ketika gue taya Nyoman, kenapa judul albumnya The Worst Of… Doi menjawab: “Sebnernya jembatan aja sih. Untuk The Best. makanya pake The Rest nanti The Bestnya…”

    Hmmm gue mangkap ada rencana merilis koleksi-koleksi lawas seteleah rilisan ini. Kalo susah mencari rilisan album ini jangan sungkan hubungi Facebook mereka Planetbumiband , twitter mereka @planetbumi atau Trampolinrecords. Sedaaaappp….

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Uses:
    Radix Guitars
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • 2 artefak bernama KEBUNKU

    2 artefak bernama KEBUNKU

    Gara-gara Arian 13 ngomongin kaset di twitter, gue jadi ngubek-ngubek lemari. Mecari kaset yang tersisa. Salah dua yang paling unik dari peninggalan kaset gue adalah rilisan D.I.Y. dari Kebunku. sangat menarik untuk di ceritakan.

    Desember Tahun 1999. Kebunku merilis album pertamanya. Kebunku / Demo Ca’ur. Di rekam secara Live di Studio K. Pondok Gede. Studio sejuta umat scene underground Jakarta 90an.

    kaset-kebunku

    Setelah proses rekaman, mereka menggandakan materi tersebut ke atas kaset. Dengan system tape to tape rumahan ke atas kaset C-15. Gue yakin mereka beli di toko kaset Duta Suara. Jl Sabang. Jakarta Pusat. Tanpa label apapun di kasetnya. Mereka menjual album ini seharga Rp 5000,- (kalau tidak salah). Di sebarkan di kampus mereka. Di tiap gigs. Dan kepada kawan-kawan terdekat mereka. Gue gak tau tuh, berapa keping berhasil mereka jual.

    Tapi yang menarik dari rilisan ini adalah artwork Sleevenya:

    kebunku demo caur sleeve art

    Di gambar langsung oleh Vokalis, Gitaris dan Penulis hampir semua lagu mereka. Johan. Artwork ini di gambar langsung di kertas hvs. Lalu di photocopy. Ukuran gambar di atur sedemikian rupa supaya pas memphotocopy , bisa dapat dua artwork dalam satu hvs. Di potong di lipat, lalu jadilah album. Satu album berisi enam lagu. Side A: Karimba, Mati, Monyet. Side B: Lari, Senang, dan… Cantik. Nanti kita bahas liriknya.

    Setahun kemudian. Mereka merilis album kedua. Di beri judul: KEBUNKU 2 Ca’ur Sedikit.

    kebunku 2 caur sekidit

    Masih gambarnya si Johan. Dengan image yang cukup provokatif. Gogon di atas bola dunia (tepatnya Indonesia). Merefleksikan musik mereka yg beraroma Punk Rock (hahaha). Masih enam lagu saja. Tetap di kaset C15. Tetap di photocopy. Side A: Jika, Aku, Wulan Guritno. Side B: Cinta, Skali, Nanti.

    Bagaimana sleve artworknya? Silahkan di nikmati

    kebunku 2 caur sedikit

    Keren abis. Tetep di gambar manual. Tanpa rekayasa komputer. Dengan perbandingan ukuran 100 %. Gila!!

    Itu baru artworknya bagaimana musiknya. Johan (Gitar, Vokal), Oki (Bass), Tombak (Drums, backing vokal) memainkan musik minimalis yg genius. Punk Rock ala Bad Raligion di mix Reggae (bukan Ska) dengan vokal lantang, serak. Termasuk berbeda pada zamannya.

    Yang paling membuat band ini be beda adalah cara bernyanyi Johan dan juga penulisan liriknya. Jangan remehkan judul mereka yang singkat-singkat itu. johan menulis lirik dengan emosi ber api-api. kadang frustrasi, kadang main hati. Tema lagu mereka memang keseharian. Kesal dengan orang tengil, sampai menyumpahi rumah mereka kebakaran (Mati). Godain cewe yang lewat (Cantik). Bahkan untuk musik Underground akhir 90an, gue yakin baru Kebunku yang dengan santai mengangkat tema Wulan Guritno. Dan pada lagu Cinta, Johan dengan gamblang melukiskan ketertarikannya kepada adik kelasnya. Yang kebetulan ber-ending Tepuk Sebelah Tangan. Oiya adik kelasnya itu bernama Sari. Yang kini kondang sampai ke Amerika dan Eropa dengan bandnya White Shoes And The Couples Company. Sebuah lagu cinta terkeren pada jamannya.

    Terus terang Kebunkulah salah satu pemicu gue untuk menulis lirik Indonesia di tahun 2001 bersama The Upstairs. Dan Kebunkulah yang membuka wahana gue tentang lagu cinta. Ternyata menulis lagu Cinta dalam bahasa Indonesia itu juga bisa jadi selebor, brengsek, dan tetap terdengar cool.

    Setelah rilis Kebunku 2, Ca’ur Sedikit. Kebunku sign kontrak dengan Green Label.Merekam materi lama mereka ke format yang lebih serius. Di produseri oleh Ivanka (Bassist Slank). Yang juga pemilik label. Rilisan masih dalam format kaset.

    kebunku lagu lama

    Setelah album ini rilis. Tawaran manggung membanjiri Kebunku. Bahkan Superman Is Dead pernah mengklaim kalau mereka mengidolakan Kebunku pada sebuah majalah remaja. Tapi di lain cerita, Johan malah memutuskan keluar dari Kebunku. Patut di sayangkan. Padahal kesuksesan sudah beberapa meter di depan wajah Kebunku. Gue jadi inget film Almost Famous jadinya.

    Sampai sekarang Kebunku masih merilis album. Dan masih bermain di scene lokal. Dengan vokalis baru. Masih terdengar enak sebenernya.

    Tapi gak bisa di pungkiri. Gue kehilangan gaya bernyanyi Johan yang sangat Indonesia dengan liriknya yang marah, frustrasi dan kasmaran.

    Bangga masih menyimpan 2 artefak musik cerdas Indonesia 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Uses:
    Radix Guitars
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 28 Mei: Memutar kembali Izzy Stradlin and The Juju Hounds

    Playlist 28 Mei: Memutar kembali Izzy Stradlin and The Juju Hounds

    Album solo Izzy Stradlin ini sempat menjadi favorit gue ketika lulus SMA. Yah walaupun gak meledak di sini. Tapi spirit Rock N Roll dan Punk Rock album ini bener-bener mengena dengan selera kuping gue. Melebur dengan sound 90an hardrock gondrong yang lagi marak-maraknya zaman itu. Sebelum di bantai sadis oleh Nirvana.

    Gue akui sebelum gue kesengsem sama Izzy Stradlin And The Juju Hound, gue lebih dulu ikut-ikutan menggilai Guns N Roses ketika SMP. Appetite for Distruction udah jadi salah satu album wajib di sekolah (selain Thrash Metal tentunya). Semua kawan cewek gue menggilai Axl dan jago-jago gitar di sekolah menggilai Slash waktu itu. Tapi karena gue bukan cewe dan gak jago gitar. Gue punya penilaian lain tentang GNR. Suatu hari gue datang ke rumah sohib. Di rumahnya terpampang poster gede GNR. Pada waktu itu kami para abg melihat poster ini keren sekali. Lalu gue googling, mencoba mengenang gambar itu. Ah ketemu! Coba kita lihat sekali lagi…

    Guns N Roses

    Hahaha klasik. Dan noraknya gue bersama kawan gue (bernama Chandra Manurung) sampai menggambar ulang poster ini ke bentuk cartoon. Setelah selesai menggambar ulang poster ini, gue menyadari. Ternyata orang paling keren di poster ini adalah Izzy Stradlin (bertopi hitam kedua dari kanan). Karena di album tertulis dia seorang pemain Rhytm Gitar, akhirnya gue mulai menerka-nerka permainan gitar doi. Ketika memutar kaset GNR. Kira-kira yang mana bunyi gitarnya Izzy yha. Hahahaha… Singkat cerita di rilislah double album GNR, Use Your Illution I & II …

    Use Your Illution

    Bah entah kenapa gue kurang dapet nih enaknya mendengarkan album ini. Padahal album ini meledak banget di Indonesia. Apalagi pertama liat video klip You Could be Mine. Ah finish nih GNR. Gebukan Matt Sorum yg pertama gak sreug di gue. Gue seperti kecewa lalu mengubur dalam-dalam GNR dari list favorit gue. Dan setahun kemudian kalo gak salah, Izzy hengkang dari GNR. Dan tiba tiba pada tahun 1992 dia merilis solo album.. Izzy Stradlin And The Juju Hound

    Izzy Stradlin And The Juju Hounds

    NAH INI DIA!!!! Sepertinya album ini menjadi jawaban atas kekecewaan gue dengan Use Your Illusion. Abum ini lebih kental banget pengaruh Rollingstones, The Faces, New York Doll, bahkan The Clash. Sepertinya itulah alasannya. Sempat terfikir, kenapa gak Izzy aja yg jadi konseptor Use Your Illusion yha. Gak mungkin lah hahaha..

    Ketika masuk lagu pertama Somebody Knockin, gue langsung setuju. Album ini enak. Nuansa Stonesnya terasa. Tapi lagu yang paling sering gue puter di album ini adalah Bucket Of Trouble. Maklum lagu ini Punk Rock banget. Gue curiga Rancid terinspirasi lagu ini ketika menggarap Fallback Down. Yoi Punk Rock tapi ada Hammondnya. Pas di lagu How Will It Goes, gue seperti mendengar ballada ala The Faces di blender dengan The Stones. Train Tracks? beh flamboyan banget nih. Seperti New York Dolls yang makin mahir memainkan Rollingstones. Di album ini juga ada Pressure Drop. Satu lagi lagu cover version Toots And The Maytals terbaik setelah The Clash. dan pastinya doi punya single ballada yang manis. Suffle It All.

    Puas sekali mendengarkan album Izzy Stradlin And The Juju Hound. Setelah mendengarkan album ini akhirnya gue menyadari. Sentuhan Izzy Stradlin lah yang gue suka di tubuh Gubs N Roses (plus gebukan Adler). Ketika GNR makin kenceng, gue malah berpaling hahaha. Hard Rock ternyata bukanlah jodoh kuping gue. Intinya pengaruh The Rollingstones dan Punk Rocklah selera yang Jimi banget. Sorry penilaian gue sangat personal. Dan tulisan ini bukan review. Ini sekedar Nostalgia 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Persamaan antara David Bowie, G.B.H, dan A.M.Q.A

    Persamaan antara David Bowie, G.B.H, dan A.M.Q.A

    Ketiga nama ini cukup berpengaruh dalam pemilihan selera musik gue. Ketiganya bernuansa berbeda. Bowie solois Inggris, bernafaskan Glam Rock. Muncul di awal 70an. Dengan ballada absurdnya. Dan image Ziggy Stardust yang benar-benar glamour. Sedangkan G.B.H. adalah band Street Punk Inggris awal 80an. Sakan mengganti Glitter dengan Spike, musiknya di geber lebih keras. Lain lagi dengan A.M.Q.A. Dari pinggiran Amrik dengan musik Thrash Metal yang di lebur dengan Punk. Musiknya lebih cepat lagi. Biasa kita sebut dengan Crossover. Dengan lirik humor. Penampilan yang lusuh. Seperti remaja yang jarang pulang kerumah. Dan tidur sembarangan. Kalau dari pendengeran perbedaan mereka sangat jauh terasa.

    Tapi ternyata ada persamaan diatara mereka bertiga. Perhatikan artwork illustrasi covernya. Perhatikan perspektif gedungnya. Nuansa warnanya. Bentuk jendelanya. Batu batanya. Sinar Kuningnya. Wuih…. Menarik yha. Bagaimana pendapat kalian 🙂

    David Bowie Ziggy Stardust

    David Bowie / The Rise and fall of Ziggy Stardust And The Spiders from Mars. 1972.RCA records. Photo: Brian Ward (BW). Color Retouch: Terry Pastor

    G.B.H

    G.B.H / City Baby Attacked By Rats. 1982.Clay Records. Illustrator Bob. C.

    A.M.Q.A

    A.M.Q.A / Mutant Cats From Hell. 1988. Ever Rat Records. Illustrator: Grim Pickens and Nose.

    Sedaff, tak bosan memandangnya. Menurut gue illustrator merekalah yang saling memengaruhi 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 5.20.12: TOTAL ANARCHY / Frustrasi Global

    Playlist 5.20.12: TOTAL ANARCHY / Frustrasi Global

    Rilisan Crossover terbaik dari Bekasi (2009) !!

    Gue lagi keranjingan Thrash Metal lokal friend. Dari pioneernya Roxx dan Rotor, hingga yang paling muda Social Black Yelling bergantian di puter di mini hifi meja gue. Lama-lama kenceng juga ini kuping hahaha. Tapi dari semua rilisan Thrash Metal lokal, menyeruak satu band Crossover yang mencuri perhatian. Yoi bener, band itu bernama Total Anarchy 🙂

    Mereka memang lahir dari scene Punk. Rilisan pertama mereka Natural Madness, asli Street Punk sejadi-jadinya. Namun di rilisan kedua mereka tahun 2009, warna Thrash Metal mulai bercampur dengan kegelisahan Punk Rock mereka. Jadilah album Frustrasi Global. Yang masih sedap di nikmati sampai sekarang. Wajarlah gue sebut mereka band Crossover sekarang.

    Yang menarik adalah Total Anarchy berhasil meramu kesederhanaan Punk dengan teknik Thrash Metal. Alhasil riff-riff mereka memang cihuy untuk mengiringi segerombolan orang yang turun melantai ke moshpit. Vokal Rudi sekilas seperti Scott Ian menyanyikan lagu Discharge. Kalo gak percaya lo denger aja track ke 4, Mental Disturbance. Benerkan! Apa kata gue hehe.

    Mental adalah satu-satunya lagu berbahasa Inggris di album ini. Itulah mengapa album ini jadi semakin menarik untuk di nikmati. GPK lagu lama dari album Natural Madness di remake dengan riff gitar Thrash. Masa Depan…??? track favorit gue. Penggunaan tiga tanda tanyanya mempertegas tema lagu ini tentang apa. Sampah Kimia, Amoral, Konstruksi Jaman dan Frustrasi Global juga termasuk nomor yang ciamik. Di track Frustrasi dan Diantara Kekacauan malah kita bisa mendengarkan permainan lead gitar yang cukup njlimet. Khas ala Thrash Metal. Sedaplah

    Total Anarchy

    Sebenernya tidak sulit untuk menemukan rilisan keren ini. Tinggal telephone Rudi di 085 31 30 60 182, transfer, trus CD sudah sampai di rumah lo. Dan bersenang-senanglah 🙂

    Ketika pertama kali menjadi host tamu di Radio Show TV One. Gue berjumpa vokalisnya, yang menjadi team artistik di sana. Wah sepertinya team kreatif Radio Show tidak menyadari ada harta terpendam di tubuh mereka. Dan nama itu adalah Total Anarchy

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 20 Mei: PURE SATURDAY jadi Art Rock dan Grey

    Playlist 20 Mei: PURE SATURDAY jadi Art Rock dan Grey

    tgl 5 Mei, gue sudah memegang ticket konser Pure Saturday, Grey, dengan hati nelangsa dan tatapan kosong. Anjiiiing kenapa konser ini bertepatan dengan janji pertemuan Morfem dan Brutal. Setelah menimang-nimang akhirnya ticket gue lepaskan. Karena pertemuan ini merupakan hajat hidup orang banyak. Dengan alasan gak mau egois, maka gue lepaskan kesempatan nonton PS di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru. Lalu berangkat meeting deh. Di perjalanan lagu The Smith dan Morrissey berkumandang terus menerus di mobil si Pandu. Tapi otak gue melayang, menggambarkan suasana di GKJ. Hiks 😦

    Satu hari berikutnya gue langsung meburu album ini. Lalu gue setel di mini Hifi kesayangan di meja kerja gue. Dengan menggunakan headphones (karena gue takut membangunkan Pijar) gue setel dengan volume kenceng..

    headphones

    Gile album ini di buka dengan komposisi klasik. Entah ini hasil komposisi anak-anak PS atau memang sudah ada komposisi seperti ini. Gue gak paham klasik. Tapi yang pasti di intro ini seperti sudah mewarning kita akan pengalaman-pengalaman yang terjadi di track demi track berikutnya.

    Track pertama Horsemen. Buset, keren. Suasana langsung berubah jadi nostalgia. Yoi friend, musik kayak gini mah waktu gue SD di sebut Art Rock. Refrainnya gue jadi inget Yes (dalam versi yang lebih ringan tentunya). Apalagi ada sentuhan Yockie Suryoprayogo di keyboards. Makin-makin deh Art Rocknya. Dan yang bikin tambah keren adalah ketika perpindahan ke track berikut ada efek-efek mindahin gelombang radio AM. yoi Radio AM karena kresek-kresek seperti ini gak bakal terjadi di gelombang FM. Lalu masuk intro drum Lighthouse…anjiiing keren. Lagu ini sudah sangat familiar di kuping gue. Karena sering di puter ketika gue siaran sore di Trax FM. Setelah gue baca sleevenya ternyata Rekti The Sigit jadi backing vokal di sini.

    Musim Berakhir, satu satunya track berbahasa Indonesia di album ini. Liriknya keren pas bagian…Oh Cakrawala Berselendang Pelangi…reflek gue menoleh ke anak gue yang sedang tidur di dekapan ibunya. Pas di sebelah gue. Gile puitis banget PS di track ini.

    Starlight, gile perasaan lagu ini gak kelar-kelar. Oh iya 6:52 cing. Ada sedikit noise hitar di bagian tengahnya. Liat di sleeve, eits, si Rekti lagi keluar.

    Utopian Dream, di kasih akustik sedikit. Peregangan khayal. Biar gak terlalu terbuai kita hehe. Cakep iki lagunye. Bagian favorit..Cold night has no pitty…Home is where i want it to be…..writingsong that i cant, belieeeeeeeeve…nanjak Satria NB..Nanjak 🙂 (eh ternyata ini suara Rekti, kata Hasief)

    The Air, The Empty Sky….bunyi keyboards yang di beri judul 0:52 menit saja 🙂

    Passepartout

    To The Edge

    Albatross:
    I. Candle Lit-Moonshine
    II. Embrace
    III. Dream A New Dream

    Wah skip gue untuk menulisnya lagi. Album ini membuat gue melamun. Asli. Sampai dimana tadi? Akhh…yang pasti album ini sudah seperti album Artrock saja kayaknya. Bukan indie pop hehe. Dan suara Satria NB makin merdu saja 🙂

    Warning: Kalo lagi banyak masalah jangan mendengarkan album ini 😛

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • artwork TRASH Indonesia masa kini, edan!!!

    artwork TRASH Indonesia masa kini, edan!!!

    Thrash Metal tanpa artwork album illustratif sepertinya kurang afdol. Begitu sih pengalaman gout di kala 90an. Zaman sekarang Thrash Revival sedang marak lagi, dan Indonesia kena dampaknya. Dan rilisan-rilisan Thrash lokal sangat keren dalam penggarapan artworknya. Sehingga ada kenikmatan tersendiri untuk memburu rilisan mereka (tsaaah bahasa gue dah ah 😛 ). Singkat kata mari kita nikmati 🙂

    bromocorah

    Bromocorah / Men666anas
    Illustrator: Riandy Kurniawan
    Track favorit gue: Pedal Pelana
    Ketika gue memebeli album ini, jujur gue gak belum pernah mendengar mereka. Apalagi nonton mereka manggung. Tapi artwornya menarik banget. Monster berwajah sangat Indonesia. Bertshirt Komunal, Hitam Semesta. Jaket Jeans buntung. Celana Jeans di potong sedengkul. Sepatu Kets tanpa kaos kaki. Membawa molotov di tangan kiri (walau secara logika susah juga nyetir motor berkopling seperti ini), dan yang paling epic… motor yang di tungganginya: RX KING!!!! Poll!!! Indonesia banget. Canggih Riandi.

    gravedancer

    Grave Dancers / Morbid Nation
    Illustrator: Denta Tok
    Track Favorit Gue: Dunia Dalam Neraka
    Sebelum mendengar album mereka, gue sudah familiar melihat artwork mereka. Dari Poster (yg terpampang di perpustakaan Ruangrupa), hingga merchandise Tshirt mereka yang sekilas gue jumpai bersliweran di sebuah acara. Secara musik menurut gue mereka lebih condong ke Crossover. Mungkin itulah mengapa artwork ini mengillustrasikan sekelompok pemuda (bergaya ala Crossover/Thrash) bertempur berhadapan dengan sekumpulan zombie berkerah rapi bahkan seragam polisi. Kalo di buka bagian sleeve dalamnya kita akan melihat kepiawaian Denta mengillustrasikan wajah/karakter orang Indonesia yg marah. Keren!

    gigantor

    Gigantor / Gigantor
    Illustrator: Barata Dwiputra
    Track Favorit gue: Rotten Soul
    Gue kurang paham nih sampulnya gambar apa. Sepertinya cockpit pesawat. Sepertinya Barata sedang menggambarkan kecepatan tinggi, gele, dan Hallusinasi. Ehm dan ada action figure Dimebag di sebelah kirinya sebagai extras. Lalu image tengkorak di depannya. Hukumnya wajib buat Thrash. Apalagi Gigantor haluannya lebih ke Speed Metal/Thrash 80an. Image tengkorak itu Fardhu Ain 🙂

    sby

    Social BLack Yelling / Mankind Under Condemnation
    Album Art: Oyoy, Diaz, Boni
    Track Favorit gue: Emosi Distorsi
    Gak di jelasin siapa yang menjadi Illustrator di album ini. Makanya gue tulis aja ketiga nama tadi. Dari semua album di atas SBY kurang sukses secara teknis Illustrasi. Anatomi dan perspektifnya bener-bener terdistorsi. Tapi justru itulah yang membuat image artwork ini seperti Underground Thrash. Hal menarik lainnya adalah pemilihan nama bandnya. Nama band ini kalo di singkat menjadi SBY. Entah yang mana duluan timbul, singkatan namanya atau nama panjangnya duluan 🙂

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 13 Mei: Belkastrelka, elektronikantik

    Playlist 13 Mei: Belkastrelka, elektronikantik

    Sebenernya gue dapet album ini di akhir tahun lalu. Gue bokul di lapak RRRECFEST, gedung Tan Ek Tjoan Cikini. Ketika Morfem juga bermain di acara yang sama. Kemasannya unik. Seperti mainan yang biasa di display dengan di gantung di tembok warung. Atau abang-abang keliling pada tahun 80an.

    Secara musiknya? Mereka memainkan musik elektronika pop. Yang biasanya musik elektronik itu simple dan enak buat jogetan, mereka justru menggunakan progresi chord yang cukup miring. Musik elektronik yang enak untuk di jadikan topik berwacana 🙂

    Judul lagunya juga keren-keren. Seperti Pujian Expatriat, Agen Gossip, Pertarungan Pinggir Selokan, Kampung Yang Tenggelam, Mitos Bangsa Ramah. Seru ye 🙂

    Kalo lo pengen tau band ini ebih jauh buka aja web mereka belkastrelka.tk. Walau informasinya cukup abstrak tapi nikmat di nikmati.

    Belkastrelka

    Dalam kemasannya juga ada bonus sticker. Sticker bergaya sticker urban, sedaplah pokoknya. Tapi masalahannya setelah gue selesai menyetel CD ini, agak repot untuk memberesinnya. Supaya bisa menjadi seperti kemasan semula. Terasa kurang praktis saja.

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • ke Hammersonic hanya untuk D.R.I.

    ke Hammersonic hanya untuk D.R.I.

    Inilah hasil dari mampir ke Hammersonic. Sabtu 28 April 2012. Lapangan D Senayan. Benar-benar Dirty dan Rotten. Pagi harinya ketika gue merendam Tshirt ini, pembokat di rumah langsung menggabungkan Tshirt kesayangan gue dengan kain pel!!! Untung sempat terselamatkan. Sebelum gue teruskan cerita ini, gue mau Flashback sebentar.

    Anthrax

    Yoi…Anthrax!

    Penantian 23 tahun terbayar sudah. Anthrax salah satu band papan atas untuk urusan Thrash Metal datang ke Jakarta. Main di Ancol 31 Maret 2012. Dengan sound yang mumpuni. Yang awalnya gue cuma niat nonton anteng, tapi ketika Caught In The Mosh di mainkan gue terjun ke mosh pit juga. Dan meledak ketika lagu Indian di mainkan, akhirnya setiap 2 lagu berselang terjadilah itu pusaran Wardance. Dan kita harus ikut circle pit untuk survive. Gue gak mau cerita banyak di sini. Yang pasti setelah Anthrax menyelesaikan encorenya, dan lampu di terangkan. Gue jadi agak sentimentil bersama beberapa kawan lama. Kita berpelukan. Agak norak memang. Tapi entah mengapa itu terjadi. Dan yang keluar dari mulut gue selalu….”akhirnya kita nonton yang ori friend!” Yoa secara puluhan tahun gue dan kawan-kawan lama hanya menyaksikan kw super Anthrax….yaitu ROXX. Tidak mengherankan jika malam itu kita larut dalam Euphoria.

    Perjalanan meremajakan diri berikutnya adalah Dirty Rotten Imbeciles alias D.R.I

    Hammersonic

    Hammersonic
    Gue udah memprediksi sound yang akan di hasilkan D.R.I. Makanya gue hanya datang untuk D.R.I. Karena secara band nomer sekian dari kavling Thrash Metal/Crossover mereka pasti datang dengan sound alakadarnya. Gue gak mau sound band lain yang gue tonton memupuskan euphoria penantian 23 tahun gue malam itu.

    Singkat kata gue udah di depan panggung Hammersonic. D.R.I setting alat. Ehm tanpa crew! Gitar bunyi sedikit mereka langsung memainkan Who Am I? Samasekali gak nendang. Lalu gue maju ke baris terdepan. Walau samar lama kelamaan soundnya beradaptasi juga di kuping dan gue pun larut dalam suasana. Paling tidak jauh lebih baik dari sound Misfits.

    D.R.I hampir memainkan semua nomer favorit gue. Dari Dirty Rotten Lp, Dealing With It (ini yang paling penting), Crossover, 4 of a kind, Thrash Zone, Deffinition pun di babat. Entah apa mereka memainkan lagu dari album Full Speed Ahead atau tidak (gue kurang familiar dengan album ini). Gue lebih berasa nonton band HC/Punk ketimbang band Crossover Thrash. Mungkin karena soundnya busuk sekali. Andaikata soundnya sekeren Anthrax entah jadi apa crowd malam itu 🙂

    Tapi itulah kehebatan nostalgia. Sound busuk bukan masalah. Semua bisa di akali. Penantian 23 tahun membuat semuanya jadi keren. Yang penting bisa larut, sedikit singalong, dan banyak moshing, slamming, dan circle pit hahaha…

    Reuni dengan kawan lama jaman SMA, Kuliah dan Poster Cafe juga patut di tulis.

    Malam itu gue berasa seperti anak SMA lagi. Tinggal nunggu SUICIDAL TENDENCIES mampir Jakarta. Maka gue sah di baptis kembali menjadi anak umur 15 tahun lagi hahahaha.

    Sepulangnya ke rumah gue rendem kaos gue. Mandi dan keramas. Tanah merah lapangan D Senayan bikin badan kasat dan dekil. Full Dirty dan Rotten.

    Siangnya ketika gue bangun, gue mendapati kaos kbanggaan gue sudah bergabung dengan kain pel di pelataran belakang rumah. Akhirnya gue meminta pembokat gue untuk merendam ulang kaos ini. Lo tau apa yang dia katakan
    “Wah maaf mas saya kira kaos ini udah mau di jadikan kain Pel (dengan logat jawa tengah khasnya)”

    Die gak tau apa, kaos ini udah di baptis sama Kurt Brecht 😛

    hammersonic-festival-2012-penonton-nggak-melulu-metalhead_articleimage

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD and Merchandise click SHOP
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG

  • Playlist 29 Maret: Edane / Kharisma Pancaroba

    Playlist 29 Maret: Edane / Kharisma Pancaroba

    Dulu, ketika gue masih kecil. Gue menghayalkan ada band rock dengan lirik Indonesia. Pasti keren kali yah, dalam bayangan gue. Walaupun pada saat itu banyak band-band pop rock berbahasa Indonesia. Tapi lirik lagu-lagu mereka cenderung klise bahkan parahnya menggurui. Ketika Roxx dan Rotor rilis, gue mulai merasa terwakili. Di susul dengan Edane, nah ini dia. Walau musiknya gak seekstrim dua band tadi. Tapi rilisan ke dua mereka,Jabrik , sempat jadi favorit gue. Dan ketika Aquarius me-reissue album ini ke dalam bentuk CD. Gue termasuk anggopta masyakat yang berbahagia. Karena album ke dua ini menyisakan dua anthem yang keren menurut gue. Dan gue kembali membeli album ini hanya unuk memutar track Pancaroba dan Kharisma.

    Pada credit tittle di sleve album ini tertulis: All song written, Arranged and performed by ‘Edane’ except lyrics. Dan kebetulan lirik kedua lagu ini di tulis Tantowy. Nah sampe sekarang gue belum tau siapakah Tantowy. Gue rasa peran dia atas kerennya ke dua lagu ini sangat besar. Karena musik yang sudah di komposisi bagus, tapi hancur di lirik, sudah pasti akan ngedropin mood. Selain menulis lirik dua lagu keren ini, Tantowy juga menulis di track Alam Manusia. Lagu in juga cukup keren, walau masih kalah seru di banding ke dua lagu tadi. Selain Tantowy, nama-nama lain seperti Sawung Jabo (wow doi menulis lirik berbahasa Inggris di sini), JP Patton, Tagor S, juga ikut sumbang tulisan lirik. Tapi paling keren tetep tulisan Tantowy my friend. Coba lo check penggalan lirik ini:

    Pancaroba

    Walau luka di urat darahmu
    Walau lahar di denyut nadi mu
    Di langkahmu beling berserakan
    Di Jalan nyawa tak bertuan
    Rasa bergolak menghantam batasan yang usang
    kau yeah meradang di cakrawala

    reff
    Kau derunya pancaroba
    Syairnya kenyataan
    Nafasnya kehidupan
    Bias keadaan

    Kau derunya Pancaroba
    Kau hidup di jiwaku
    Kau jiwa di hidupku
    Bagian duniaku

    Masa penuh tanda tanya
    Dan kecewa bagai detik bom waktu
    Jeritmu kudengar di celah pencakar langit
    Untuk siapakah nikmat merdeka?

    Hey ke sini, mari mari satukan segala rasa
    Agar sekokoh bukit barisan

    Wuih seru ya, seperti mengomando para pemuda yang gelisah kedalam barisan pancaroba. Satu lagi simak Kharisma. Temanya kurang lebih masih sama. Sebaiknya di baca sambil mendengarkan lagunya, dengan volume penuh. Biar makin meresap di nadi, tsaaaahhh….

    Kharisma

    Kita mata sang zaman
    Saksi prilaku peradaban
    Kita nafas sang waktu
    Yang menghembuskan kekuatan

    Janganlah kita mudah menangis
    lantangkan suara hati nurani
    Bakarlah slogan dan impian
    Beranikan menerjang rintangan hidup

    Disini semua senyawa
    Sempurnakan rasa
    Gemakan Kharisma

    Gerai rambut panjangmu
    bergelombang di cakrawala
    Rona alam kebebasanmu
    Menghampar sejauh pandangan

    Capailah puncak kehidupan
    Taklukkan cadas terjal yang menghadang
    Singkirkan kabut di fikiran
    Tegarlah bagai karang di lautan

    Disini semua senyawa
    Sempurnakan rasa
    Gemakan Kharisma

    Disini semua senyawa
    Hayati nuansa
    Udara terbuka

    Disini Semua senyawa
    Mereguk suasana
    Bebas dan Merdeka

    Itu liriknya. Kalo ngomongin musik mereka? Bah semua orang udah tau kehebatan Eet bergitar dan gaya gebukan Fajar Satriatama. Dan kawalan Iwan Xaverius juga menambah gahar komposisi mereka. Dan album keren ini di produseri sendiri oleh Edane pada tahun 1994. Sampai sekarang masih sedap di setel kenceng buat yang suka Heavy Metal atau Hard Rock. Sayangnya gue gak menemukan ephoria lirikal seperti lagu Kharisma dan Pancaroba di album terbaru Edane. Sepertinya mereka harus mengontak kembali Tantowy untuk menggarap album terbaru Edane berikutnya.

    Edane

    logo morfem
    Booking Contact: 0815 89 86 915
    Morfem CD, buy online at demajors.com
    Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
    Twitter: @morfem_band
    Morfem Use:
    Radix Guitars
    Crooz Apparel
    Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

    MORFEM DATANG SEMUA SENANG